Month: May 2014

Firefly In The Dark

Gambar

Frisca Freshtie Present …
.
.
.
** Firefly In The Dark **
.
.
.
Pengumuman!
Cerita ini adalah buatan saya sendiri. Dan cerita ini sangat abal seperti orang yang menulisnya. Oleh karena itu, jika terdapat typo, alur berantakan, cerita yang amburadul, dan lain – lain tolong dimaafkan ne. Frisca manusia biasa, enggak luput dari yang namanya salah. Mohon bantuannya ne chingu-deul. ^^
.
.
.
Pairing : KyuWook/Slight HyoKris, KyuMin
Rate : K+
Genre : Hurts/Comfort, Angs, Romance, Genderswitch, Abal, Gaje, Failed
Author : Frisca Freshtie
Cast : Cho Kyuhyun (Namja) >< Kim Ryeowook (Yeoja) >< Kim Hyoyeon (Yeoja) >< Kris Wu (Namja) >< Lee Sungmin (Yeoja)
.
.
.
.
Summary :
Ryeowook “Aku sudah menjadi bagian dari kegelapan dan aku tak akan bisa keluar dari kegelapan.”
Kyuhyun “Biarkan aku menjadi kunang – kunangmu. Akan kuterangi kau dengan cahaya dariku walaupun sedikit, akan ku tunjukkan jalan untuk keluar dari kegelapan. Percaya padaku.”
~ Firefly In The Dark ~
.
.
.
.
Panjang dan Pendek.
Kurus dan Gemuk.
Besar dan Kecil.
Bumi dan Langit.
Matahari dan Bulan.
Hitam dan Putih.
Air dan Api.
Aku dan … Kegelapan.
.
.
.
.

Seorang yeoja mungil berjalan menyusuri jalanan kota Seoul yang lenggang dengan tatapan datar, namun matanya seperti menyembunyikan banyak kerapuhan dan tekanan.
Ia mengenakan mantel hitam selutut dipadukan dengan celana jeans abu – abu. Ia juga mengenakan syal merah darah yang tergantung cantik di leher jenjangnya.
Saat ia berjalan, banyak namja – namja yang nakal melihat tubuh yeoja itu yang termasuk dalam kategori sexy itu walaupun sudah tertutup dengan mantel tebal berhubung ini musim dingin. Namun, seperti menutup mata, yeoja mungil itu tak mengindahkan kehadiran mereka. Ia terus berjalan dengan muka datar.

Setelah lama berjalan, akhirnya yeoja mungil itu sampai di rumahnya.
Ia membuka gerbang rumahnya dengan tatapan datar, setelah gerbang terbuka ia segera masuk dan menutup gerbang itu kembali masih dengan tatapan datar.
Lalu, ia membuka pintu rumahnya dan masuk begitu saja tanpa berkata apa – apa.
Setelah berada di dalam rumah, ia melepaskan sepatu musim dinginnya dan menggantinya dengan sandal rumah. Lalu, ia menghidupkan lampu dengan menekan saklar.
Klik
Suara saklar ditekan terdengar nyaring di ruangan itu. Ruangan yang gelap berganti menjadi ruangan yang terang dan menampakkan seorang yeoja berambut blonde dengan raut wajah kecewa menatap yeoja mungil itu dalam diam.
“Aku pulang.” Ujar yeoja mungil itu dengan nada sedikit lembut, namun raut wajahnya masih datar. Yeoja berambut blonde itu hanya diam, matanya menyiratkan kekecewaan dan kesedihan yang teramat sangat.
Yeoja mungil itu berjalan menuju kamarnya, melewati yeoja berambut blonde itu begitu saja tanpa kata – kata dan tanpa ekpressi sedikitpun.
Saat yeoja mungil itu hendak memutar kenop pintu kamarnya, yeoja berambut blonde itu memanggilnya.
“Eonnie ..” panggilnya sambil menatap punggung yeoja mungil itu.
Yeoja mungil itu diam, ia tak meneruskan kegiatannya tadi. Ia hanya diam dan tak membalikkan badannya sedikitpun.
“Eonnie .. ku mohon berhenti!” ujar yeoja berambut blonde itu dengan mata berkaca – kaca.
Yeoja itu hanya diam mendengar ucapan yeoja berambut blonde tadi dengan tatapan datar.
“Ku mohon berhenti! Berhenti dari pekerjaan hina itu!” ujar yeoja berambut blonde itu dengan nada sedikit keras dari tadi.
Hening, yeoja mungil itu tetap diam.
“Aku tak bisa.” Ujar yeoja mungil itu dengan tegas tanpa ekpressi dan tanpa membalikkan badannya untuk melihat yeoja berambut blonde itu setelah sekian lama diam. Lalu, yeoja mungil itu membuka pintu kamarnya. belum 1 langkah yeoja mungil itu masuk ke kamarnya, yeoja berambut blonde itu berteriak padanya.
“Wae? Wae eonnie? Wae? Katakan padaku kenapa! Kenapa tidak bisa!!?!?!?” teriak yeoja itu dengan kesetanan, setelah itu bahunya bergetar. Ia menangis sesengukan. Namun, yeoja mungil itu tetap diam. Ia tak bergeming sama sekali.
“Berhentilah dari pekerjaan hina itu eonni! Ku mohon berhenti! Apa yang kau harapkan dari pekerjaan hina itu eonnie? Katakan padaku! Sungguh aku muak! Aku muak! Aku muak melihatmu diantar oleh banyak namja tak tahu malu itu! Aku jijik melihat semua pakaian – pakaian malammu yang kau kenakan! Aku tak suka! AKU TAK SUKA ORANG – ORANG MEMANGGILMU DENGAN SEBUTAN WANITA MURAHAN!” pekik yeoja berambut blonde itu tak sanggup menahan emosinya.
Yeoja mungil itu menghembuskan nafas berat. “Pergilah tidur Hyoyeon, ini sudah malam.” Ujar yeoja mungil itu dengan lembut namun masih dengan raut wajah datar, lalu ia masuk ke kamarnya dan menutup pintunya.
Yeoja berambut blonde itu yang dipanggil Hyoyeon hanya bisa menatap tak percaya dengan berlinangan air mata.
“Wookie eonni, kau berubah.” Lirihnya pilu.

.
.
.
.
Aku berjalan menyusuri jalan setapak takdir milikku.
Entah sudah berapa banyak aku naik turun pegunungan.
Entah sudah berapa banyak air yang telah kuselami.
Entah sudah berapa banyak jejak kaki yang ku tinggalkan.
Banyak wajah – wajah yang ku temukan dari perjalananku.
Dan sekarang kakiku tengah berhenti di hadapanmu.
Ku pikir aku akan singgah sejenak atau selamanya untuk menunggumu menerima uluran tanganku.
.
.
.
.

Seorang namja berkulit putih pucat dengan kaos kasualnya tengah duduk di sebuah kafe di tengah kota. Ia memandang jalanan kota Seoul yang ramai.
Kring ..
Bunyi lonceng pintu yang berdenting karena gesekan pintu cafe. Namja itu mengarahkan matanya ke pintu masuk kafe, dan namja itu seketika langsung terpaku dengan objek yang dilihatnya.
Ryeowook berjalan menuju meja di depan namja tadi yang masih memandangnya dengan tatapan kagum.
Ia duduk dengan anggun, lalu ia memanggil salah satu pelayan kafe untuk memesan.
Namja itu terus memandang Ryeowook dengan tatapan kagum. Karena meja Ryeowook berada di depan namja itu, jadi namja itu bisa melihat dengan jelas wajah Ryeowook yang cantik itu.

Sudah lama namja berkulit putih itu memandangi Ryeowook, dari memesan, menerima minuman yang ia pesan sampai kegiatan Ryeowook sekarang, ia tengah meminum secangkir kopi hangatnya.
Suasana kafe itu begitu sepi, mengingat ini baru jam 9 pagi waktu setempat. Hingga, seorang yeoja berumur 30-an keatas datang.
“DASAR WANITA MURAHAN!” pekik nyonya itu sambil menampar pipi Ryeowook dengan keras.
PLAK
Suara tamparan itu terdengar nyaring.
Semua orang yang ada di kafe itu membulatkan matanya dan membuka mulut mereka lebar – lebar.
Ryeowook memegang pipinya yang panas karena tamparan nyonya tadi dengan tatapan datar seperti tak terjadi apa – apa.
Nyonya tadi yang melihatnya langsung naik pitam.
“HEH! WANITA MURAHAN! BERANI – BERANINYA KAU BERSIKAP SEPERTI ITU PADAKU! DASAR WANITA JALANG! TAK TAHU MALU!” ujar nyonya itu kesal bukan main sambil menyiram wajah Ryeowook dengan kopi hangat milik Ryeowook.
Ryeowook tak bergeming, ia hanya menutup matanya dengan kesal.
“RASAKAN ITU! KAU WANITA YANG TAK PANTAS HIDUP! KAU SEHARUSNYA MATI SAJA! BAGAIMANA ORANG TUAMU MENGAJARMU? ORANG TUAMU PASTI JUGA ORANG – ORANG RENDAHAN SEPERTIMU! MEREKA SEMUA TAK PANTAS HIDUP! DASAR PELACUR!” ujar nyonya itu dengan senang.
Ryeowook membukai matanya, kali ini matanya menyiratkan kemarahan. Ryeowook menggebrak meja dengan kasar.
“TUTUP MULUTMU ITU NYONYA.” Ujar Ryeowook marah.
Nyonya itu berkacak pinggang menantang. “Memangnya aku salah? Aku benar kan? ORANG TUAMU RENDAHAN!” ujar nyonya itu mengejek.
Plak
Ryeowook menampar pipi nyonya itu dengan keras.
“JAGA MULUT ANDA NYONYA!” ujar Ryeowook sambil mengambil tasnya dan meletakkan uang untuk membayar pesanannya tadi di meja. Ryeowook melangkahkan kakinya untuk keluar dari kafe.
Baru beberapa langkah Ryeowook melangkahkan kakinya, nyonya tadi menarik rambut Ryeowook yang panjang itu dengan kasar sehingga membut tubuh Ryeowook ikut tertarik.
“Aww ..” ringis Ryeowook kesakitan.
“DASAR PELACUR! TAK TAHU MALU! BERANI – BERANINYA KAU BERMAIN DENGAN SUAMI ORANG! DASAR WNAITA JALANG! MENJUAL TUBUH HANYA UNTUK UANG! DASAR PELACUR! KAU WANITA RENDAHAN!” bentak nyonya itu sambil menjambak rambut Ryeowook kuat – kuat.
“Aww …” erangan Ryeowook semakin menjadi ketika jambakannya semakin kuat, bahkan Ryeowook menitikkan air mata saking sakitnya.
“DASAR WANITA HINA! JAUHI SUAMIKU! DAN PERGILAH KE NERAKA! DASAR PELACUR!” ujar nyonya itu kasar.
“HENTIKAN NYONYA! INI TEMPAT UMUM!” pekik namja tadi mencoba melerai keduanya dengan memegang tangan nyonya itu.
“TIDAK! AKU TAK MAU! ANDWAE! TAK AKAN! BIAR DIA RASAKAN AKIBATNYA JIKA BERMAIN DENGAN SUAMIKU!” ujar nyonya itu semakin menjambak rambut Ryeowook dengan sangat kasar.
“Aww …” Ryeowook merasakan sakit yang luar biasa.
“NYONYA! DIA KESAKITAN! LEPASKAN!” pekik namja itu lagi mencoba melerai.
“ANDWAE! TAK AKAN! BIARKAN DIA KESAKITAN!” pekik nyonya itu ngotot.
“Aww ..” erang Ryeowook kesakitan ketika nyonya itu kembali menjambak rambutnya dengan sangat kuat.
Lalu datanglah 2 orang security yang menjaga kafe, mereka menarik tubuh nyonya itu dengan paksa sehingga membuat cengkraman tangan di rambut Ryeowook terlepas.
“LEPASKAN AKU! LEPASKAN! LEPASKAN! BERENGSEK KALIAN SEMUA!” berontak nyonya itu dengan kesetanan, dengan sekuat tenaga 2 security tadi mencoba menahan nyonya tadi.
Ryeowook terjatuh lemas ke lantai dan namja tadi menangkapnya dari belakang untuk sandaran Ryeowook.
“AWAS KAU PELACUR! WANITA RENDAHAN! KAU AKAN MENERIMA BALASANNYA!” teriak nyonya itu sebelum dikeluarkan secara paksa dari kafe.
Ryeowook mendengus kesal sambil menolehkan kepalanya ke samping mendengar kalimat yang dilontarkan nyonya tadi.
“Apa agashi tak apa – apa?” tanya namja tadi.
Ryeowook hanya diam sambil merapikan barang – barangnya yang berserakan karena pertengkaran tadi.
“Apa Anda ingin saya antar pulang?” ujar namja itu dengan tulus mencoba membantu Ryeowook.
Seperti menutup telinga, Ryeowook malah berdiri dan namja itu tentu saja membantu Ryeowook berdiri dengan memegangi kedua tangan Ryeowook agar tak terjatuh lagi.
“Oh ya, namaku Kyuhyun …” belum sempat namja tadi melanjutkan kalimatnya, Ryeowook menyelanya.
“Singkirkan tanganmu dari tubuhku tuan!” ujar Ryeowook dengan ketus, mendengar itu Kyuhyun segera melepaskan tangannya dari tubuh Ryeowook, setelah terlepas Ryeowook dengan raut wajah sedikit kesakitan berlalu pergi.
Kyuhyun menatap tak percaya pada punggung Ryeowook yang semakin hilang.
“Dia sangat rapuh.” Ujar Kyuhyun iba.

TBC

.

.

.

.

Anyeooong chingu-deul …

Gak pengen panjang lebar, ini ff aku buat untuk gantiin I’m Sorry, I Can’t Be Perfect yang akan tamat.

ISICBP udah aku proses, mungkin besok aku post. Tungguin ya 😉

Gomawo.

Review ne ^^

With LOVE! ~Frisca

Advertisements

LOVE Is CRAZY 4

Gambar

Frisca Freshtie Present …
~~~@@@~~~
..
..
L O V E Is C R A Z Y
..
..

Pairing : KyuWook/Slight YeMin, SiBum
Rate : T
Genre : Romance, Friendship, Comedy, Abal – Abal, Absurd, Gaje, Failed!
Author : Frisca Freshtie
Cast : Cho Kyuhyun (Namja) >< Kim Ryeowook (Yeoja) >< Kim Yesung (Namja) >< Lee Sungmin (Yeoja) >< Choi Siwon (Namja) >< Kim Kibum (Yeoja) >< Lee Donghae (Namja) >< Henry Lau (Namja) >< Lee Taemin (Yeoja) >< Shim Changmin (Namja)

.
.
.
.
WARNING !!!
Pengumuman .. diberitahukan kepada semua pembaca bahwa cerita ini benar – benar abal. Dan cerita ini berasal dari apa yang ada di kepala saya.
Karena saya adalah gadis biasa, jadi tolong maafkan saya dan ingatkan saya, karena cerita saya penuh typo berserakan.
Siapkan lahir dan batin ne. 😉
Terima kasih atas perhatian Anda semua.
SELAMAT MEMBACA ^^
.
.
.
.

Summary :
Cinta itu Gila! Sebuah pertemuan yang akan menaikturunkan dan menjungkirbalikkan dunia mereka dan perasaan mereka. Sebuah pertemuan yang akan membawa banyak sekali bunga – bunga yang berduri sampai berbau harum. Sekali lagi, Cinta itu Gila!

.
.
.
.

[Di Cafe Moi Moi Bee]

Ryeowook, Sungmin dan Kibum tengah berkumpul di cafe Moi Moi Bee seperti biasa. Ryeowook sibuk dengan makanannya yang ada di depannya, Sungmin sibuk dengan gadgetnya dan Kibum? Ia sibuk dengan tangannya, ia terus menerus meremas – remas tangannya dan celingukan kesana kemari seperti orang yang tengah mencari sesuatu.

“Bummie, berhentilah seperti itu. Dia pasti akan datang. Kau membuatku pusing.” Ujar Sungmin tanpa mengalihkan pandangannya dari gadgetnya dengan nada datar.

Mendengar itu, Ryeowook mendongakkan kepalanya sambil menatap Sungmin dan Kibum bergantian. “Apa orang besar, berlesung pipi, bertubuh kekar dan tampan, tapi tak setampan Donghae oppa itu belum datang juga?” tanya Ryeowook heran sambil memandang tempat duduk di paling pojok dekat jendela, tempat biasa Choi Siwon duduk.

“Apa mungkin dia sakit? Atau dia ternyata bosan selalu makan siang disini? Atau mungkin …. OMO … dia sudah punya yeojachingu … Bummie … dan siang ini mereka tengah berkencan …. oh andwae ….. aku tak bisa membayangkannya ….. hoh ..” ujar Ryeowook dengan nada horor.
PLETAK
Sungmin menjitak kepala Ryeowook dengan kesal. “Jangan bicara sembarangan Wookie!” ujar Sungmin kesal.
“Siapa yang bicara sembarangan eonnie? Apa aku salah bicara? Aku hanya menjabarkan pemikiranku saja eonnie.” Ujar Ryeowook tak terima sambil mengelus – elus kepalanya yang tadi dijitak.

“Ah .. sudahlah .. mungkin Wookie eonnie benar.” Ujar Kibum menenangkan. Ryeowook tersenyum bangga pada Sungmin, sedangkan Sungmin memutar matanya kesal. “Tapi bukan itu yang menjadi masalah, aku gelisah karena …. eeeeng …. karena … itu .. ano … karena …”
“Karena apa?” tanya Ryeowook dengan bernafsunya sambil menggebrak meja dan berhasil menarik perhatian para pembeli, karena para pegawai disana sudah sangat mengenal kepribadian Ryeowook yang aneh mengingat hampir setiap hari Ryeowook kesana jadi mereka tak heran melihat pemandangan yang dibuat Ryeowook itu jadi mereka tak sekaget para pembeli.
Ryeowook langsung cepat – cepat membungkuk pada para pembeli. “Ah … neomu mianhae ne …” ujarnya berkali – kali lalu duduk kembali. Sungmin menopang dagunya suntuk, “Kau memalukan.” Cibir Sungmin.

“Jadi, karena apa?” ujar Ryeowook dengan pelan sambil mencondongkan tubuhnya ke Kibum.
“Enng .. Wookie eonnie .. jangan sedekat ini, aku sedikit risih.” Ujar Kibum sambil menarik badannya ke belakang.
“Eh? Oh, nde. Baik. Lanjutkan Bummie.” Ujar Ryeowook sadar dan kembali ke kursinya dengan tenang.
“Sepertinya kau sangat bernafsu untuk mengetahuinya Wookie.” Sindir Sungmin gemas.
“Aku memang sangat bernafsu untuk mengetahuinya eonnie. Ini nafsu tingkat De-Wa! Dan kau tak akan tahu rasanya, karena kau bukan orang yang bernafsu sepertiku.” Ujar Ryeowook dengan bangganya. Sungmin mendengus kesal sambil mengangkat cangkir kopinya dan mulai meminumnya.

“Jadi, eeeuung … ano .. begini eonnie .. sepertinya dia sudah tahu kalau … kalau .. aku sering memperhatikannya.” Ujar Kibum galau.
“MWO ??????” ujar Ryeowook dengan menggebrak meja dengan hebatnya.
BYUUUR …
Kopi yang sedikit hangat milik Sungmin yang tengah diminumnya berhasil membasahi muka Sungmin dengan tepat.
“Sungmin eonnie ….” teriak Ryeowook dan Kibum khawatir, Ryeowook yang khawatir dengan kemarahan eonninya nanti sedangkan Kibum yang khawatir dengan kondisi eonninya itu. Sungguh menggelikan, sama – sama khawatir namun berbeda.
Sungmin memejamkan matanya kesal sambil merengut tak karuan.
‘Terkutuk kau keluarga Kim. Terutama kau Kim Ryeowook, yeodongsaeng yang tak waras dan napeun namja, Kim Yesung!’ Batin Sungmin dongkol dan juga kesal.

.
.
.
.

Yesung berjalan dengan santainya sambil mendengarkan musik yang keluar dari earphone yang terpasang di telinganya.
Tiba – tiba, Yesung dihadang oleh 1 namja bertubuh tegap di depannya.
“Bocah tengik, kita bertemu kembali.”
Namja itu terlihat sangar dan mengerikan. Namja itu meremas tangannya sehingga membuat suara tulang jari – jarinya terdengar jelas dan merenggangkan lehernya sangar.
Yesung menelan air liurnya, nyalinya ciut seketika. Yesung membalikkan tubuhnya berniat kabur, tapi ternyata di belakangnya juga ada teman namja sangar tadi.
“Mau kabur, eoh?” tanya teman namja itu dengan nada meremehkan.
Yesung cengengesan tak karuan. “Heeheheheheh .. a .. a … anio … anio .. aku hanya tercengang tadi. Hahahhaha …” alibi Yesung dengan tertawa garing. Lalu Yesung melirik ke kanan dengan mata terbelalak. “OMO … Bukankah itu Lee Hyorin?!?! Yeoja sexy …. OMONA … OMO .. tubuhnya …. hoh … Ya Ampuuun … benar – benar membuat dosaku semakin banyak … OMO …” pekik Yesung.
Kedua namja tadi menolehkan kepalanya ke arah lirikan Yesung sambil menyipitkan matanya.
“Mana? Mana Lee Hyorin? Dimana? Dimana?” ujar mereka berdua ingin tahu.
Kesempatan ini tak disia – siakan Yesung, ia segera berlari dari mereka dengan cepat.
“Dimana sebenarnya?” tanya salah satu namja tadi masih memincingkan matanya.
“Aku tak melihatnya hyung.” Ujar teman namja tadi.
“Aku juga. Apa bocah tengik itu membohongi kita?” tanya namja tadi.
Mata kedua namja sangar tadi membulat sempurna. Mereka dengan hati – hati menolehkan kepala mereka ke belakang.
“YAAAAAAK …… Keparat kau bocah tengiiiiiik ……….!!!!!” teriak salah satu namja itu frustasi.

***

“Hooosh … hooooosh ….” Yesung semakin melambatkan kakinya dan ia berhenti dari berlarinya di depan apartemen Ryeowook, lalu ia menolehkan kepalanya ke belakang untuk memastikan ia tak dibuntuti oleh 2 namja tadi. Suara nafas yang tak beraturan begitu terdengar jelas. Ia memegangi lututnya sambil terus menghembuskan nafas kelelahan. Banyak peluh yang menetes dari wajahnya.
“Hosssh .. mereka tak mengejarku sampai kesini kan?” tanyanya pada dirinya sendiri.
“Hosh .. hosh … appa …eomma … hossh .. kenapa kalian meninggalkan hutang sebegitu banyaknya? Hooosh … daripada hutang, lebih baik kalian meninggalkan rumah, perkebunan atau uang yang banyak agar aku bisa menikahi Minnie Chagi secepatnya .. hooossh .. menyebalkan!” gerutu Yesung.

Yesung memutar kenop pintu apartemen Ryeowook, namun tak bisa dibuka.
“Aneh, tak biasanya Ryeowook mengunci apartemennya. Whooaah .. mungkinkah adikku itu sudah merubah sifatnya yang teledor itu?” tanya Yesung tak percaya.
Lalu, Yesung memasukkan password. Berkali – kali Yesung mencoba, namun password yang ia masukkan selalu salah.
“Ryeowook merubah passwordnya?” tanya Yesung tak percaya sambil menggosok dagunya.
“Apa benar itu? Ryeowook mengubah passwordnya?”
“Aku tak yakin Ryeowook melakukannya mengingat ia mempunyai memori yang sangat rendah, aku yakin ia tak melakukannya. Jika Ryeowook merubahnya, ia pasti memberitahuku dengan alasan jika ia tak mengingatnya, ia akan menanyakannya padaku. Tapi, kenapa ini tidak?” pikir Yesung bingung.

“Ah .. ah .. ahjussi .. permisi …” ujar Yesung mengejar ahjussi yang lewat di depannya.
“Ah, ne? Ada apa anak muda?” tanya ahjussi itu heran.
“Apa Anda tahu tentang yeoja yang tinggal di apartemen nomor 309 ini?” tanya Yesung.
“Oh .. yeoja mungil yang manis dan juga menggemaskan itu eoh?” ujar ahjussi itu memuji.
“Huh? Oh, nde ahjussi.” Ujar Yesung tak percaya.
“Yeoja itu sudah pindah 2 hari yang lalu.” Ujar ahjussi itu menjelaskan.
“MWO?!!??!” pekik Yesung tak percaya.
‘OMO … orang itu pindah lagi ….’ batin Yesung dongkol dan tak percaya.
“Maaf anak muda, tapi kau siapa? Namjachingunya?” tanya ahjussi itu hati – hati.
“A .. anio .. ahjussi. Aku kakaknya.” Ujar Yesung.
“Yang benar? Tak mirip.” Ujar ahjussi itu tak percaya sambil menganalisa wajah Yesung. Yesung yang merasa risih diperhatikan seintens itu, langsung membuka suara.
“Ah .. hahhaha, orang – orang juga bilang seperti itu.” Ujar Yesung sambil tertawa garing didampingi dengan menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
“A .. aku permisi dulu ne ahjussi. Aku harus segera pergi.” Ujar Yesung dengan mencoba santai, setelah itu Yesung pergi dari apartemen.

Sesampainya di luar apartemen, Yesung menghelas nafas berat lalu memandangi gedung apartemen Ryeowook.
“Aiiigooo .. dia pindah lagi. Sungguh yeoja zaman purbakala, nomaden!” gerutu Yesung.
“Dia selalu membuatku pusing dengan perbuatannya, lebih baik aku ke tempat Minnie chagi. Dia obat mujarab untuk menyembuhkan segala penyakitku.” Pikir Yesung senang.
“Minnieee chagiiii … Yesung oppa daaataaaang ….” pekik Yesung sambil mengepalkan kedua tangannya ke atas, dan perbuatannya ini membuat orang – orang yang berlalu lalang menatapnya dengan pandangan bingung dan heran.

.
.
.
.

Di dalam sebuah ruangan yang ramai, banyak orang berlalu lalang mengingat ruangan itu adalah cafe di sebuah perusahaan.
Terlihat sepasang tangan putih kekar sedang memainkan sebuah uang koin.
“Hyung … apa yang sedang kau lakukan disini?” tanya seorang namja terheran – heran.
Namja tadi mengangkat kepalanya sambil tersenyum manis, namja itu adalah Choi Siwon.
“Hanya ingin mengisi perutku saja.” Ujar Siwon masih dengan senyuman manisnya.
“OMO? Jinjja? Yang benar saja. Tak biasanya kau mengisi perutmu kemari hyung?” ujar Changmin tak percaya.
Siwon terkekeh pelan mendengar Changmin. “Aku sedang menguji seseorang.” Ujar Siwon dengan tersenyum manis.
Changmin menarik kursi di depan Siwon dengan tatapan heran. “Maksudmu hyung?” tanya Changmin sambil meletakkan pantatnya di kursi.
“Ku jelaskanpun kau tak akan mengerti Changmin.” Ujar Siwon masih dengan senyuman manisnya.
“Aku semakin tak mengerti.” Ujar Changmin sambil menggaruk kepalanya.
Siwon terkekeh geli melihat kebingungan dongsaengnya.
‘This is about love. Dan hanya aku dan dia yang mengetahui tentang ini.’ Batin Siwon bahagia.

[Di Cafe Moi Moi Bee]

Kibum celingukan ke sekeliling ruangan cafe sambil meremas – remas tangannya gelisah.
‘Dia masih belum datang.’
‘Tapi ini sudah hampir berakhir waktu istirahatnya.’
‘Apa dia benar – benar tak datang hari ini?’
‘Apa dia sakit?’
‘Apa yang dikatakan Ryeowook eonnie itu benar?’
‘Apa ia sudah mulai bosan makan siang disini?’
‘Atau malah ia memang sudah mempunyai yeojachingu, dan siang ini mereka tengah berkencan?’
Kibum memejamkan matanya sambil menggeleng – gelengkan kepalanya meyakinkan pikirannya tidak benar.
‘Dia akan datang. Dia akan datang seperti Sungmin eonnie katakan tadi. Dia akan datang.’
‘Tapi ini sudah hampir berakhir waktu istirahatnya?’
‘Ya Ampun .. aku … aku merindukannya …’

“Hei!” ujar Sooyoung mengagetkan Kibum dengan senyum bahagianya.
Kibum terlonjak kaget sambil membuka matanya cepat.
“Eh ..”
“Kau terlihat gelisah Bummie?” ujar Sooyoung.
“Ah .. euung … anio Sooyoung.” Ujar Kibum berdusta.
“Kau tak bisa membohongiku Bummie, itu terlihat jelas.” Ujar Sooyoung dengan seringaian khasnya.
“Apa sangat terlihat jelas?” tanya Bummie penasaran.
“Hahahha, aku benar ne? Sangat, sangat terlihat jelas Bummie.” Ujar Sooyoung bangga.
Bummie menundukkan kepalanya malu.
“Memangnya, apa yang membuatmu gelisah Bummie? Apa namja berlesung pipi yang selalu makan siang di pojok sana?” tebak Sooyoung tepat sasaran.
Bummie membelalakkan matanya tak percaya.
‘Bagaimana Sooyoung bisa tahu?’ pikir Kibum.
“Ba .. ba .. bagaimana kau bisa tahu Sooyoung?” tanya Kibum dengan tergagap.
“Waaaah .. aku benar lagi eoh? Yang benar saja Bummie, hanya orang bodoh yang tak mengetahuinya.” Ujar Sooyoung bangga sambil menepuk bahu Kibum lalu berlalu pergi.
“Hanya orang bodoh yang tak mengetahuinya, mungkinkah …” gumam Kibum.

Kita beralih ke tempat Siwon tadi.
Drrrt Drrrt ..
Ponsel Siwon bergetar menandakan ada pesan singkat yang masuk ke ponselnya. Siwon yang tengah meminum kopi hangatnya melirik sebentar ponselnya, di layar tertera nama ‘Sooyoung’, lalu ia meletakkan kopinya pelan.
Siwon membuka pesan itu.
‘Oppa .. kau berhasil. Fighting!’ itulah yang tertulis di pesan singkat itu.
Siwon mengembangkan senyum lebarnya.

“Pesan dari siapa hyung?” tanya Changmin penasaran.
Siwon berdiri dari duduknya sambil merapikan barang – barangnya yang ada di meja. “Aku pergi dulu ne.” Ujar Siwon sambil berlalu pergi.
“Tapi hyung .. waktu istirahat segera berakhir!” pekik Changim menasehati.
“Katakan saja aku sedang pergi untuk pekerjaan yang tak dapat ditinggal.” Pekik Siwon membalas sambil keluar dari cafe. Dan Changmin hanya bisa melihat punggung Siwon dengan tatapan bingung.

.
.
.
.

Ryeowook masuk ke ruangan divisi marketing, tempat ia bekerja.
“Selaaamaaaat paagiiii seeemuuuuaaanyaa …” pekik Ryeowook dengan suara cempreng khasnya yang bisa memekakan telinga.
Kriik kriiik kriiik
Tak ada yang membalas sapaan Ryeowook seperti biasa. Semua orang menatapnya dengan tatapan mengintimidasi, terutama dari rekan kerjanya yang berjenis perempuan.
‘Ini ada apa?’ batin Ryeowook bingung dan juga takut.

“Woookie eonnie ….” panggil Taemin dengan nada khawatir.
Ryeowook segera menghampiri Taemin dengan langkah seribu.
“Ini ada apa?” bisik Ryeowook bingung sambil memandang yeoja – yeoja yang menatapnya dengan tatapan mengintimidasi.
“Wookieee …” sapa Henry dengan senang.
“Aigooo Henry, kau mengagetkan aku.” Ujar Ryeowook dengan ekpressi berlebihan.
“Kekekke, mian ne.” Ujar Henry dengan nyengir kuda.
“Chuuuukkaaaeeee….” ujar Henry senang sambil mencoba memeluk Ryeowook dengan merentangkan kedua tangannya.
Ryeowook memukul kepala Henry dengan buku yang ada di meja Taemin.
“Apa kau gila eoh? Memberikan aku selamat di saat ruangan disini begitu tak bersahabat dan sangat mencekam seperti ini?”

“Ehm .. ehm ..” dehem seseorang dari belakang tubuh Henry mengintrupsi kegiatan mereka. Ryeowook menggeser tubuh Henry kasar untuk melihat siapa orang yang berdehem. Setelah melihat orang itu, Ryeowook, Taemin dan Henry membelalakkan mata mereka.
“Tu .. tu .. tuan Shin.” Ujar Ryeowook tergagap saking kagetnya.
“Nona Ryeowook, Anda sudah ditunggu Tuan Muda dari tadi.” Ujar pelayan Shin sambil membungkukkan tubuhnya.
“Tuan Muda?” tanya Ryeowook bingung.
“Ayo masuk ke ruangannya.” Ujar pelayan Shin sopan.
“Eh?” Ryeowook semakin tak mengerti dengan situasi yang tengah dihadapinya.
“Ikuti aku Nona.” Ujar pelayan Shin tegas.
Ryeowook menatap Taemin dan Henry bergantian dengan tatapan bingung.
“Aaah .. nde.” Ujar Ryeowook menurut. Dan lalu ia mengikuti pelayan Shin masuk ke ruangan kerja Cho Kyuhyun.

Ryeowook berhenti menatap papan kayu yang tertempel di pintu ruangan kerja itu.
“Ini? Bukankah ini ruangan kerja Manajer Lee? Kenapa namanya Cho Kyuhyun?” tanya Ryeowook bingung.
“Masuklah nona, Tuan Muda sudah sangat lama menunggu Anda.” Ujar pelayan Shin sambil membukakan pintu.
“Ah .. ah .. nde. Gamsahamnida …” ujar Ryeowook dengan kaku sambil membungkukkan tubuhnya dan masuk ke ruangan itu dengan hati – hati.
Setelah Ryeowook masuk ke ruangan itu, pelayan Shin segera menutup pintu ruangan itu.

Kita beralih ke luar ruangan Cho Kyuhyun. Para yeoja – yeoja sedang menggosipkan Ryeowook.
“Aaah .. yeoja tengil itu sungguh beruntung.” Ujar Sunny.
“Ck! Yang benar saja! Bagaimana dia bisa mendapatkan tempat itu semudah itu?” tanya Jessica heran dan juga sinis.
“Aku dengar, Tuan Muda yang memilih sendiri! Padahal sebenarnya, kau tahu Seo Joo Hyun dari devisi atas?” ujar Taeyeon sambil menunjuk ruangan supervisor. “Ia yang ditunjuk untuk menjadi sekretaris Tuan Muda Cho.” Lanjut Taeyeon.
“Aiiis … jinjja??? Beruntungnya yeoja tengil itu!” ujar Sunny gemas.
Taemin dan Henry yang mendengar itu cuma bisa memegang kepala mereka yang pening.

“AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAH ….. EOMMA …………………..” teriak Ryeowook dari dalam ruangan.
Semua orang yang mendengar jeritan suara Ryeowook langsung memandang ruangan Cho Kyuhyun dnegan ngeri.
“Apa yang terjadi?” ujar Taemin dan Henry bertatapan.

 

TBC

Mian, karena dikit ceritanya. 😥

Oh iya, aku mau informasiin.

Ehm ehm ..

Kalau aku sudah memutuskan untuk memasukkan ff pairing yang lain selain KyuWook, karena saya punya bias banyak 😀

Kekekkekeeke ….

Saya ini HyoKyu (HyoyeonKyuhyun) Shipper, KyuSun (KyuhyunSunny) Shipper, KrisSun (KrisSunny) Shipper, dan absolutely saya KWS AKUT!!!! xD
Pokoknya yang ada abang Kyu, aku suka. Tapi kok aku enggak suka sama pasangan SeoKyu yak o.O

Ya udah, itu ajah.

Mulai sekarang blog saya isinya abang Kyu ajah, dan abang Kyu bakalan aku couple-in sama orang – orang di atas! Tapi so pasti tetep banyakan KyuWook ff-lah … ^^

Saya KWS AKUT ‘.’)/

SEKIAN DAN TERIMA KASIH.

Review ne 😉

With LOVE! ~Frisca

My Secret Admirer

Gambar

Frisca Freshtie Present …

*** ><)))’> …… <’(((>< ***

.
.
.

“MY SECRET ADMIRER”

.
.
.

WARNING !!
Okay, cerita ini sangatlah abal, jadi jangan nge-bas ne 😉
Karena yang buat juga abal – abal, arrachi.
OS ini terinspirasi dari ff OS Kyuhyun di wattpad. Judulnya “LIBRARY CASE”, karya : Eka Theresia sama Kartika Sury.

Saya cuma ambil alurnya ajah, selebihnya asli dari pikiran saya.
Jika kalian pengen baca, silahkan lihat di wattpad. Saya ambil jalan ceritanya saja. Mohon dimengerti ne.
Neomu gomawo ne.
Happy reading chingu-deul ^^

.
.
.

Pairing : KyuWook
Rate : T
Genre : Romance, OneShot, Friendship, Failed, Abal, Gaje
Author : Frisca Freshtie
Cast : Kim Ryeowook (Yeoja) >< Cho Kyuhyun (Namja) >< Lee Sungmin (Yeoja)

.
.
.

MY SECRET ADMIRER

.
.
.

I have a secret secret admirer. Not only is his identity a secret-but so is the fact that he admires me.

Kenapa aku bisa berkata seperti itu?
Ya, aku bisa mengatakan itu. Karena setiap pagi aku selalu mendapatkan setangkai bunga mawar putih yang cantik nan indah di lokerku dengan secarik kertar berisi huruf – huruf romantis yang entah dari siapa, ia hanya berkata dalam surat – suratnya yang ia berikan padaku kalau ia adalah pengagum rahasiaku.

Oh iya. Kenalkan, namaku Ryeowook, Kim Ryeowook. Aku sering dipanggil Wookie oleh teman – temanku. Aku berumur 21 tahun, dan aku sekarang berada di semester 4 jurusan literatur bahasa. Aku menuntut ilmu di Universitas Kyunghee, tepatnya di Korea Selatan. Pasti kalian tak percaya jika aku bisa masuk di Universitas yang berkelas tinggi seperti Kyunghee ini, tapi itulah kenyataannya. Aku mendapatkan beasiswa untuk dapat masuk ke perguruan tinggi ini. Dan betapa beruntungnya aku, karena paman dan bibiku mau menampungku gratis di rumah mereka. Kekekeke.

Mengenai pengagum rahasia tadi aku benar – benar serius mengatakannya, maksudku aku tak akan berbohong pada kalian semua tentang itu. Sudah hampir 4 bulan, setiap pagi aku selalu mendapatkan setangkai bunga mawar putih cantik dengan sepucuk kertas berisi kata – kata indah dari seseorang, ehm maksudku pengagum rahasiaku.
Seperti pagi ini, aku mendapatkannya lagi.

Ku ambil bunga itu, lalu ku hirup semampuku bau bunga yang sangat enak itu agar bisa masuk ke seluruh tubuhku. Tak terasa sudut bibirku tertarik sehingga membuat senyuman terpampang di wajahku. Setelah puas menghirup bau mawar, mataku tertuju ke sepucuk kertas yang ada di tangkai bunga ini. Kali ini apa yang ia tulis?
Dengan sigap, aku membuka dan segera membacanya dalam hati. Isinya seperti ini :

Terkadang aku tak bisa melihat diriku ketikan aku bersamamu. Aku hanya bisa melihatmu saja.
Selamat pagi. Aku harap aku bisa melihat senyummu hari ini.

Senyumku langsung mengembang membaca rangkaian – rangkaian huruf manis ini. Bukankah itu sangat manis? Dan beruntungnya aku selalu mendapatkannya. Aku harap aku bisa bertemu dengannya sesegera mungkin dan mengatakan rasa terima kasih sedalam – dalamnya padanya.

Ku tolehkan kepalaku ke kiri ke kanan untuk mencari keberadaan seseorang yang mengirim ini. Namun, sepertinya ia terlalu pintar menyembunyikan diri dariku. Aku merasa semua orang normal, dan tak ada yang aneh.

.
.
.
.

“Wookie .. Wookie!” panggil seseorang dengan berteriak dari belakangku. Ku balikkan badanku dan aku melihat seorang yeoja dengan rambut blonde lurus dan berkulit putih susu, bermata foxy dan mempunyai gigi kelinci mendekatiku dengan nafas tersengal – sengal.
“Ada apa Sungmin eonnie?” tanyaku heran.
“Euuung .. aku punya novel terbaru Sarah Dessen kau tahu?” ujarnya dengan sedikit smirk di bibirnya.
Aku membuka mulutku lebar – lebar. Sarah Dessen adalah penulis favoritku.
“Oh! My Gosh …” ujarku tak percaya.
“The Truth About Forever. Ku pinjamkan padamu.” Ujarnya dengan nada histeris sambil menunjukkan buku itu ke hadapanku. Aku menjerit heboh bersamanya.
“Aaaah .. apakah itu benar?” ujarku dengan tak percaya sambil mengambil buku itu dari genggamannya, segera ku buka halaman demi halaman. Mataku berbinar – binar melihat halaman demi halaman. Lalu, tiba – tiba aku merasa ada yang aneh disini. Segera ku tutup buku itu dan menatapnya heran.
“Tunggu, tunggu, tunggu. Maksudmu apa ini? Tak biasanya kau dengan senang hati meminjamkan aku ini,bahkan saat aku meminta izin untuk meminjam novel Eleanor Park karya Rainbow Rowell kau tak mau meminjamkannya setengah mati dengan banyak alasan dan akhirnya aku meminjam di perpustakaan kota. Apa yang kau inginkan Sungmin eonnie?” Ujarku sambil menyedekapkan tanganku di dada.
“Hehhehee, sepertinya aku tak bisa membohongimu Wookie. Sebenarnya, aku ingin meminta sedikit bantuan kecilmu.” Ujarnya dengan nada memelas.
“Sedikit bantuan kecil dariku? Apa itu?” tanyaku tak percaya. Dan ia mengangguk – anggukan kepalanya dengan semangat.
“Aku ingin kau menggantikan aku selama seminggu di perpustakaan.” Ujarnya.
“MWO!?!!?” pekikku tak percaya.
“Aku mohon padamu Wookie, gantikan aku, tolonglah, aku memohon padamu. Jebal.” Ujarnya dengan menyatukan kedua tangannya dengan jurus mata anjingya padaku.
“NO .. N and O Sungmin eonnie! Anio, aku tak mau!” ujarku dengan tegas sambil menggelengkan kepalaku.
“Aku mohon, jebal .. aku akan ke Paris selama seminggu untuk lomba desain fashion. Aku mohon Wookie, gantikan aku ne… jebal Wookie …” Ujarnya lagi dengan memelas.
“Aku tidak mau, lebih baik kau menyuruh Donghae oppa atau Eunhyuk eonnie!” elakku lagi.
“Hehehhe, sebenarnya aku sudah meminta bantuan mereka, tapi …”
“Tapi mereka berdua tak mau.” Perkataannya ku potong dengan ketus. Dan dia hanya bisa terkekeh sambil menggaruk tengkuknya yang aku yakini pasti tak gatal sama sekali.
“Eunhyuk akan menemani neneknya check up setiap siang di rumah sakit, jadi dia tak bisa karena kau tahu jadwalku untuk menjadi pengawas disana itu pada jam siang. Dan aku tahu kalau kau tak punya kelas jam siang Wookie-ah.” Ujarnya dengan tertawa garing.
“Dan Donghae oppa?” tanyaku lagi.
“Hehe, dia ikut bersamaku ke Paris karena ia yang akan menjadi modelnya.” Ujarnya lagi dengan cengengesan. Mendengar itu, aku langsung mendecak kesal.
“Ya, aku akan menggantikanmu.” Ujarku dengan kesal.
“Hah? Mwo ?? Are you serious? Kau tak bercanda kan Wookie?” tanyanya dengan nada tak percaya sambil mencengkram kedua bahuku.
“Ye .. ne. Dan tolong lepaskan tanganmu itu dari bahuku.” Ujarku dengan malas.
“Aaaaaaah .. I Love You Wookie! Saranghae Kim Ryeowook ….” ujarnya dengan mencium kedua pipiku. Segera aku mengelap bekas kecupannya dengan jijik, aku ini masih normal.
“Karena kau mau membantuku, jadi buku itu aku meminjamkannya padamu. Jaga bukuku baik – baik ne. Neomu gomawo untuk bantuanmu dan pai – pai.” Ujarnya dengan senang sambil berlalu pergi.
“Pai-pai.” Ujarku sambil melambaikan tanganku.

.
.
.
.

Malam semakin larut, namun sepertinya aku harus terus berjaga karena aku masih belum selesai membuat tugas dari dosen pembimbingku. Mataku mulai lelah, bahkan sudah berkali – kali aku menggeleng – gelengkan kepalaku, meminum kopi yang sudah mulai dingin dan bahkan sampai memijat – mijat leherku yang terasa pegal karena harus terus tegang untuk mengetik.

“Aaaah .. akhirnya selesai.” Ujarku dengan senang dan puas sambil meregangkan semua ototku. Lalu, mataku dengan tak sengaja melihat buku bersampul ungu di atas meja belajarku. Lalu, ku ambil buku itu dengan senyuman mengembang di wajahku. Buku ungu itu adalah buku yang berisi kumpulan – kumpulan secuil kertas dari pengagum rahasiaku yang ku tempelkan di setiap kertas dengan lem. Mana mungkin aku membuang secuil kertas yang berisi kata – kata romantis seperti ini? Aku akan sangat merasa kehilangan jika melakukannya.

Ku buka halaman pertama.
Pertama kali aku melihatmu. Aku merasa sebuah bintang jatuh menabrakku.
Anyeong, aku pengagum rahasiamu mulai sekarang.
Membacanya, aku tertawa pelan. “Apakah itu benar?” gumamku.
Lalu, halaman demi halaman ku buka.
Aku mencintai kakimu karena mereka telah menapaki bumi dan melewati angin dan juga air sampai mereka membawamu padaku.
Selamat pagi. Aku melihatmu.
“Apa aku mengenalmu?” gumamku.
Jangan bertanya padaku kenapa aku menyukaimu, karena aku akan harus menjelaskan padamu kenapa aku hidup!
Aku harap harimu menyenangkan.
“Kau membuat hari – hariku menyenangkan.” Ujarku jujur.
Sebelum aku bertemu denganmu aku tak pernah tahu bagaimana bisa memandangi pada seseorang dan tersenyum tanpa alasan.
Bisakah aku melihat senyummu sekarang?
“Kau bahkan membuatku tersenyum setiap pagi.” Ujarku dengan senyuman manis.
Tak perduli kemanapun aku pergi, aku selalu tahu jalan untuk kembali padamu.
You are my compass star.
Pagi yang cerah, eoh?
“Pagi – pagiku selalu cerah karena dirimu.” Ucapku sambil menghempaskan tubuh mungilku ke kasur.
Lebih baik tak pernah bertemu denganmu di mimpiku, lalu bangun dan meraih tangan yang tak berada disana.
Namun aku terlalu malu untuk bertemu dan menyapamu. Jadi, anyeong.
“Hihihiihi, anyeong seseorang disana.” Ujarku dengan terkekeh.
“Entah sudah berapa kali aku membaca semua kata – katamu. Namun, aku tak merasa bosan sama sekali. Kata – kata darimu seperti penyemangat hidupku.”
Ku hembuskan nafas berat. “Apa kau tak lelah hanya melihatku dari jauh tanpa berinteraksi langsung denganku?”

.
.
.
.

“Sampai berjumpa lagi di kelas berikutnya.” Ujar Han Seongsangnim mengakhiri kelasnya.

Hari ini aku bangun kesiangan alias telat. Semalaman membuat tugas membuatku bangun kesiangan. Bahkan untuk membaca sepucuk kertas pada bunga itu saja aku tak sempat. Setelah tiba di lokerku aku langsung membuka lokerku dan mengambil bunga itu secepat mungkin karena aku harus ke perpustakaan secepat mungkin untuk menggantikan Sungmin eonnie.
Ku dudukkan pantatku ke kursi untuk meja pengawas perpustakaan dengan lega.

“Ah, hari yang melelahkan.” Ujarku sambil meregangkan otot – otot tanganku. Setelah merasa sedikit membaik, aku langsung membuka tas dan mengambil bunga mawar putih yang sudah layu.
“Wah, sudah layu?” ujarku merasa kecewa dan sedih melihat bunga mawar putih yang sudah sedikit menguning kelopaknya. “Neomu mian ne. Hari ini aku terlambat.” Ujarku sambil mengelus kelopaknya. Ku letakkan bunga itu dan mengambil sepucuk kertas yang tertempel di tangkainya.
I think of you more times than there are hours in a day.
Anyeoong .. Selamat pagi.
“Ah, jinjja? Anyeong, mianhae tapi aku baru membacanya jadi selamat siang untukmu yang tak ku ketahui siapa.” Ujarku dengan tersenyum senang.

.
.
.
.

Ini adalah hari kedua aku menjaga perpustakaan. Dan hari ini sungguh membosankan. Apalagi hari ini adalah awal musim gugur. Benar – benar dingin. Namun ku usir pikiran itu dengan membaca novel. Jika sudah bosan begini hanya membaca yang bisa menyembuhkan kebosananku.

“Euung .. per .. permisi .. di .. di .. dimana dia?” tanya seseorang di depanku dengan gugup. Ku dongakkan kepalaku untuk melihat orang itu. OMO, bahkan ia berkeringat dingin. Aku bisa melihatnya dengan jelas.
“Maksudmu “dia”? Siapa dia? Nugu?” tanyaku sambil meletakkan novelku.
“Sung-Sungmin.” Ujarnya lagi dengan gagap.
“Oh, dia ada di Paris. Dia mengikuti lomba desain fashion disana. Aku harap kau bukan penggemarnya. Kau tahu. Dia sedang menyukai seseorang.” Ujarku sambil berbisik di telinganya, dan percaya tak percaya ia tambah gugup. Ah, orang ini pasti sangat menyukai Sungmin eonnie, mengingat Sungmin eonnia memang sangat cantik.
“Hahahhaah, aku hanya bercanda. Jangan terlalu dipikirkan.” Ujarku dengan tertawa terbahak – bahak. Dan dia hanya mencoba tersenyum. Sungguh, aku sangat suka menjahili seseorang seperti ini.

.
.
.
.

Semenjak itu, dia selalu datang ke perpustakaan dan selalu duduk di bangku yang sama dan bahkan mengambil buku yang sama namun ia tak pernah membacanya. Ia selalu melihat ke luar jendela. Benar – benar menyedihkan, pasti ia sangat merasa kesepian ditinggal Sungmin eonnie. Bukankah memang seperti itu jika kau menyukai seseorang namun orang itu malah pergi? Pasti dia sangat merindukannya, sampai – sampai ia melamunkannya.

Karena aku tak tega melihatnya begitu, ku hampiri dia.
“Hei.” Ujarku membuka pembicaraan.
“Oh, hai.” Ujarnya dengan canggung, mengingat ini adalah pembicaraan kami yang kedua.
“Aku Ryeowook, Kim Ryeowook, kau?” tanyaku mencoba memecahkan kecanggungan kami.
“Kyuhyun, Cho Kyuhyun.” Ujarnya tanpa melihatku, ia memandangi bukunya.
“Nama yang keren.” Gumamku.

Hening. Aku masih sibuk dengan pikiranku dan ia sibuk membaca bukunya.
“Apa yang kau baca Kyu?” tanyaku.
“Algoritma.” Ujarnya tanpa memandangku.
“Whooaaah … Algoritma??? Aku pasti sudah gatal – gatal dahulu sebelum membacanya, bahkan mendengarnya kulitku sudah menampakkan reaksinya. Lihat ini!” Ujarku sambil menunjukkan tanganku yang terkena gigitan nyamuk tadi malam. Dia melirikku sebentar.
“Bukankah itu bekas gigitan nyamuk?” tanyanya sambil menatapku.
DEG
Melihat matanya, kenapa jantungku berdegup dengan kencangnya?
“Kau bercanda eoh?” tanyanya lagi menyadarkan aku. Segera aku berkedip dengan cepat.
“Hahhahahah, ah ini memang bekas gigitan nyamuk.” Ujarku jujur dengan tertawa garing. Rasanya aku ingin menutupi mukaku dengan palstik atau kardus saja sekarang.

.
.
.
.

Setelah perbincangan kami yang konyol itu. Aku dan Kyuhyun semakin dekat. Walaupun dari luar Kyuhyun terlihat sangat kaku dan dingin, namun sebenarnya ia sangat hangat di dalam. Bahkan, sekarang aku tak merasa bosan lagi menjaga perpustakaan. Di waktu yang luang saat pengunjung sedikit, aku menghabiskan waktu untuk berbincang – bincang dengan Kyuhyun tentang remeh temeh sampai yang berbobot.
Banyak sekali yang ku dapat tentang Kyuhyun. Ia termasuk siswa pintar di Kyunghee, ia juga mendapat beasiswa sepertiku. Dia berasal dari keluarga yang sangat kaya, ayahnya mempunyai perusahaan terbesar nomor 2 di Korea Selatan. Tapi, sifatnya sangat rendah diri, bukankah itu sungguh menarik? Ia berada di semester terakhir. Ah, dia memang lebih tua dariku. Hahahha
Ini adalah hari terakhirku menggantikan Sungmin eonnie bertugas. Menyadari itu aku sangat sedih dan tak rela dan ….
Tunggu, tunggu, tunggu!
Kenapa aku merasa sedih? Kenapa aku merasa tak rela? Kenapa aku merasa kecewa? Kenapa? Bukankah harusnya aku sangat senang karena aku bisa menjalani hidupku dengan normal lagi bukan? Waktuku juga tak terbuang di perpustakaan yang bahkan pengunjungnya bisa dihitung. Harusnya aku senang, kan?

Ku pandangi Kyuhyun lekat – lekat. Dia begitu tampan. Tapi sayang, ia menyukai Sungmin eonnie.
“Ryeowook!” panggil Kyuhyun dengan sedikit keras sambil mengguncang – guncangkan tubuh mungilku. Akhirnya aku pun sadar.
“Eh, eng … ada apa?” tanyaku.
“Kau kenapa? Aku sudah memanggilmu berkali – kali tapi kau tak meresponnya.” Ujarnya dengan heran.
“Oh, eh .. uh .. itu .. aku hanya sedang memikirkan sesuatu.” Ujarku sambil tersenyum canggung.
“Ryeowook.” Panggilnya lagi dengan sedikit pelan.
“Ne? Ada apa?” tanyaku heran.
“Aku menyukai seseorang.” Ujarnya sambil menatapku. Ah, jangan menatapku seperti itu Kyu! Rasanya hatiku seperti tersambar petir mendengarnya.
“Yeah, aku tahu.” Lirihku. Kau menyukai Sungmin eonnie, Kyuhyun. Aku mengetahuinya.
“Dan aku ingin menyatakannya padanya.” Bagai tersambar petir, aku hanya bisa diam.
“Apa kau pernah berbicara padanya, maksudku menunjukkan perasaanmu dengannya?” tanyaku berusaha untuk mencegahnya. Aku terdengar jahat bukan? Menahan seseorang agar tak menyatakan perasaannya, aku benar – benar buruk.
Dia menundukkan kepalanya. “Aku hanya memandanginya dari jauh.” Ujarnya dengan sedikit lesu.
“Bahkan kau hanya memandanginya dari jauh Kyuhyun. Maksudku, kau tahu. Apakah gadis itu akan membalas perasaanmu, mengingat kau tak pernah mendekatinya secara langsung?” ujarku dengan sedikit kasar.
Dia diam. Aku malah merasa bersalah seperti ini melihatnya.
“Ah, ah, ah. Neomu mianhae. Aku tak bermaksud. Itu hanya pendapatku saja. Kau ikuti kata hatimu saja.” Ujarku berusaha membuatnya bangkit.
“Tak apa. Kau benar. Seharusnya aku berpikir sampai kesana. Gomawo ne.” Ujarnya sambil tersenyum padaku, lalu beranjak pergi dari perpustakaan.

Apa yang kau lakukan Ryeowook?
Kenapa kau bicara seperti itu tadi?
Kau membuatnya terpuruk!
Kau menyakiti hatinya Ryeowook! Kau menyakitinya!

“Aku harus mengejarnya!” ujarku sambil beranjak dari kursiku dan segera mengejarnya. Aku terus berlari mencarinya. Aku terus berlari hingga aku menangkap sosok yang sedang ku cari sedang berjalan di lorong kampus yang sepi.
“Berhenti!” ujarku dengan mata berkaca – kaca sambil menghalangnya dengan merentangkan kedua tanganku di depannya.
“Ada apa? Kau kenapa? Wae Ryeowook?” tanyanya sambil mencoba menyentuh wajahku.
Ku tepis tangannya dengan lembut sambil menggelengkan kepalaku lemah. “Aku tak apa. Gwenchanayyo.” Ujarku berbohong.
“Lalu kau ke ..” belum sempat ia melanjutkan, perkataannya sudah ku potong. “Aku minta maaf. Neomu mianhae Kyu, mian. Mianhae. Aku tak bermaksud untuk membuatmu down. Neomu mianhae. Entah! Aku tak tahu kenapa mulutku bisa berbicara seperti itu. Aku tak tahu kenapa aku bisa melakukannya. Maafkan aku, tapi aku merasa sedih saat kau mengatakannya. Aku merasa ada yang menyakitiku saat kau bilang akan menyatakan perasaanmu. Aku .. aku …” Kyuhyun memandangiku dengan pandangan bingung. “Aku menyukaimu.” Ujarku dengan pasrah.
Ku tundukkan kepalaku, aku tak berani menatapnya. Tiba – tiba ia menggenggam tanganku dan menyeretku ke perpustakaan.
“Kenapa kau membawaku kemari?” tanyaku heran.
“Apa kau tak ingin tahu siapa orang yang ku sukai?” tanyanya.
“Aku sudah tahu. Itu Sungmin eonnie.” Ujarku dengan lemah. Dia menggelengkan kepalanya. “Bukan, orang yang ku sukai bukan Sungmin.” Ujarnya dengan tersenyum.
“Lalu?” tanyaku tak percaya.
“Lihatlah ke jendela. Siapa yang kau lihat?” tanyanya.
“Aku melihat 2 yeoja yang sedang membaca buku di bangku, di bawah pohon maple. Tunggu, apa kau menyukai salah satu dari yeoja disana?” tanyaku sambil menunjuk ke luar jendela.
“Anio, kau salah! Coba lihat lagi dengan teliti, ah coba lihat dari tempat dudukku yang biasa aku duduki.” Ujarnya sambil menuntunku untuk duduk di kursinya.
“Siapa yang kau lihat?” tanyanya.
“Kau.” Ujarku tak percaya.
“Jadi, selama ini?” tanyaku tak percaya.
“Yeah, selama ini aku selalu memperhatikanmu dari sini. Dan aku juga yang selalu mengirimu bunga setiap pagi.” Ujarnya dengan mengeluarkan setangkai bunga mawar putih dengan sepucuk kertas di tangkainya dari saku mantelnya.
Aku membelalakkan mataku tak percaya. Jadi, selama ini itu Kyuhyun orangnya? Kyuhyun?
Ia duduk di sampingku dan memberikan aku bunga itu. “Bacalah.” Ujarnya lembut.
Ku buka sepucuk kertas yang terlipat di tangkai bunga, lalu ku baca.
“Will you be my girlfriend?” gumamku membacanya. Aku membelalakkan mataku tak percaya sambil menatapnya.
“Yes, yes, yes i will. I will. I will be your girlfriend!” ujarku dengan bahagia sambil memeluknya.

‘FIN’
.
.
Huhuhuuhuh, ini gimana OS yang ini?
Endingnya sudah sangat jelas kan?
Entah kenapa, setiap saya buat ending. Semua pembaca bakalan demo setelah baca endingnya! -_-

Neomu gomawo yang udah mau baca dan review cerita saya ini.Terima kasih banyak.
Last! Review ne ^^
With LOVE! ~Frisca Freshtie <3<3<3

Last Letter

Gambar

Frisca Freshtie Present
**$$$**

.
.

“LAST LETTER”

.
.

WARNING !!!
Cerita ini adalah oneshot buatan asli saya yang terinspirasi dari lagu “Last Letter” yang dipopulerkan oleh Aoyama Thelma, penyanyi asal Jepang. Nanti lirik lagu akan saya translate ke bahasa Indonesia.
Cerita ini abal dan juga gaje, dan juga banyak typo bersebaran. Jadi, kalau ada salah mohon bimbingan dari kalian semua.
Oh iya, yang tebal miring itu lirik lagunya, yang miring flashback. Dan perhatikan tahunnya ya! Dan disini aku menggunakan musim untuk menunjukkan waktunya. Dimulai dari musim semi, panas, gugur, dan dingin. Itu urutannya.
Gomawo ^^
Silahkan membaca chingu-deul.

.
.
.
.

Pairing : KyuWook
Rate : T
Genre : Hurt/Angst, Romance, Oneshot
Author : Frisca Freshtie
Cast : Cho Kyuhyun (Namja), Kim Ryeowook (Yeoja)

.
.
.
.

~~*LAST LETTER *~~

.
.

Aku bertemu dengannya, seseorang yang lebih tua dariku, selama musim dingin tiba.
Dia adalah cinta pertamaku, yang tak akan aku lupakan.

 

[Tahun 2008, Seoul. Musim dingin.]

 

Salju – salju putih jatuh dari langit dengan pelannya menutupi tanah, atap, daun – daun dan juga tanah pada malam itu.
Kepulan asap dari nafas hangat yang keluar dari mulut Ryeowook terlihat dengan jelas bahkan suara hembusan nafas Ryeowook terdengar dengan jelas di malam musim dingin ini, ia mengeratkan syal yang melingkar di leher jenjangnya. Matanya sedikit sayu dan juga terlihat begitu gelisah. Terang saja, ini sudah pukul 07.00 malam waktu KST dan ia baru pulang dari les-nya. Ia takut ketinggalan bus untuk pulang ke rumah.

Ryeowook menghembuskan nafas pasrah-nya saat melirik jam yang bertengger manis di pergelangan tangan kirinya.
Sebuah tangan terulur dengan memegang segelas kopi hangat ke depan Ryeowook.
“Ehm .. apa kamu mau segelas kopi hangat?”
Ryeowook menolehkan kepalanya ke samping, ia melihat seorang namja berbalut jaket tebal hangat berwarna hitam dan mengenakan syal berwarna merah yang sangat kontras dengan kulit putih pucatnya.
“Ah .. gamsahamnida.” Ujar Ryeowook dengan tersenyum manis sambil mengambil segelas kopi hangat itu.

Hening.
Ryeowook sibuk meminum kopi hangatnya sambil menatap jalanan yang mulai memutih tertutupi salju – salju lembut. Sedangkan namja di sampingnya juga tak jauh berbeda dengan Ryeowook, ia menatap salju – salju putih seputih kapas yang jatuh ke tanah dengan tersenyum manis.
“Bukankah salju yang turun itu begitu cantik?” ujar namja itu memulai percakapan.
Ryeowook mengalihkan pandangannya ke namja di sampingnya yang ia yakini lebih tua darinya. Ryeowook menganggukan kepalanya kikuk. “Ah .. nde.” Jawab Ryeowook sedikit kaku.
Namja itu menatap Ryeowook sambil tersenyum. “Perkenalkan, namaku Kyuhyun. Cho Kyuhyun. Mahasiswa di Universitas Kyunghee, semester 4.” Ujar namja itu memperkenalkan diri sambil menjulurkan tangan kanannya. Ryeowook menyambut uluran tangan itu. “Ryeowook. Kim Ryeowook. Aku baru kelas 2 SMA.” Ujar Ryeowook dengan sedikit kaku, namun tak sekaku di awal.
“Nama yang sangat cantik. Secantik orangnya.” Puji Kyuhyun tulus.
Blush …
Mendengar itu pipi Ryeowook bersemu merah, ia tersenyum malu sambil menundukkan kepalanya.

…..

Punggung besarnya, dan senyumnya yang menenangkan aku.
Seiring berlalunya waktu, musim semi datang dan kita selalu bersama.

 

Setelah pertemuan itu, mereka tambah akrab. Bahkan hari – hari selanjutnya Kyuhyun selalu pulang bersama dengan Ryeowook menaiki bus dari halte yang sama. Seiringnya waktu-pun, kebersamaan mereka menimbulkan benih – benih cinta di antara mereka berdua.

 

[Tahun 2009, Seoul. Musim Semi]

 

Ryeowook meremas tangannya dengan gugup, tak biasanya Kyuhyun mengajaknya ke taman. Ia duduk di bangku kayu sambil memandangi sekitarnya, ia sedang mencari Kyuhyun.
Ryeowook memandangi jam tangannya dengan nanar. Ini sudah 1 jam lebih ia menunggu Kyuhyun tiba, namun Kyuhyun tak datang – datang juga, bahkan tak memberinya pesan singkat untuk memberitahukan keberadaannya.
Tiba – tiba seorang anak kecil laki – laki datang padanya sambil membawa bunga dandellion dan juga sepucuk kertas.
“Noonna. Ini aku berikan untukmu.” Ujar anak kecil itu dengan menyodorkan bunga dandellion itu juga dengan sepucuk kertas. Ryeowook menerimanya dengan bingung sambil menatap bunga dandellion itu dan juga sepucuk kertas itu bergantian.
“Gamsahamnida, tapi ini untuk apa?” ucap Ryeowook sambil mendongakkan kepalanya, namun anak kecil itu sudah pergi.

Ryeowook membaca sepucuk kertas itu.
“Bunga Dandellion akan menunjukkanmu jalan untuk menemukanku.” Ujar Ryeowook membaca tulisan dalam sepucuk kertas itu. Ryeowook tersenyum manis, tanpa ada pengirimnya-pun ia tahu tulisan siapa ini. Ini tulisan seorang Cho Kyuhyun.
Ryeowook memandang bunga Dandellion itu dengan tatapan bingung. Lalu, bunga Dandellion itu mengalun lembut ke arah timur karena adanya tiupan angin yang pelan dan juga lembut. Ryeowook tersenyum senang, ia mendapatkan jawabannya.
Ryeowook berjalan dengan pelan menuju arah timur dari tempat duduknya dengan senyuman manis masih dengan membawa bunga Dandellion dan juga sepucuk surat tadi yang ia dapat.

Sudah lumayan jauh Ryeowook berjalan. Ia mengernyitkan dahinya bingung ketika melihat banyak orang yang berdiri di sepanjang jalan dengan rapi.

Ryeowook menghentikan langkahnya begitu saja ketika orang – orang yang berjajar di sepanjang pinggir jalan tadi mengangkat papan – papang berisikan satu huruf satu huruf yang terangkai menjadi kata – kata.
“W .. I .. L .. L .. Y .. O .. U .. B .. E .. M .. Y .. G .. I .. R .. L .. F .. R .. I .. E .. N .. D .. ?” Ryeowook tercekat dengan kata – kata yang terlontar dari mulutnya. Ryeowook menutup mulutnya yang menganga dengan tangan mungilnya sambil membelalakkan mata lebarnya.
Tiba – tiba sebuah balloon berwarna pink berbentuk bulat yang dibawahnya terdapat gulungan kertas coklat membentur tubuh mungil Ryeowook, Ryeowook memegang balloon itu dan membuka gulungan kertas itu dengan hati – hati.
“I LOVE YOU, KIM RYEOWOOK.” Gumam Ryeowook membaca kertas itu.
Mata Ryeowook berkaca – kaca, ia sangat terharu, ia menatap Kyuhyun yang berdiri agak jauh di depannya, lalu menganggukan kepalanya berulang kali disertai dengan tangis haru bahagia.
“I love you too, nado saranghae. And i will, i will.” Ujar Ryeowook sambil mengusap air matanya dengan kasar.
Mendengar jawaban Ryeowook, Kyuhyun merentangkan tangannya. Melihat itu, Ryeowook segera berlari menghampiri Kyuhyun dan memeluknya dengan erat. “Saranghae, nado saranghae.” Ujar Ryeowook berkali – kali dalam pelukan Kyuhyun. Semua orang yang ada disana bertepuk tangan dan bersorak bahagia melihat sepasang kekasih yang telah resmi itu.

…..

Sampai sekarang, mimpi – mimpi yang telah kita tulis bersama pada kala itu teringat.
Namun halaman selanjutnya tertutup.

 

[Tahun 2013, Seoul. Musim gugur.]

 

Terlihat yeoja dewasa sedang duduk di bangku taman sambil memejamkan matanya, merasakan hembusan angin dingin musim gugur dengan ditemani daun – daun yang jatuh dari dahannya sambil memegang setangkai bunga dandellion.
Yeoja dewasa itu adalah Ryeowook. Rambutnya kini semakin panjang, ia semakin cantik, walaupun tubuhnya masih mungil seperti dulu.

Ia membuka kelopak matanya secara perlahan. Lalu, ia mengangkat bunga dandellion yang digenggamnya. Karena hembusan angin musim gugur, benih – benih bunga dandellion itu diterbangkan oleh angin. Satu persatu benih itu terbang berkelana menjelajahi dunia. Melihat itu Ryeowook tersenyum manis.
“Pergilah anak – anak Dandellion, temukan tempat barumu dan tumbuhlah menjadi Dandellion dewasa.” (Suara Kyuhyun)
“Pergilah anak – anak Dandellion, temukan tempat barumu dan tumbuhlah menjadi Dandellion dewasa.” Ujar Ryeowook menirukan apa yang dikatakan Kyuhyun dulu dengan tersenyum manis.
Setelah benih – benih itu habis diterbangkan angin, Ryeowook membiarkan tangkai Dandellion diterbangkan angin musim gugur entah kemana.

Lalu, Ryeowook mengambil buku album yang sedikit tebal bersampul coklat yang sudah sedikit usang namun masih bagus yang ada di sampingnya. Ia mengusap sampul buku itu dengan penuh rasa kasih sayang.
Dengan perlahan, Ryeowook membuka buku album itu. Di halaman pertama terdapat huruf – huruf besar tebal yang isinya berbunyi “Kyuhyun >< Ryeowook”

Ryeowook membuka halaman selanjutnya. Disana terdapat foto Kyuhyun dan Ryeowook yang tengah bahagia, senyum manis tak lepas dari wajah mereka, dan jangan lupa sorot mata Kyuhyun dan juga Ryeowook, tatapan mereka penuh kebahagiaan dan juga cinta kasih.
Di bawah foto itu tertulis serangkaian kata yang membuat Ryeowook tersenyum getir.

“Kim Ryeowook hanya untuk Cho Kyuhyun dan Cho Kyuhyun hanya untuk Kim Ryeowook.” Suara Kyuhyun terdengar begitu possesiv sambil menatap tulisan yang ada di buku itu dengan puas.
“Itu terdengar sangat berlebihan Kyu.” Ujar Ryeowook dengan diakhiri sebuah kekehan.
“Apanya yang berlebihan? Ini memang begini dan memang seharusnya begini.” Ujar Kyuhyun keukeuh.
“Terserah padamu saja.” Ujar Ryeowook pasrah bahagia. Lalu, mereka tersenyum bahagia sambil menatap satu sama lain.

Mengingat itu Ryeowook hanya bisa tersenyum pahit. Lalu, ia menatap foto yang ada dibawah foto tadi.
Foto Kyuhyun sedang menggendong Ryeowook di pantai.
Lalu foto dibawahnya, Ryeowook sedang meniup lilin di atas kue brownies cup kecil. Ryeowook mengelus photo itu sayang, lalu ia membuka halaman selanjutnya dan seterusnya.

Tes ..

1 butir tetesan air mata jatuh ke halaman tengah buku album itu. Air mata itu membasahi kata yang ada di halaman tersebut.

Ryeowook menyunggingkan senyum geli-nya kala membaca isi buku itu.
“Bagaimana menurutmu?” tanya Kyuhyun sambil memandang Ryeowook yang tengah membaca buku mereka.
Ryeowook terkekeh geli. “Apa ini? Yang benar saja?” ujar Ryeowook tak percaya.
“Wae?” tanya Kyuhyun heran.
“Ini menurutmu saja, kenapa kau tak bertanya tentang pendapatku?” tanya Ryeowook dengan berpura – pura kesal.
“Pendapatku adalah pendapatmu, arrachi? Jadi, jangan membantah!” ujar Kyuhyun sambil mencubit hidung Ryeowook gemas.
“Kau selalu menyimpulkan sendiri. Apa ini semuanya tak berlebihan?” tanya Ryeowook heran.
“Ck! Kau ini! Selalu saja bilang berlebihan! Sini, aku bacakan dan aku jelaskan.” Ujar Kyuhyun kesal sambil merebut buku tadi.
“Apa yang akan Cho Kyuhyun dan Kim Ryeowook lakukan.” Kyuhyun berhenti sebentar, ia melirik Ryeowook lalu melanjutkan membacanya.
“Satu, Kim Ryeowook akan menikah dengan Cho Kyuhyun.”
“Dua, kami menikah di gereja kecil dan mengundang keluarga dan sahabat dekat, selain itu tidak boleh diundang.”
“Tiga, marga Kim akan dihapuskan dan diganti menjadi Cho.”
“Empat, kami akan berbulan madu di desa kecil, jadi kami bisa berduaan tanpa gangguan.”
“Lima, kami akan membangun rumah sederhana yang cukup untuk kami berdua namun rumah itu penuh dengan cinta dan kasih sayang.”
“Enam, kami akan membuat banyak anak jadi saat kami tua nanti, kami akan menghabiskan waktu senja kami bersama anak – anak kami.”
Ryeowook yang mendengar itu semua, terkekeh geli. Kyuhyun melirik Ryeowook yang tengah tertawa geli mendengarnya sambil tersenyum senang.
“Dan …” Kyuhyun menggantungkan kalimatnya membuat Ryeowook menautkan alisnya bingung.
“Cho Kyuhyun akan memberikan free kiss for Kim Ryeowook.” Ujar Kyuhyun sambil mencium bibir Ryeowook cepat. Ryeowook tersipu malu setelah mendapat ciuman dari Kyuhyun.
“Saranghae Kim Ryeowook.” Ujar Kyuhyun sambil tersenyum tulus.

Ryeowook mengelus foto Kyuhyun yang tersenyum bahagia. “Nado. Nado. Saranghae Cho Kyuhyun.” Ujarnya dengan bahu bergetar.
Lalu, ia membuka halaman selanjutnya hingga sampai pada foto terakhir. Yaitu foto Kyuhyun yang sedang menggandeng tangan mungil Ryeowook di jalan pada malam hari, foto ini diambil oleh teman mereka saat mereka dan juga teman – temannya berlibur.
“Hiks .. ini yang terakhir .. hiks .. wae? Hiks .. wae? Kenapa masih sulit untuk menerima kenyataan ini? Hiks .. wae?” ujar Ryeowook dengan isak tangis pelan. Ryeowook memeluk buku album itu erat – erat. “Bogoshippoyo …. “ ujar Ryeowook masih dengan isak tangis pelan.

…..

Surat terakhirmu berkata “Aku akan melihatmu dari jauh.”
Aku tak bisa menerimanya dan memanggilmu lagi dan lagi.
Aku tak bisa berhenti menangis, aku ingin melihatmu sekarang.
Apa yang salah dengan diriku? Ketika aku sangat mencintaimu?

 

[Tahun 2012, Seoul. Musim Semi]

 

Isakan tangisan dari orang – orang menggema di lorong rumah sakit itu. Suara – suara pekikan, dan suara – suara orang yang menenangkan menggema menjadi satu.
Ryeowook menangis meraung – raung sambil mencoba masuk ke ruangan, namun orang – orang menahannya.
“Lepaskan .. hiks … aku mau bertemu Kyuhyun Oppa … hiks … lepaskan … Kyuhyun Oppa belum mati ..hiks .. belum .. hiks … jangan halangi aku ….” Ryeowook menangis dan berteriak kesetanan dengan berusaha melepaskan diri.
“Ryeowook .. sadarlah … Kyuhyun sudah mati .. sadarlah ..” ujar Donghae, sahabat Kyuhyun menyadarkan.
“Andwae …. hiks … anio .. hiks … Kyuhyun Oppa belum mati … hiks .. belum ..” pekiknya lagi.
“Jangan halangi aku .. hiks .. aku .. hiks … ingin bertemu dengannya .. hiks …” teriak Ryeowook lagi.
Donghae mengguncang tubuh Ryeowook menyadarkan. “Ryeowook! Kumohon sadarlah! Relakan Kyuhyun, jangan begini! Kyuhyun akan sangat sedih melihatmu seperti ini!” teriak Donghae tak sabar. Mendengar itu Ryeowook berhenti berteriak, ia menangis sesenggukan membenarkan ucapan Donghae.

“Kyuhyun oppa .. hiks .. katakan itu .. hiks .. tidak benar oppa ..” ujar Ryeowook pelan. Tubuh Ryeowook lemas, rasanya ia tak bisa menahannya lagi. ia semakin merosot dan merosot sampai akhirnya ia jatuh terduduk jika tak ditahan Donghae.
“Kyuhyun oppa …”
“Kyuhyun oppa ..”
“Kyuhyun oppa …. kenapa kau meninggalkan aku?” ujar Ryeowook lemah masih dengan tangisannya.
Orang – orang yang melihat Ryeowook begitu nyeri, sedih, iba dan getir, mereka tak tega melihat Ryeowook begitu.
“Wae oppa?”
“Wae?”
“Katakan padaku oppa ..” ujar Ryeowook masih dengan tangisan namun isakannya sudah normal.
Eunhyun mengelus punggung Ryeowook prihatin, “Bersabarlah Ryeowook .. relakan ia pergi.” Ujar Eunhyuk menasehati.
“Aku tak bisa, aku tak bisa eonnie, aku tak bisa.” Ujar Ryeowook keukeuh.
“Kau pasti bisa Ryeowook, kau bisa.” Ujar Donghae sambil menatap manik mata Ryeowook dengan memegang kedua bahu Ryeowook.
“Aku tak bisa oppa, aku tak bisa.” Ujar Ryeowook tetap keukeuh.
“Anio .. kami semua percaya kau pasti bisa Wookie seperti Kyuhyun percaya padamu.” Ujar Sungmin tegas sambil memandang Ryeowook. Ryeowook menatap Sungmin bingung dan juga heran. Sungmin dengan perlahan berjongkok di depan Ryeowook sambil menyerahkan sebuah surat.
“Ini surat dari Kyuhyun, ia memberikanku ini sebelum ia operasi. Dan ia menyuruhku memberikannya padamu jika terjadi kejadian seperti ini. Bacalah dan kau akan mengerti.” Ujar Sungmin tegas. Ryeowook mengambil surat yang ada di tangan Sungmin dengan tangan bergetar.
Ryeowook membuka amplop itu dan mulai membaca surat itu.

For my sweetie, Kim Ryeowook.

Aku tahu, kau pasti menangis sejadi – jadinya tadi mendengar berita yang err ~ menyedihkan mungkin. Ck! Dasar cengeng! Haha. Berhenti menangis ne. Kau tahu kan aku tak akan meninggalkanmu. Jadi, jangan seperti tadi ne. Aku tak suka melihat Ryeowook-ku menangis. Jika kau menangis, hatiku sakit. Kau tak mau kan melihat hatiku sakit? Aku tahu kau tak akan mau.

Oh iya, neomu gomawo untuk semua rasa kasih sayang, perhatianmu, dan semua kenangan – kenangan manis darimu yang telah mengisi penuh kehidupanku ini. Aku sangat berterima kasih kepada Tuhan karena telah mempertemukan aku dengan yeoja sepertimu. Aku sangat bersyukur bisa mengenalmu dan menjalin hubungan denganmu.

Wookie, neomu mianhae. Mian karena aku tak bisa menemanimu makan es-krim lagi, mengajakmu kencan ke taman lagi. Mian jika aku sering memaksakan kehendakku padamu, walaupun kau kelihatannya biasa – biasa saja dan menerimanya dengan lapang dada xD plak. Mian karena aku tak bisa memenuhi janjiku untuk apa Cho Kyuhyun dan Kim Ryeowook akan lakukan. Mian ne.
Untuk semua impian – impian kita, kau bisa melakukannya dengan orang lain atau mungkin err ~ melupakannya. Jika kau memilih untuk melakukannya dengan orang lain, kau harus memilih namja yang tepat. Aku sarankan kau memilih namja yang lebih keren, lebih tampan dan lebih mengerti dirimu. Kekkeke :p

Jangan terlalu bersedih, aku tak suka melihatmu sedih. Kau tahu kan aku akan selalu bersamamu, selalu menjagamu, dan selalu ada di setiap langkahmu, dan aku selalu berada di sampingmu. Ingat itu.

Aku tidak mati, aku hanya pergi jauh ke tempat yang lebih baik. Percaya padaku. Aku selalu berada pada setiap jengkal langkahmu. Aku malah lebih suka dengan keadaanku sekarang, invisible. Jadi aku bisa mengikuti kemanapun kau pergi, jadi aku tak khawatir. Dan mungkin aku akan ikut kau masuk ke kamar mandi. xD Plak. Abaikan yang itu. Kekekekke, aku hanya bercanda.

Hidup yang lebih baik ne. Dan temukan namja tampan untuk menggantikan posisiku, jangan terlalu bersedih, makan yang banyak ne. Lambat laun kau pasti bisa menerima ini semua. Kau yeoja yang kuat, aku tahu itu dan aku sangat mempercayai itu.
Hei, ngomong – ngomong mungkin sekarang aku ada di depanmu. Jadi sebelum aku benar – benar pergi, bisakah kau tersenyum padaku? Aku akan melihatmu dari jauh.

Dari seseorang yang tampan dan juga keren, Cho Kyuhyun. Chu :*

Ryeowook terkekeh geli dalam tangisnya lalu menganggukan kepalanya.
Ryeowook menatap ke depan sambil tersenyum. Orang yang melihatnya tersenyum getir.
Tanpa mereka sangka, Kyuhyun berdiri disana. Ia berdiri di depan Ryeowook dengan senyuman manis melihat Ryeowook tersenyum, walaupun mereka tak melihatnya.

…..

Biografimu yang familiar dan tanganmu menggenggam punyaku.
Aku masih mengingatnya seperti hari – hari kemarin.
Kita berpelukan, tersenyum dan berciuman dan menggenggam satu sama lain.
Aku tak bisa melihat apapun, aku bahkan telah melupakan mimpi – mimpiku.

 

[Tahun 2012, Seoul. Musim Panas]

 

Ttok Ttok Ttok ..
Suara ketukan pintu yang pelan mengalun dalam ruangan gelap itu. Ruangan yang dipenuhi lembaran – lembaran kertas dan foto – foto yang berserakan. Di tengah kegelapan itu, seorang yeoja mungil dengan rambut kusut duduk meringkuk memegangi lututnya dengan mata sembab dan sayu. Keadaannya benar – benar jauh dari baik.
“Wookie .. bukalah pintunya. Makan ne …” suara samar – samar terdengar dari balik pintu. Yeoja mungil itu menatap lurus ke pintu dengan pandangan kosong.
“Ryeowook .. ini Eunhyuk eonnie … bukalah pintunya dan makan ini. Eonni bawakan es-krim jumbo rasa coklat kesukaanmu. Apa kau tak ingin memakannya? Buka pintunya ne …”
“Wookie …”
“Wookie …”

Kita beralih ke luar kamar. Disana terdapat Eunhyuk yang masih setia mencoba membujuk Ryeowook untuk membuka pintu, sedangkan Sungmin dan Donghae hanya bisa menatap pintu kamar Ryeowook itu dengan nanar.
Donghae menepuk bahu Eunhyuk pelan. “Sudahlah, sepertinya ia tak akan keluar.” Ujar Donghae pasrah. Mata Eunhyuk berkaca – kaca menatap namjachingunya. “Ini sudah 2 minggu setelah kematian Kyuhyun, tapi kenapa Wookie masih begitu ..” ujar Eunhyuk sedih. Donghae menatap yeojachingunya prihatin.
Bahunya bergetar. “Hiks .. Dia pasti sangat kehilangan, dia pasti membutuhkan aku di dalam. Dia .. hiks … Wookie … hiks …” Eunhyuk menangis dalam pelukan Donghae. “Nde. Aku tahu. Aku tahu.” Ujar Donghae sambil mengelus punggung Eunhyuk menenangkan. Sungmin hanya bisa diam sambil menatap dengan tatapan kesal dan juga prihatin.

Lalu, kita kembali ke dalam kamar Ryeowook.
Ia masih menatap lurus ke depan dengan tatapan kosong. Ia sedang memikirkan kenangan – kenangan manis bersama Kyuhyun.

Ryeowook dan Kyuhyun berjalan beriringan di pantai.
Kyuhyun melirik tangan dan wajah Ryeowook bergantian dengan tatapan berbinar – binar harap. Ryeowook yang merasa risih dilirik Kyuhyun terus menolehkan kepalanya.
“Wae?” tanya Ryeowook heran.
“Itu …” ujar Kyuhyun dengan sedikit malu – malu sambil menunjuk tangan kanan Ryeowook.
“Apa?” tanya Ryeowook masih tak mengerti.
“Tangan …” jawab Kyuhyun.
“Tangan?” tanya Ryeowook heran dan juga penasaran.
Kyuhyun menganggukan kepalanya antusias. “Aku tak mengerti Kyu.” Ujar Ryeowook polos. Mendengar penuturan Ryeowook, Kyuhyun memanyunkan bibirnya kesal. Lalu dengan cepat Kyuhyun menggenggam tangan kanan Kyuhyun erat – erat.
“Kau lama.” Ujar Kyuhyun sambil menarik tangan mungil Ryeowook, dan Ryeowook hanya bisa mengikuti Kyuhyun dengan senyum malunya.

Beralih ke flashback yang lain.

“Saenggil chukkae hamnida my sweetie, Kim Ryeowook.” Ujar Kyuhyun sambil menyodorkan kue cup brownies kecil yang di atasnya terdapat 1 lilin kecil.
Dengan senang Ryeowook mencium bibir Kyuhyun cepat. “Gomawo ..” ujar Ryeowook dengan malu – malu sambil menundukkan kepalanya.
“Baiklah, sepertinya hadiah ulang tahunku bulan depan sudah ku dapatkan. Kekekke, baik. Jadi, sekarang buat permohonan lalu tiup lilinnya.” Ujar Kyuhyun sambil mengangkat kue cup brownies kecil itu. Ryeowook menganggukan kepalanya dengan semangat lalu ia menggabungkan kedua tangannya dan memejamkan matanya sambil tersenyum manis.
‘Tuhan, aku tak ingin memohon yang aneh – aneh. Aku harap dia selalu ada di sampingku.’
Ryeowook membuka matanya, lalu meniup lilin itu lembut dengan senyuman menghiasi wajah manisnya.

Kembali ke masa sekarang.
Tatapan mata kosong Ryeowook meneteskan air mata mengingat kenangan – kenangan manis tadi. Tanpa ia sadari, sesosok pemuda dengan mata sayu dan sedih memandang yeoja itu di sampingnya. Pemuda itu adalah Kyuhyun.

…..

Kau selalu menulis suatu kata – kata manis pada saat ulang tahun kita.
Namun sekarang kita tak akan pernah bisa kembali ke hari itu.

 

[Tahun 2013, Seoul. Musim Semi]

 

Ryeowook menapakkan kakinya ke universitasnya, sudah beberapa bulan Ryeowook kembali bangkit dari keterpurukannya. Ia sudah mulai beraktivitas seperti biasanya, bedanya sekarang ia jarang tersenyum dan semakin kurus.
Ryeowook memeluk buku – bukunya dengan erat, lalu menghembuskan nafas berat.

Ia mengeluarkan ponselnya dari saku bajunya, lalu memencet sederetan angka.
“Yeoboseo …”
“Sungmin Oppa, jangan menjemputku. Setelah ini aku ada urusan. Mian ne.” Ujar Ryeowook singkat lalu mematikan hubungan telponnya.

Ryeowook melangkahkan kakinya pergi dari lingkungan universitas, ia terus berjalan sampai akhirnya ia menghentikan langkah kakinya di halte, tempat dimana Ryeowook dan Kyuhyun pertama kali bertemu. Ia melangkah dengan pelan ke bangku halte, ia menyentuh bangku besi yang dingin itu secara perlahan, mencoba menyentuh kenangan – kenangan hangat yang masih teringat disana.

Kyuhyun menuntun Ryeowook berjalan dengan hati – hati menuju halte tempat mereka bertemu pertama kali, karena mata Ryeowook ditutup dengan kain.
“Apa sudah sampai?” tanya Ryeowook penasaran.
“Ah nde, kita sudah sampai. Bukalah ikatannya.” Ujar Kyuhyun sambil tersenyum senang.
“Ne.” Ujar Ryeowook senang sambil membuka ikatan matanya. Ikatan kain itu terlepas dan dalam sekejap Ryeowook membulatkan matanya sambil menutupi mulutnya yang menganga tak percaya.
“Kyu .. kau yang membuat ini semua?” tanya Ryeowook terharu. Bangku halte itu kini berubah, bangku itu kini banyak origami – origami yang tersebar dengan apik dan indah.
“Heheheh, aku …” belum sempat Kyuhyun melanjutkan kalimatnya, Ryeowook memeluknya dengan erat.
“Neomu gomawo, aku sangat menyukainya.” Ujar Ryeowook tulus dengan mata berbinar – binar.
“Bukalah ..” ujar Kyuhyun lembut.
“Apa?” tanya Ryeowook heran.
“Origami – origami itu.” Ujar Kyuhyun sambil menunjuk origami – origami di bangku halte itu.
“Apa ada isinya?” tanya Ryeowook menebak.
“Bukalah ..” ujar Kyuhyun. Dengan pelan Ryeowook membuka origami berwarna kuning, dan ia langsung membulatkan matanya kala membaca isi dari origami itu.
‘Kamu adalah alasanku untuk bangun di pagi hari. Saranghae, Ryeowook.’
Ryeowook tersipu malu setelah membaca itu, lalu ia membuka origami berwarna coklat.
‘Aku mencintaimu di setiap langkahku.’
Lalu, Ryeowook membuka yang lain dan yang lain dan yang lainnya sampai yang terakhir masih dengan semburat merah yang menjalar di pipinya karena kata – kata manis yang ditulis Kyuhyun untuknya.
‘Selamanya adalah waktu yang lama. Namun, aku tak keberatan jika menghabiskan waktu itu bersama berada di sampingmu.’
Ryeowook menundukkan kepalanya dengan tersipu malu. Kyuhyun yang melihatnya tersenyum senang.
“Ini hadiah ulang tahun kita yang ke-3. Dan kau sangat menyukainya, jadi apa aku boleh mendapat hadiahku sekarang?” tanya Kyuhyun sambil mengedipkan sebelah matanya nakal.
“Hihihiih, aku tak punya hadiah untukmu. Tapi aku punya ini untukmu.” Ujar Ryeowook sambil mencium bibir Kyuhyun, dengan ragu – ragu Ryeowook melumat bibir Kyuhyun, mengingat selalu Kyuhyun yang memulai, tapi karena ini ulang tahun hubungan mereka yang ke-3, maka tak apa kan jika Ryeowook yang memulai. Dan akhirnya, mereka berciuman dengan mesra menghiraukan orang – orang yang berlalu lalang.

Ryeowook duduk, lalu mengeluarkan kue cup brownies kecil dan meletakkannya di sampingnya, di tempat Kyuhyun duduk dulu. Ia menyalakan lilin berbentuk angka 4 dengan tersenyum getir. “Ini ulang tahun kita yang ke – empat. Kau masih ingat kan? Dan ini hadiah untukmu.” tanyanya entah pada siapa, mengingat disana tak ada siapapun, hanya orang berlalu lalang.

Lalu, ia duduk seperti saat pertama kali bertemu dengan Kyuhyun sambil menatap lurus ke depan dengan tatapan kosong. Terlihat seorang pemuda menatap Ryeowook dengan tersenyum getir dari kejauhan. “Kau masih tak bisa melupakannya eoh? Seharusnya aku tahu itu.” Pemuda itu mendengus pelan, lalu mendongakkan kepalanya ke atas merasakan angin musim semi menerpa wajahnya. Pemuda itu adalah Sungmin.

Sedangkan, tampak Kyuhyun duduk bersebelahan dengan kue cup brownies kecil itu sambil menatap Ryeowook sedih. Nyala lilin itu bergerak kesana kemari ditiupkan angin musim semi, hingga akhirnya api lilin itu padam.

…..

Tak perduli bagaimana sakitnya ini, aku harus terus berjalan ke depan.
Pasti ada sebuah jalan yang harus ku ambil.
Ya, aku mulai memahaminya, aku tak akan menyerah.
Karena mimpi ini begitu berharga, suatu hari.

 

[Tahun 2014, Seoul. Awal Musim Semi.]

 

Ryeowook meremas – remas tangannya dengan gelisah. Ia memandang dosen pembimbingnya yang ada di depannya dengan harap – harap cemas.
Dosen itu memandang Ryeowook sebentar, lalu memandang skripsi Ryeowook dengan muka datar.
Ryeowook menutup matanya berharap tak akan terjadi sesuatu yang tak ia inginkan.
‘Aku harap tak ada kesalahan. Aku mohon.’ Pinta Ryeowook dalam hati.

“Selamat Nona Kim Ryeowook, skripsi Anda saya terima.” Ujar Dosen itu sambil menunjukkan senyum manisnya. Mendengar itu, Ryeowook membelalakkan matanya tak percaya. Ia pikir ia akan gagal.
“Be .. be .. benarkah itu?” tanya Ryeowook tak percaya. Dan dosen itu menganggukan kepalanya. Ryeowook mengembangkan senyum kebahagiaannya.
“Gamsahamnida seongsangnim … neomu gamsahamnida …” ujar Ryeowook sambil membungkukkan badannya, lalu membalikkan badannya untuk keluar dari ruangan.

‘Kyu .. aku berhasil. Aku berhasil. Aku berhasil. Aku akan melanjutkan mimpimu untuk menjadi seorang pengacara. Saranghae Cho Kyuhyun.’ Batin Ryeowook senang.

***

“Chukkae ….” ujar HaeHyuk dan Sungmin bersamaan sambil meniup terompet kecil.
“Hihihiih, neomu gomawo ne.” Ujar Ryeowook dengan kekehan gelinya.
“Whoooaaah … lihat! Sekarang Ryeowook kembali menjadi Ryeowook yang dulu yang selalu tersenyum. Aku menyukai nae yeodongsaeng yang seperti ini.” Ujar Donghae sambil merangkul bahu Ryeowook.
“Chagi .. jangan merangkulnya seperti itu. Kalau kau tak segera melepaskannya, aku akan marah.” Ujar Eunhyuk berpura – pura merajuk.
“Ah .. hahhaha, nde. Aku akan melepaskannya asal kau beri aku sebuah ciuman dulu.” Ujar Donghae menggoda Eunhyuk.
“Mwo? Yang benar saja!” ujar Eunhyuk menahan malu.
“Kekekke, kalian sangat romantis.” Ujar Ryeowook.
“Oh, tentu saja.” Ujar Donghae sambil melepas rangkulannya dari Ryeowook lalu mencium pipi Eunhyuk sekilas yang berhasil membuat wajah Eunhyuk merah padam karena malu.
Melihat itu Ryeowook terkekeh geli.
“Chukkae ne .. Kim Ryeowook.” Ujar Sungmin yang tiba – tiba sudah berada di depan Ryeowook sambil mengacak – acak rambut Ryeowook pelan dan penuh kasih sayang. Ryeowook membelalakkan matanya tak percaya, lalu dengan pelan ia memandang Sungmin

…..

Surat terakhirmu berkata, “Aku akan melihatmu dari jauh.”
Aku tak akan menangis lagi sekarang;aku bisa memberimu lagu ini.
Aku yakin ini bukan suatu perpisahan;aku tersenyum di jalanku.
Jadi itu adalah jalan yang telah terpilih, kita akan bertemu kembali.

 

[Tahun 2014, Seoul. Akhir Musim Semi.]

 

Bunga – bunga bermekaran dengan indahnya, anak – anak berlarian, banyak kupu – kupu yang berterbangan dan hinggap di atas bunga, burung – burung bernyanyi dengan indahnya, anjing – anjing yang saling berkejar – kejaran. Musim semi tahun ini sungguh sangat menyenangkan, seperti raut wajah Ryeowook. Yeoja mungil itu berjalan dengan bahagia melewati jalanan taman itu. Ia mengenakan dress krem yang dipadukan dengan blazer kuning, benar – benar mencerminkan kalau ia tengah bahagia. Rambutnya digerai begitu saja menambahkan kecantikan dirinya.

“Ryeowook.” Sapa Tan Ahjussi yang bekerja sebagai pengurus taman kota.
“Ah .. anyeooong Tan Ahjussi.” Ujar Ryeowook senang sambil membungkuk.
“Hahaha, anyeong nona Ryeowook. Kelihatannya kau begitu bahagia pagi ini. Apakah kau akan berkencan?” tanya Tan ahjussi menggoda. Ryeowook menundukkan kepalanya malu. “Ah .. anio ahjussi. Bukan. Aku hanya ingin bermain disini saja.” Ujar Ryeowook.
“Nde. Nde. Aku tahu.” Ujar Tan ahjussi mengerling nakal.
“Ah, aku harus pergi dulu. Pai – pai ahjussi.” Ujar Ryeowook sambil membungkuk lagi.
Ryeowook melanjutkan perjalanannya lagi.

***

Ryeowook memandang bangku yang sering ia duduki dengan Kyuhyun ke taman. Lalu, ia membuang nafas beratnya.
‘Aku datang Kyu.” Batin Ryeowook.

Ryeowook duduk di bangku itu sambil menatap anak – anak yang saling berkejar – kejaran. Bunga – bungan yang bermekaran dengan indahnya ditambah dengan warna – warni kelopak bunga itu sendiri.

‘Hari ini aku merindukanmu lagi. Tapi aku tak menangis lagi seperti dulu.’
‘Aku kuat kan?’
‘Kau selalu ada di sisiku kan Kyu?’ batin Ryeowook dengan tersenyum senang.
“Ehm … Mau segelas es lemon?”
DEG
Ryeowook membelalakkan matanya.
Ia menolehkan kepalanya ke samping, melihat siapa yang menyodorkan segelas es lemon yang ada di depannya ini.
Namja itu tersenyum manis pada Ryeowook. “Kyu ..” gumam Ryeowook tak percaya dengan mata berkaca – kaca senang

 

FIN
~~~~ ><)))’> >< <’(((>< ~~~~
Anyeeeeoooong chingu –deul.
Frisca yang kawaii ini datang lagi sama cerita yang gaje-nya enggak ketulungan xD
Entah kenapa, aku jadi pengen buat oneshot kayak begini.
Padahal hatiku lagi berbunga – bunga loh, tapi kok pengen buat ff yang modelnya kayak gini. -_-“
Sudahlah, abaikan saja.

Jadi oneshot ini terinspirasi sama lagunya Aoyama Thelma yang judulnya Last Letter. Dan tahu enggak, dimana gue dapet inspirasi ini? Pas gue ada di toilet! xD Plak. Inspirasi datengnya dari mana – mana, termasuk tempat – tempat tak terduga. 😀

Itu, gimana pendapat kalian tentang ini?
Apa membingungkan?
Apa membosankan?
Apa kurang menarik?
Apa terlalu datar?
Apa feel-nya enggak dapet?
Terus gimana endingnya? Apa enggak jelas kayak orang yang buat ini?
Atau apa, apa, apa, dan apa?

Mohon review-nya ne 😉
Gomawo.
With LOVE! ~Frisca Freshtie

LOVE Is CRAZY 3

Gambar

Frisca Freshtie Present …

***

L O V E Is C R A Z Y

.
.
.
.

Pairing : KyuWook/Slight YeMin, SiBum
Rate : T
Genre : Romance, Friendship, Comedy, Gaje, Abal – Abal, Failed!
Author : Frisca Freshtie
Cast :
• Cho Kyuhyun (Namja)
• Kim Ryeowook (Yeoja)
• Kim Yesung (Namja)
• Lee Sungmin (Yeoja)
• Choi Siwon (Namja)
• Kim Kibum (Yeoja)
• Lee Donghae (Namja)

.
.
.
.

WARNING !!!
Pengumuman …. Cerita ini sunggu abal dan absurd seperti orang yang membuat cerita ini. Jadi jika Anda tidak suka dengan cerita saya ini. Tolong jangan nge-bash ya T^^T
Dan typo bersebaran 😉
Terima Kasih O:)
HAPPY READING CHINGU-DEUL ^^

.
.
.
.

Summary :
Cinta itu Gila! Sebuah pertemuan yang akan menaikturunkan dan menjungkirbalikkan dunia mereka dan perasaan mereka. Sebuah pertemuan yang akan membawa banyak sekali bunga – bunga yang berduri sampai berbau harum. Sekali lagi, Cinta itu Gila!

.
.
.
.

Kyuhyun berjalan dengan bersiul – siul sambil mendengarkan musik yang mengalun lewat earphone yang dipakainya dengan gaya cool-nya. Dan tentu saja, kegiatan Kyuhyun ini membuat para yeoja di universitasnya menjerit – jerit tak karuan layaknya orang kerasukan. Kyuhyun yang memang sifatnya sok cool walaupun memang cool #ApalahIni? mengedipkan sebelah matanya pada kumpulan yeoja – yeoja yang dilewatinya tadi.
“Aaaaah .. Kyuhyun Oppa …..”
“Aaaah .. Kyu Oppa …. tolong …. lihat aku oppa …..”
“Kyaaa .. Kyuhyun Oppa … apakah kau membuka lowongan untuk pembantu di rumahmu?”
“Uaaaah .. Kyu Oppa mengedipkan sebelah matanya padaku!”
“Kyuhyun Oppa .. jadikan aku yeojachingumu Oppa …”
“Oppa, jadi kekasih gelapmu-pun aku mau Kyuhyun Oppa …”
“Kyaa .. Senyum Kyuhyun Oppa ….”
“Kya .. Kyuhyun Oppa .. kenapa kau begitu tampan?”
“Aaaah .. Kyuhyun Oppa menikahlah denganku Oppa?”
“Oppa .. Oppa .. lihat aku Oppa!”
“Kyuhyun Oppa .. kau begitu keren!”
“Oppa .. kau membuatku gila!”
“Kyaaaa … kau sungguh tampan Oppa …”
“Kyuhyun oppa …”
“Kyuhyun oppa ….”
“Kyuhyun oppa ….”
Jeritan – jeritan dari fansgirl Kyuhyun berkoar – koar di universitas. Kyuhyun menyeringai senang dan bangga mendengar pujian – pujian yang dilontarkan fansgirl-nya sambil terus berjalan menuju mobilnya dengan angkuhnya.

Tuit Tuit ..

Suara kunci pintu mobil mewah Kyuhyun terbuka.
Kyuhyun membuka pintu mobilnya dan melepas tas ranselnya, lalu ia melempar tas ransel itu ke tempat duduk di samping tempat duduk kemudi. Dan ia-pun masuk.
Kyuhyun menghidupkan mesin mobilnya, lalu melajukan mobilnya keluar dari lingkungan universitas.
Selama perjalanan Kyuhyun mendengarkan musik dari earphone-nya dan melantunkan lagu – lagu yang ia dengar. Sampai ia mendapat telepon dari Appa-nya. Raut mukanya langsung berubah kusut.
“Yeobboseo …” ujar Kyuhyun dengan wajah sedikit malas
“An, nde.” Ujar Kyuhyun masih dengan wajah malas.
“Sekarang?” Kyuhyun memutar matanya kesal.
“Baik, aku mengerti Appa.” Kyuhyun melirik jam tangannya. “Aku akan tiba disana 20 menit lagi.”
“Ne.” Ujar Kyuhyun sambil mematikan sambungan telepon.
Kyuhyun menghela nafas kesal sambil mencoba fokus pada jalanan lagi.

.
.
.
.

Ryeowook keluar dari rumah Sungmin dengan rambut urak – urakan, muka polos tanpa make-up, berkas – berkas pekerjaan dan blazer ungu sertas tas kecil di tangan kanannya. Sedangkan tangan kirinya ribut untuk memakai high-heelsnya. Dan jangan lupa, di mulutnya terdapat roti bakar isi coklat yang masih utuh.
Setelah selesai dengan sepatu high-heelsnya, tangan kirinya segera mengambil roti bakar dari mulutnya.
“Minnie eonnie, aku berangkat dulu ne.” Ujar Ryeowook sambil berlari keluar dari pekarangan rumah Sungmin.
Ryeowook menjulurkan kepalanya ke jalan, melihat apakah ada taxi atau tidak.
Setelah melihat ada taxi, ia segera menyetop taxi itu dengan tak sabarannya.
“Berhenti.” Ujar Ryeowook sambil meloncat – loncat di tengah jalan layaknya orang senam dengan masih membawa roti-nya.
Tentu saja perbuatannya ini mencuri perhatian orang – orang dan juga membuat taxi itu berhenti tepat di depannya.
Ryeowook tersenyum senang sambil berlari kecil masuk ke taxi.
“Cho Corporation ne .. ahjussi.” Ujar Ryeowook sambil meletakkan berkas – berkas pekerjaan dan blazernya ke samping tempat duduk Ryeowook.
Ahjussi itu menganggukan kepalanya, lalu dengan segera melajukan taxinya.
Ryeowook menghela nafas lega, lalu ia melirik jam tangannya. Ia membelalakkan matanya.
“Ahjussi, bisakah kau lebih cepat sedikit? Aku sedang buru – buru sekarang. Ppalli! Ini sudah sangat siang.” Ujar Ryeowook panik.
“Ne.” Ujar Ahjussi itu sambil mempercepat laju taxinya.
Ryeowook lalu memakai blazernya dan mengucir rambutnya asal, setelah itu Ryeowook memakan roti bakarnya dengan kesal. “Dalam keadaan seperti ini, aku tak bisa menikmati sarapan pagiku menjelang siang dengan tenang.” Ujar Ryeowook kesal.
“Ini gara – gara Minnie eonnie yang tak mau membantuku untuk berbenah tadi malam! Sungguh terkutuk kau eonnie! Kau menyebalkan!” gerutu Ryeowook dengan mulut penuh roti yang belum ditelan.

***

Ryeowook telah tiba di perusahaan tempatnya bekerja.
“Gomawo ne ahjussi ..” ujar Ryeowook sambil keluar dari taxi dengan menjulurkan uang untuk membayar pada supir taxi itu.
Ryeowook merapikan penampilannya sebentar, lalu menghembuskan nafas untuk menyemangati dirinya.
“Hei, Nona Ryeowook. Anda terlambat lagi eoh?” tanya Park Ahjussi, penjaga pintu masuk Cho Corporation dengan senyuman khasnya.
“Hehehhe, nde ahjussi.” Ujar Ryeowook dengan nyengir kuda.
“Haha, selamat berkerja. Berjuang! Oh iya, cepat masuk. Udara sangat dingin siang ini.” Ujar Park ahjussi menyemangati dan menasehati.
“Kim Ryeowook! Berjuang! Gomawo ahjussi.” ujarnya menyemangati dirinya sendiri, lalu masuk ke tempat kerjanya.
Tubuh Ryeowook hilang ditelan gedung bertingkat itu.

Setelah beberapa detik, datanglah mobil sport hitam mewah dan berhenti di depan gedung itu.
Para karyawan langsung menghampiri mobil itu dengan cepat dan segera membungkukkan badan mereka.
Lalu, keluarlah seorang namja tampan yang mengenakan jaket baseball putih hitam, jeans abu – abu, earphone yang terpasang di telinganya dan menggendong tas ranselnya dengan gaya cool-nya.
Semua orang membungkuk menyambutnya, para yeoja – yeoja tersenyum senang melihat namja itu.
Dengan santainya, namja itu berjalan masuk ke dalam gedung melewati mereka tanpa menghargai mereka. Dan sesampainya di dalam gedung, suasananya-pun sama. Setelah melihat namja itu, semua orang yang ada disana membungkukkan badannya.
Dengan angkuhnya, namja muda nan tampan itu masuk ke lift.
Di dalam lift itu hanya ada dia dan err … yeoja yang tengah merapikan rambutnya dengan berkaca ke dinding lift sehingga membelakangi namja tampan itu.
“Ehm ..” dehem namja itu dengan angkuhnya.
Yeoja itu masih sibuk merapikan rambutnya. Merasa dicuekin, namja tampan itu berdehem lebih panjang lagi.
“Ehmmmmmmm ….”
Yeoja itu dengan kesalnya membalikkan badannya dan menatap dongkol namja muda di depannya.
“Ne? Apa kau merasa terganggu huh anak kecil?” tanya Ryeowook dengan kesal.
Namja itu tersenyum senang. “Ah .. mian noonna ….” ujar namja itu dengan nada senang.
Hening. Ryeowook masih sibuk merapikan pakaiannya, sedangkan namja yang berada di sampingnya sibuk menatap Ryeowook intens.
Merasa risih ditatap oleh namja itu, Ryeowook membuka suara. “Wae? Apa ada yang salah?” tanya Ryeowook heran.
“Apa kau tak mengenalku?” tanya namja itu dengan angkuhnya.
Ryeowook menatap namja itu dari atas sampai bawah. “Anio. Aku tak mengenalmu.” Ujar Ryeowook dengan muka polosnya.
“Jinja? Apa kau tak ingat aku?” tanya namja itu tak percaya.
Ryeowook mengangguk – anggukan kepalanya polos.
“Aiiis .. jinja .. yang benar saja. Ini tak lebih dari 2 hari dari pertemuan kita pada malam itu.” Ujar namja itu frustasi.
“Ah, jinja? Apa benar kita pernah bertemu?” tanya Ryeowook memastikan.
“Aigooo .. apa kau tak yakin padaku?” tanya namja itu meyakinkan.
“Sini .. coba aku lihat.” Ujar Ryeowook sambil menangkup wajah namja itu dan memandangnya lekat – lekat.
Ryeowook memiringkan wajahnya mencoba meneliti wajah namja muda di depannya yang mengaku pernah bertemu dengannya.
Pipi namja itu memerah, jantungnya berdegup tak karuan, darahnya berdesir dengan hebat.
Setelah lama mengamati wajah namja itu, Ryeowook menatap lurus wajah namja itu. “Aku masih tak mengenalmu.” Ujar Ryeowook jujur.
Mendengar jawaban itu namja itu-pun sadar dan segera berekpressi jengkel dan juga kesal.
“Kau ini memang lupa atau pura – pura lupa eoh?” tanya namja itu dengan ketus.
“Aku serius, aku tak mengenalmu anak kecil. Coba noonna yang cantik ini amati lagi ne.” Ujar Ryeowook sambil menatap namja itu lagi masih dengan menangkup wajah namja itu sehingga membuat bibir namja itu sedikit monyong seperti ikan.
Jantung namja itu kembali terpompa dengan kencangnya, darahnya kembali berdesir dengan hebat.
Ryeowook melihat alis namja itu. “Alis sedikit tebal ..”
Lalu, ia menatap mata namja itu dengan kagum. “Kau punya mata hazel eoh? Aku suka.”
Lalu, turun ke hidung namja itu. “Hidung mancung .. aku harap aku punya hidung seperti itu.” Ujar Ryeowook.
Lalu kembali lagi ke mata namja itu, “Eh? Kau punya bulu mata yang lentik eoh? Aiiis .. jinja ??? bahkan bulu matamu lebih lentik dariku?” ujarnya tak percaya sambil mendekatkan wajahnya ke wajah namja itu untuk melihat lebih jelas lagi.
“Aku ingin bulu mata seperti itu.” Ujar Ryeowook layaknya anak kecil yang sedang menginginkan sesuatu.
Namja itu menelan ludahnya melihat wajah Ryeowook sedekat itu denganya.
Ryeowook turun ke bibir namja itu. “Dan bibirmu … mmmpppfh …” belum sempat Ryeowook melanjutkan perkataannya. Tiba – tiba lampu mati dan membuat lift berguncang sehingga membuat bibir mereka bersentuhan.
Ryeowook membelalakkan matanya merasakan daging kenyal menyentuh bibir mungilnya.
Lalu, lampu-pun hidup kembali dan lift kembali berjalan. Melihat bibirnya menyentuh bibir namja itu, Ryeowook langsung melepas bibirnya dari bibir namja itu dan ia langsung mendaratkan tamparan keras ke pipi namja itu.
Namja itu menatap tak percaya pada Ryeowook saat merasakan tangan mungil nan halus milik Ryeowook menyentuh pipinya. Ia memegang pipinya yang panas karena tamparan Ryeowook.
“Aisssh .. jinja? Kenapa menamparku eoh?” hardik namja itu tak terima.
Ryeowook menutup mulutnya tak percaya. Kejadian ini tak disengaja, kenapa malah Ryeowook menamparnya?
“Ah … haha .. mian ne .. itu gerakan refleks.” Ujar Ryeowook dengan tertawa paksa dan juga hambar.

TRING

Suara pintu lift terbuka. Tanpa ba-bi-bu Ryeowook langsung mengambil berkas – berkasnya dan mengambil langkah seribu untuk keluar dari lift.
“Hei .. hei .. hei .. “ panggil namja itu sambil mengikuti Ryeowook keluar dari lift, namun karena Ryeowook sudah berlari jauh namja itu tak bisa menahan Ryeowook.
“Siapa yang Anda panggil Tuan Muda?” tanya pelayan Shin yang tiba – tiba berada di samping Kyuhyun.
“Yeoja itu ..” ujar Kyuhyun sambil menatap lorong di depannya.
“Yeoja? Dimana?” tanya pelayan Shin bingung karena tak melihat yeoja disekitar sana.
“Ah, sudahlah.” Ujar Kyuhyun pasrah.
“Tuan Muda Kyuhyun, Tuan Besar Cho telah menunggu Anda di ruangannya.” Ujar pelayan Shin.
“Ne. Aku akan kesana sekarang.” Ujar Kyuhyun masih dengan menatap lorong di depannya.

.
.
.
.

Yesung menghembuskan nafas bosannya.
“Minnie chagi .. apa kau tak punya waktu luang untuk pergi bersamaku?” tanya Yesung kesal sambil menopang dagunya layaknya anak kecil sambil menampakkan mata anjingnya pada Sungmin yang tengah merapikan gaun pengantin yang dipajang di boutiqenya.
Sungmin terus berkonsentrasi dengan kegiatannya menghiraukan Yesung.
“Apa masih lama Minnie Chagi ..?” tanya Yesung heran dan juga sedikit kesal.
“Ayolah Minnie Chagi, ayo keluar untuk makan siang sebentar ne … sebentar saja.” Pinta Yesung lagi.
Sungmin masih tak bergeming.
“Minnie chagi .. apa kau tak lelah bekerja terus – menerus seperti ini? Nanti kau sakit jika terlalu keras bekerja.” Ujar Yesung lagi sambil mendekatkan diri pada Sungmin.
“Minnie chagi .. apa kau tak punya pegawai disini? Kenapa kau selalu yang bekerja?” tanya Yesung sedikit kesal karena dari tadi dicuekin.
“Minnie chagi .. cuacanya sangat cerah walaupun salju putih sedikit menutupi jalan, apa kau tak ingin melihatnya?” bujuk Yesung lagi.
“Minnie ….”
Belum sempat Sungmin berbalik dan memukul kepala Yesung dengan penggaris. “Diamlah.” Ujar Sungmin datar, lalu melanjutkan lagi kegiatannya tadi.
Yesung menggembungkan pipinya kesal. “Kau selalu saja sibuk.” Gerutu Yesung, lalu duduk kembali di sofa sambil melipat tangannya kesal.
Sungmin melirik Yesung sebentar, lalu ia tersenyum simpul dan kembali fokus dengan kegiatannya tadi.

Sesaat kemudian, pegawai Sungmin datang.
“Nona Sungmin, ini berkas yang Anda minta.” Ujar pegawai itu setelah membungkuk memberi hormat pada Sungmin sambil memberikan berkas pada Sungmin.
“Gomawo ne. Oh iya, setelah ini berikan aku data gaun – gaun yang dipesan kemarin.” Perintah Sungmin.
“Nde. Akan ku kerjakan.” Ujar pegawai itu patuh sambil membungkuk dan keluar dari ruangan.

Setelah pegawai itu pergi, Yesung berdiri dari duduknya dengan kesal. “Aaah .. kenapa kau selalu bekerja? Aku sedang ingin berdua denganmu saja Minnie ..” ujar Yesung.
“Hn ..” gumam Sungmin cuek.
“Yang benar saja, seharusnya yang melakukan pekerjaan itu adalah pegawaimu! Bukan kau chagi ..” ujar Yesung lagi dengan semangat membara.
“Hn ..” gumam Sungmin lagi dengan masih sibuk dengan kegiatannya.
“Minnie …”
“Hn ..”
“Hn ..” gumam Yesung ikut – ikutan.
“Hn ..” jawab Sungmin dengan gumaman lagi.
Yesung mengerutkan dahinya heran. Dari tadi Sungmin hanya bergumam saja, biasanya Sungmin akan melontarkan kata – kata pedas dan menusuk hati.
“Aku ..”
“Hn ..”
“Dia ..”
“Hn ..”
Yesung menyeringai senang, lalu mengambil salah satu bunga di vas yang ada di dekat Yesung.
“Minnie chagi …”
“Hn …”
“Menikahlah denganku ..” pekik Yesung sambil berjongkok di belakang Sungmin yang masih sibuk dengan guannya. Dan pekikannya ini membuat pegawai – pegawai dan pembeli yang ada di boutiqe sontak mengarahkan pandangannya ke Yesung dan juga Sungmin.
“Hn ..”
Semua orang menatap tak percaya.
“Ah .. jinja?”
“Hn ..”
“Kau benar – benar menerimaku?”
“Hn ..”
Yesung langsung membalikkan tubuh Sungmin dan mengangkatnya. “Neomu gomawo …” ujar Yesung sambil memeluk Sungmin erat – erat.
Semua orang yang melihat langsung bertepuk tangan dengan meriah.
“Kyaaaa .. romantisnya ……” pekik salah satu pegawai.
“Aiiiss … jangan peluk – puluk aku!” hardik Sungmin sambil melepaskan diri dari pelukan Yesung.
Sungmin melepas earphone yang terpasang di telinganya yang memang tak terlihat karena tertutup rambut hitamnya yang digerai dengan kesal.
Lalu seorang pegawai menghampirinya dan memberikan selamat padanya dan juga Yesung.
“Mwo?” tanya Sungmin heran.
“Eonnie .. selamat .. aku turut ikut senang mendengar eonnie akan menikah dengan Yesung oppa. Kau sangat beruntung eonnie, Yesung oppa sangat perhatian dan juga tampan.” Ujar salah satu pegawai dengan senang sambil menyalami Sungmin dan juga Yesung.
Sungmin membelalakkan matanya mendengar kata – kata yang terlontar oleh pegawainya itu. “MWO?!?!?!?!” pekik Sungmin. Yesung hanya bisa nyengir kuda.
Sungmin melirik Yesung dengan tatapan yang bisa diartikan seperti ini ‘kau harus menjelaskan semuanya, kalau tidak! Kau akan mati!’
Lagi – lagi Yesung hanya bisa nyengir kuda dengan menggaruk tengkuknya yang pasti tak gatal sama sekali.
“Aaaah .. aku tak menyangka .. akhirnya Anda akan menikah juga.” Ujar sepasang pembeli sambil menyalamati Yesung dan juga Sungmin. Sungmin memaksakan senyumnya untuk menghargai mereka.
“Selamaaaaat …” ujar semua orang di boutiqe itu setelah bersalaman dengan mereka berdua.

.
.
.
.

Kibum gelisah bukan main. Ia terus mondar – mandir di depan kaca jendela cafe Moi Moi Bee. Ia terus melihat ke luar jendela, mencari sesosok seseorang yang sangat ia kagumi.
Ia meremas – remas tangannya gelisah sambil menggigit bibir bawahnya.
“Mencariku nona?” suara bariton dari belakangnya membuat ia membalikkan badannya.
Kibum membulatkan matanya.
“Ah .. kenalkan .. aku Choi ..” belum sempat Siwon melanjutkan kalimatnya, Kibum berlari ke dapur dengan panik dan juga gugup.
Siwon menolehkan kepalanya mengikuti pergerakan Kibum, lalu ia melihat uluran tangannya tadi dengan tersenyum manis. “Siwon ..” lanjutnya lagi dengan tertawa geli.
“Dia gadis yang sangat pemalu.” Ujar Siwon masih dengan tertawa geli.

.
.
.
.

Ryeowook sedang makan siang bersama teman – temannya di kafetaria kantor.
Ryeowook melahap makanannya dengan penuh nafsu. “Ryeowook, apa pagi ini kau lupa untuk sarapan lagi?” tanya Taemin.
Ryeowook menggelengkan kepalanya. “Anio .. aku tadi sudah sarapan, hanya 1 lapis roti saja. Jadi, aku masih lapar.” Ujar Ryeowook dengan nyengir kuda. “Apa kalian tak menanyakan kenapa aku terlambat hari ini?” tanya Ryeowook.
“Untuk apa bertanya? Semua orang yang ada disini tahu kalau kau selalu terlambat!” ujar Taemin tak polos.
Mendengar itu Ryeowook langsung dongkol dan segera menjitak kepala Taemin.
“Aww .. appo ..” ringis Taemin kesakitan.
“Bagus kalau kau kesakitan, itu ganjaran untuk orang yang telah menyakiti perasaanku.” Ujar Ryeowook puitis.
“Cih! Yang benar saja .. Hei, Ryeowook. Apa kau pindah apartemen lagi? kemarin aku ke apartemenmu untuk memberikan kau data penjualan kemarin, tapi apartemenmu kosong, ponselmu juga mati. Jadi aku kembali.” Ujar Henry.
“Hehehhe, ne. Aku pindah lagi.” ujar Ryeowook dengan cengiran khas-nya.
“Apa kau tak lelah terus menerus pindah apartemen?” tanya Taemin tak habis pikir.
“Lalu, sekarang kau tinggal dimana?” tanya Henry.
“Aku tinggal di rumah Minnie eonnie, tapi kalian harus berjanji merahasiakannya ne.” Ujar Ryeowook dengan hati – hati.
Mereka menganggukan kepala mereka.
“Ah .. gomawo chingu-deul .. kalian yang terbaik.” Ujar Ryeowook sambil menunjukkan kedua ibu jarinya.
“Hei Wookie .. lihat yang duduk di belakangmu!” ujar Taemin dengan hati – hati.
“Nugu?” tanya Ryeowook heran sambil menatap Taemin.
“Lihatlah .. ppalli ..” ujar Taemin.
Ryeowook dengan malas – malasan menolehkan kepalanya ke belakang.
Ryeowook membelalakkan matanya. “Aaaaaah … Donghae oppaaaaa ……………” pekik Ryeowook histeris melihat namja yang ia sukai.
Donghae yang mendengarnya hanya bisa tersenyum, semua orang tahu seorang Kim Ryeowook menyukai Lee Donghae, termasuk Donghae. Walaupun Ryeowook tak pernah berbicara tentang perasaannya, tetapi dari tingkahnya saja suda bisa ditebak.
“Anyeong Ryeowook .. oppa duluan ne.” ujar Donghae lembut sambil berlalu pergi.
“Ah .. hahahha … aa .. anyeong oppa ..” ujar Ryeowook dengan tertawa garing.
Ryeowook langsung membalikkan posisinya seperti semula.
“Kau membuatku malu.” Bisik Ryeowook dengan kesal pada Taemin. Taemin hanya bisa nyengir kuda.
Ryeowook menopangkan dagunya, lalu menatap langit – langit kafetaria dengan tatapan menerawang.
“Hoh .. dia begitu tampan dan keren ..” ujar Ryeowook sambil menggigit sendok sup-nya.
“Cih! Yang benar saja. Lebih tampan aku!” ujar Henry narsis.
Mendengar itu, Ryeowook langsung memukul kepala Henry dengan sendok yang tadi di gigitnya.
“Jangan bercanda! Tak ada yang lebih tampan selain Donghae oppa.” Ujar Ryeowook.
Melihat itu, Taemin tertawa geli.
“Eh, apa kau sudah dengar kalau anak dari pemilik perusahaan ini akan mengambil alih perusahaan ini?” tanya Henry serius.
Ryeowook menghentikan kegiatan makannya.
“Aku dengar. Ia sangat tampan dan juga pintar.” Ujar Taemin menimpali.
“Ne. Aku juga mendengar ia bersekolah di Universitas Terbaik di Korea. Ia sangat pintar.” Ujar Henry lagi.
“Hari ini dia kemari untuk bertemu ayahnya.” Ujar Taemin lagi.
“Aku baru tahu.” Ujar Ryeowook.
“Huh, apa sih yang kau tahu selain manajer Lee?” sindir Henry.

CTAKK

Ryeowook kembali memukul kepala Henry dengan sendoknya. “Berhentilah menyindirku.” Ujar Ryeowook ketus.

.
.
.
.

[Di Ruangan Presdir Cho]

“Presdir Cho, Tuan Muda Cho sudah datang.” Ujar pelayan Shin sambil membungkuk hormat.
“Cepat suruh dia masuk pelayan Shin!” perintah presdir Cho.
“Tuan Muda, masuklah.” Ujar pelayan Shin.
Kyuhyun masuk ke ruangan ayahnya.
“Kyu ..” panggil presdir Cho senang sambil berdiri dari kursinya dan berjalan untuk memeluk Kyuhyun.
“Akhirnya kau datang juga.” Ujar presdir Cho sambil menepuk – nepuk punggung Kyuhyun dengan senang.
“Nde abeoji.”
“Ah .. ayo duduk ..” ajak presdir Cho sambil duduk di sofa.
“Jadi?” tanya Kyuhyun dengan muka datar dan juga to the point.
“Ah … hahahaha, sepertinya kau sudah tak sabar.” Ujar presdir Cho dengan tertawa. “Aboeji .. cepatlah ..” ujar Kyuhyun sedikit kesal masih dengan wajah datarnya.
“Baik. Jadi, begini. Semua dewan tak ingin kau langsung menggantikan appa dari jabatan ini. Jadi …” presdir Cho menggantungkan kalimatnya.
“Aku bekerja dulu untuk membuktikan apakah aku layak atau tidak, begitu bukan aboeji?” tanya Kyuhyun tepat sasaran.
“Hahahh, kau sangat pintar Kyu. Nde. Itu benar.” Ujar presdir Cho senang.
“Aku bekerja di devisi apa?” tanya Kyuhyun to the point.
“Divisi Marketing …” ujar presdir Cho.

***

Kyuhyun mengamati sekeliling ruangan yang ada di depannya.
“Jadi? Ini ruanganku sekarang?” tanya Kyuhyun pada pelayan Shin dengan tatapan malas.
“Ne. Benar tuan.” Ujar Pelayan Shin.
Kyuhyun mulai berjalan ke tempat duduknya. “Jadi, apa yang harus ku kerjakan?” tanya Kyuhyun dengan sembari duduk di kursinya.
“Anda yang akan mengkontrol divisi marketing dan juga mengembangkannya, karena akhir – akhir ini penjualan produk kita semakin menurun walaupun tak drastis.” Jelas pelayan Shin.
“Apa aka ada yang membantuku?” tanya Kyuhyun sambil bermain bolpoin di meja.
“Manager Lee yang akan membantu Anda, ia adalah pemimpin divisi marketing.” Ujar pelayan Shin menjelaskan.
“Bagaimana dengan jadwalku? Mengingat aku masih menuntut ilmu.” Tanya Kyuhyun lagi.
“Ah .. ini sudah saya pikirkan. Anda sangat perlu sekretaris untuk mengatur jadwal Anda dan juga untuk membantu Anda.” Ujar pelayan Shin.
“Lalu, siapa dia?” tanya Kyuhyun acuh tak acuh.
“Ini berkas – berkas data karyawan di devisi marketing ini.” Ujar pelayan Shin sembari memberikan satu amplop besar berisikan data – data karyawan – karywati di devisi marketing.
Kyuhyun menerimanya lalu membuka data – data tersebut.
Profil pertama. Kim Taeyeon.
‘Cantik. Manis. Tapi dari wajahnya ia terlihat seperti wanita yang kaku. Aku tak suka.’ Batin Kyuhyun.
Jung Jessica
‘Yang benar saja, dia cantik tapi sayang kelihatan sangat dingin.’ Batin Kyuhyun lagi.
Park Jung Soo
Lee Taemin
Lee Sun Kyu
Kim Hyoyeon



Kyuhyun masih membolak – balikkan kertas yang ada di meja.
Kim Ryeowook
‘Ah wanita ini sudah tua, tak menarik ….’ batin Kyuhyun sambil membaca profil Kim Ryeowook. Lalu, matanya menangkap foto Ryeowook. Kyuhyun membelalakkan matanya terkejut.
‘Yeoja ini …..’
“Sebenarnya kami sudah memilihkan orang yang cocok untuk Anda Tuan, namanya Seo Joo Hyun. Ia lulusan terbaik dari …” belum sempat pelayan Shin menyelesaikan perkataannya. Kyuhyun menyelanya.
“Kim Ryeowook.” Pelayan Shin menatap Kyuhyun bingung.
“Aku ingin Kim Ryeowook yang akan menjadi sekretarisku.” Ujar Kyuhyun serius.
‘Noonna Sweet Caramel Eyes… permainan akan segera dimulai. Bukankah aku sudah bilang kita akan bertemu kembali? Ini akan menarik.’ Batin Kyuhyun dengan seringaian khas-nya.

 

~~~ TBC ~~~

Gomawo buat semua yang udah mau baca dan review cerita abal saya ini T^T

Yang masih bingung, bisa ditanyakan.

Kalo banyak typo, tolong di maafkan ya.

Sudah panjang atau belum?

Update-nya kelamaan apa enggak?

Kata – kata saya membingungkan enggak?

Udah makan atau belon? xD Plak

 

Last! Review ne 😉

With LOVE! ~Frisca

LOVE Is CRAZY 2

Gambar

Frisca Freshtie Present …….

.
.
.

L O V E Is C R A Z Y

.
.
.

Pairing : KyuWook/Slight YeMin, SiBum
Rate : T
Genre : Romance, Friendship, Comedy, Gaje, Abal – Abal, Failed!
Author : Frisca Freshtie
Cast :
• Cho Kyuhyun (Namja)
• Kim Ryeowook (Yeoja)
• Kim Yesung (Namja)
• Lee Sungmin (Yeoja)
• Choi Siwon (Namja)
• Kim Kibum (Yeoja)

.
.
.

W A R N I N G ! ! ! !
Tulisan ini sungguh abal, seabal penulisnya. Typo juga bersebaran. jadi jangan nge-bash ne 😉
Gomawo ^^

.
.
.

H A P P Y R E A D I N G

.
.
.

L O V E Is C R A Z Y

.
.
.

Summary :
Cinta itu Gila! Sebuah pertemuan yang akan menaikturunkan dan menjungkirbalikkan dunia mereka dan perasaan mereka. Sebuah pertemuan yang akan membawa banyak sekali bunga – bunga yang berduri sampai berbau harum. Sekali lagi, Cinta itu Gila!

.
.
.

Ryeowook menekan saklar lampu apartemennya dengan lesu. Ia menghembuskan nafas beratnya.
“Wookie ..” ujar seseorang dengan suara berat oleh orang berbalut jaket hitam dan mengenakan tudungnya di depan ryeowook tepat.
“Aaaaaaaaaah … pencuri …” pekik Ryeowook kaget juga takut. Dengan sigap Ryeowook langsung mengambil pemukul baseball di samping pintu dan memukulkannya ke tubuh orang berjaket hitam itu dengan bernafsunya.
“Dasar kau pencuri! Mati kau! Mati! Mati!” pekik Ryeowook sambil memejamkan matanya dan terus memukuli orang berjaket hitam itu.
Orang itu mengangkat tangannya, mencoba melindungi tubuhnya dari serangan beruntun dari Ryeowook.
“Auw .. aduuuh .. Ryeowook! Aww .. ini aku ..! appo, eh ini aku Oppa!” ujar orang itu sambil menahan sakitnya.
Ryeowook menghentikan serangan beruntunnya. “Oppa?” tanyanya heran sambil memandang orang di depannya.
“Nappeun yeodongsaeng! Ini aku, KIM YESUNG! Oppa-mu!” ujar yesung dnegan kesal dan juga gondok atas perlakuan yeodongsaeng-nya.
“Oppa?” tanyanya lagi tanpa rasa berdosa. “Iya! Ini aku, oppa-mu!” ujar Yesung ketus. “Buahahahaahhaah … Oppa, kau kupukul???” suara tawa Ryeowook menggema di apartemen kecil itu. Melihat Ryeowook yang tertawa dibawah penderitaan Yesung, maka Yesung langsung membekap mulut adiknya itu dengan kesal.
“Hahahhaha …. Mpppfffh … “
“Berhenti tertawa!” perintah Yesung dengan kesal sambil mendelik pada Ryeowook. Ryeowook menganggukan kepalanya dengan antusias.
“Janji?” Tanya Yesung memastikan. Ryeowook menganggukan kepalanya lagi. Dan akhirnya Yesung melepas bekapan tangannya dari mulut Ryeowook.
“Hehehhe .. mian oppa, 26 tahun aku hidup di dunia ini, aku tak pernah sekalipun memukulmu. Appa dan eomma yang biasanya memukulmu. Dan hari ini sejarah tercetak jelas dan juga terpampang dengan jelas di sejarah keluarga Kim! Seorang Kim Yesung, namja berkepala besar dan aneh yang suka sekali membuat masalah di keluarga Kim dipukul oleh adiknya sendiri, yaitu Kim Ryeowook. Sungguh menggelikan dan menakjubkan.” Jelas Ryeowook panjang lebar dengan semangat.
Yesung mendengus dengan kesal. “Dan hari ini juga seorang Kim Yesung yang tampan dan sangat tampan ini akan memberikan pelajaran untuk seorang Kim Ryeowook!” ujar Yesung kesal, lalu memukul kepala Ryeowook dengan gulungan majalah yang ia dapat dari meja.
“Aww .. appo oppa!” pekiknya kesakitan sambil mengelus kepalanya yang tadi dipukul dengan gulungan majalah.
“Aww .. appo oppa. Ck!” Yesung membeo ucapan Ryeowook dengan kesalnya. “Bisa – bisanya kau memukulku? Bagaimana jika kakakmu yang super tampan ini terluka parah dan harus masuk rumah sakit? Pasti Minnie chagi akan sedih.” Ujar Yesung dengan kenarsisannya.
“Hehehhe, mian ne oppa. Aku pikir kau pencuri!” ujar Ryeowook jujur.
“Mana ada pencuri setampan ini?” ujar Yesung dengan kenarsisannya lagi.
Ryeowook mendengus kesal. “Oh iya, sejak kapan oppa disini?” Tanya Ryeowook penasaran.
Yesung duduk di sofa dengan seenak jidatnya. “Sejak kau dikejar – kejar oleh penagih hutang itu!” ujar Yesung tanpa dosa sambil memainkan handphone-nya. Ryeowook membelalakkan matanya lebar – lebar. Rasanya Ryeowook ingin sekali membunuh kakaknya ini dengan golok atau racun tikus sekalian.
“Kenapa oppa tak membantuku? Kenapa malah enak – enakan di apartemenku huh?” semprot Ryeowook gondok.
“Hei, kau ini! Aku sudah membantumu! Jika tadi aku membukakan pintu apartemenmu ….. apartemenmu pasti sudah hancur dan berantakan seperti wajahmu itu!” ujar Yesung dengan santainya.
“Ooooppppaaaaa … berhentilah menjelek – jelekkan aku. Wajahmu saja abstrak! Aku tak tahu, bagaimana bisa eomma melahirkanmu! Padahal kepalamu itu sangat besar, tapi di dalamnya tak terdapat apa – apa.” Ujar Ryeowook sambil menyilangkan kedua tangannya di dadanya.
“Eh??? Kau bilang apa? Dasar! Yeodongsaeng pendek, kecil, dan punya tubuh yang tak beraturan!” ejek Yesung dengan emosi.
“Mwo? Pendek? Kecil? Tubuh yang tak beraturan?” tanya Ryeowook dengan kesal sambil mendecih.
“Ne. Itu benar. Sangat benar. Kau itu pendek, di dalam sejarah keluarga Kim, kau paling terpendek! Ku pikir sepertinya kau berhenti tumbuh saat kau di SMA. Kau juga kecil! Sudah pendek, kecil pula. Padahal eomma dan appa sebelum meninggal selalu memberikanmu makanan banyak, tapi kau tak besar – besar. Aku sangat khawatir jika kau cacingan! Segeralah pergi ke dokter untuk memeriksakannya, ne? Dan satu lagi!” yesung melirik sekilas tubuh Ryeowook dengan ekpressi meremehkan. “Tubuhmu itu sungguh tak beraturan, bagaimana kau bisa mendapatkan namjachingu yang tampan jika dadamu hanya sebesar itu? Dadamu itu sungguh kecil! Namja yang biasa – biasa saja tak mau melirikmu! Apalagi namja tampan!” ejek Yesung.
Ryeowook mengepalkan tangannya kuat – kuat, hembusan nafasnya mulai tak beraturan. Rasanya kepalanya sudah mulai panas. “Paling pendek? Berhenti tumbuh? Cacingan? Dada kecil eoh ????!!!” ryeowook berhenti sebentar, lalu mengambil nafas. “K E L U A A A A A A A A A R !!!!” teriak Ryeowook sambil menunjuk pintu apartemennya.
Yesung yang melihat aura kemarahan besar dari tubuh Ryeowook dengan langkah seribu langsung berlari keluar dari apartemen Ryeowook.
Brak.
Suara pintu apartemen Ryeowook tertutup. Ryeowook menghela nafas sebentar. Lalu, tiba – tiba Yesung kembali masuk ke dalam.
“Wookie, Ddangkoma ku titipkan disini ne.” Ujar Yesung tanpa rasa berdosa sambil meletakkan kotak kaca kecil yang berisi kura – kura yang bernama Ddangkoma. Setelah meletakkannya, Yesung dengan cepat langsung menutup pintu kembali dan segera pergi.
“Oooopppaaaaaa ……” pekik Ryeowook menahan kekesalannya.
“Aku benar – benar membencimu oppa, bagaimana bisa aku punya kakak sepertimu oppa? Dasar, oppa tak berguna! Menyusahkan! Menyebalkan!” umpat Ryeowook kesal, lalu ia melirik Ddangkoma yang dengan tenangnya dan lambatnya sedang berjalan.
“Sekarang, apa yang kau lihat, huh?” ujar Ryeowook kesal sambil memandang Ddangkoma yang menatapnya.
Setelah itu, Ryeowook mengambil kotak Ddangkoma dan menaruhnya di meja rias. Ia melihat pantulan dirinya, Ryeowook menundukkan kepalanya. “Aku memang pendek dan kecil.” Ujarnya kecewa.
Lalu, ia melihat dadanya. “Apa ini memang terlalu kecil?” ujar wookie dengan galau-nya. Lalu, ia menatap Ddangkoma, dan Ddangkoma menganggukan kepalanya. Kekekkeke xD
Ryeowook yang melihat itu langsung kesal bukan main. “Kau juga bersengkokol dengan pemilikmu yang aneh itu, eoh? Baik! Aku benar – benar membencimu Oppa.” ujar Ryeowook kesal sambil membalikkan badannya dan segera pergi ke kamar mandi.

.
.
.
.

[Di cafe Moi Moi Bee]

Sungmin tengah mengaduk kopi panasnya sambil menopang dagunya dengan tangannya, dan Kibum tengah menatap namja berlesung pipi di pojok cafe dengan sembunyi – sembunyi.
“Ck! Kau benar – benar menyedihkan Bummie. Berhentilah menatapnya Bummie. Kenapa kau tak menghampirinya dan berkenalan dengannya secara formal.” Ujar Sungmin dengan kesal karena jengah melihat tingkah Kibum.
“Mi .. mian eonnie. Neomu mian, a .. a .. aku tak berani.” Ujar Kibum dengan menundukkan kepalanya.
“Ck! Beranilah Bummie, sudah berapa lama kau hanya menatapnya dari jauh huh? Ini sudah 1 tahun setengah dari pertemuan kalian! Sungguh menyedihkan!” ujar Sungmin ketus.
“Aku tahu eonnie, mian ne. Aku benar – benar tak berani.” Ujar Kibum kecewa dan juga menyesal.
“Cih! Sudahlah. Terserah padamu.” Ujar Sungmin kesal.
Sungmin kembali menyeruput kopi panasnya, lalu melirik jam yang terpasang manis di pergelangan tangan kirinya.
“Ck! Sekarang yeoja radio rusak dimana? Dia selalu terlambat! Sungguh menyebalkan! Menyita waktu berhargaku saja!” gerutu Sungmin kesal.
“Mungkin Wookie eonnie sedang di perjalanan, eonnie. Bersabarlah! Dan apa baik memanggil Wookie eonnie dengan sebutan seperti itu?” ujar Kibum dengan takut – takut.
“Ck! Berhentilah menghormatinya seperti itu Kibum. Panggilan itu sungguh menggambarkan dirinya.” Ujar Sungmin dengan nada datar.
“Baiklah.” Ujar Kibum pasrah.
“Oiii ….” pekikan khas Ryeowook yang cempreng dan sangat tak enak di dengar menggema di cafe Moi Moi Bee. Semua mata menatapnya, kecuali Sungmin.
Sungmin memutar matanya kesal, dan Kibum mengembangkan senyumnya.
“Itu Wookie eonnie.” Ujar Kibum senang, dan Sungmin menampakkan wajah jengkelnya. “Tanpa kau beri tahu aku-pun juga tahu.” Ujar Sungmin kesal dan dongkol.
Dengan hebohnya Ryeowook menghampiri Sungmin dan Kibum.
“Anyeoooong … selamat pagi menjelang siang …” ujar Ryeowook dengan ceria.
“Siang ..” jawab Kibum. Lalu, Ryeowook duduk di samping Sungmin.
“Eonnie, aku duduk di sampingmu ne?” ujar Ryeowook. Sungmin memutar matanya kesal. “Tak ku jawab-pun kau sudah duduk di sampingku.” Ujar Sungmin sedikit kesal. Mendengar itu, Ryeowook terkekeh geli.
“Kau ingin pesan apa Wookie eonnie?” tanya Kibum dengan sopan.
“Aku tak ingin apa – apa, aku sudah sarapan tadi.” Ujar Ryeowook dengan tersenyum lebar.
“Oh.” Ujar Kibum ber-oh-ria.
“Jadi kau ingin berbicara apa Wookie?” tanya Sungmin sambil meletakkan secangkir kopi panasnya.
“Oh itu ..” Ryeowook menggaruk tengkuknya yang tak gatal sama sekali.
“Euuung .. ano .. itu … aku pindah apartemen lagi.” ujar Ryeowook dengan nyengir kuda.
“Mwo? Eonnie pindah lagi?” tanya Kibum heran.
“Sudah ku duga.” Ujar Sungmin datar.
“Hehehhehe, ne. Itu benar.” Ujar Ryeowook dengan kekehannya.
“Lalu?” tanya Sungmin datar.
“Hehehhe .. itu .. jadi karena aku sudah keluar dari apartemenku. Tentunya aku harus punya tempat tinggal lagi kan?” ujar Ryeowook berbelit – belit.
“Ne, tentu saja.” Ujar Kibum setuju.
“Kau ingin kami mencarikan apartemen yang nyaman, aman, strategis dan tentunya murah eoh?” tebak Sungmin dengan ketus.
“Hehheh, anio Minnie eonnie.” Ujar Ryeowook sambil menggelengkan kepalanya.
“Lalu, apa eonnie?” tanya Kibum.
“Aku ingin menumpang di tempat kalian.” Ujar Ryeowook. Mendengar itu, Sungmin dan Kibum membelalakkan matanya lebar – lebar.
“Apa eonnie serius?” tanya Kibum tak percaya.
“Apa kau bercanda? Apa kau sudah gila?” tanya Sungmin kesal.
“Anio. Aku benar – benar serius dan kali ini aku tak bercanda. Aku ingin menumpang di tempat kalian dulu. Aku belum gajian, dan uangku semakin menipis, jadi .. aku tak mungkin mencari apartemen. Jadi, ku mohon, ijinkan aku menumpang di salah satu tempat kalian.” Ujar Ryeowook menjelaskan dan meminta ijin.
“Hhohoho, aku tak mau.” Ujar Sungmin. Ryeowook menatap Kibum dengan jurus mata anjingnya.
Kibum menggelengkan kepalanya lemah. “Mian eonnie. Aku tak bisa Wookie eonnie, eonnie-ku tengah datang ke Seoul sekarang. Eonnie tahu kan, kalau apartemenku hanya punya 1 kasur, itu artinya aku tidur dengan eonnieku. Mian ne.” Ujar Kibum menyesal.
Ryeowook langsung mempout bibirnya mendengar jawaban Kibum.
“Ne. Ne. Ne. Baiklah, kau boleh menumpang di tempatku sampai kau mendapatkan gaji. Ne? Sampai kau mendapat gaji! ingat baik – baik itu!” ujar Sungmin pasrah. Ryeowook mengembangkan senyumnya, lalu ia berdiri di kursi dan menatap Sungmin dengan tatapan senang. Semua orang yang melihat Ryeowook, menatap dengan heran
“Ne eonnie. Nde. Aku akan mengingatnya.” Ujar Ryeowook sambil mengangguk – anggukan kepalanya dengan senang.
“G O M A W O O O O Eonnieeee ..” teriak Ryeowook dengan keras, lalu membungkuk pada Sungmin masih di atas kursi. Kekekkeke xD
Sungmin yang melihatnya langsung memejamkan matanya kesal. Ia sungguh malu mempunyai yeodongsaeng seperti ini.

.
.
.
.

[Di Rumah Keluarga Cho]

Ttok ttook ttook ..

“Tuan Muda, waktunya bangun. Anda sudah ditunggu oleh Tuan Besar, Nyonya Besar dan juga Nona Muda.” Ujar seorang pelayang dengan sopan dari luar kamar.
Dan mari kita beralih ke dalam kamar.
Kamar besar yang rapi dan juga mewah, banyak sekali pernak – pernik musik di dalamnya, ada piano, gitar, dan lain – lain.
Seorang namja tampan masih terlelap dalam tidurnya di ranjang besarnya dan yang pasti ranjang itu sangat empuk dan nyaman. Namja itu menggeliat sedikit menedengar sayup – sayup suara ketukan pintu, lalu tidur kembali.
Lalu, beralih ke luar kamar namja itu.
Seorang yeoja muda dan cantik dengan elegan dan berwibawa menghampiri pelayan Shin. “Apa nae namdongsaeng masih belum bangun juga?” tanyanya dengan lembut dan juga sopan.
Pelayang Shin membungkukkan tubuhnya. “Nde. Anda benar Nona Muda Ahra.” Ujar Pelayan Shin sopan.
“Cih! Aku akan membangunkannya.” Ujar Ahra.
Ahra mendekati pintu kamar Cho Kyuhyun, lalu membuka pintu kamar Kyuhyun. Semua orang tahu kalau kamar Kyuhyun tak pernah dikunci, namun tak ada yang berani memasukinya kecuali Appa-nya, Eomma-nya dan juga Noonna-nya.
Dengan langkah berwibawa dan elegan Ahra memasuki kamar Kyuhyun, lalu membuka tirai jendela kamar Kyuhyun sehingga membuat cahaya matahari pagi masuk ke kamar Kyuhyun. Kyuhyun yang merasa terganggu langsung menggeliat. Ahra menyeringai. Dengan secepat kilat Ahra menyibakkan selimut yang membungkus Kyuhyun. “Kyu, kau pakai boxer spongbob lagi eoh?” bisik Ahra di telinga Kyuhyun tepat. Tentu saja Kyuhyun langsung bangun dari tidurnya.
“Nooooonnnaaaaaaaaaa ……………………….” pekik Kyuhyun menggema di kamarnya.
Ahra tersenyum bangga.
Di luar kamar, semua pelayan yang mendengar teriakan Tuan Muda mereka langsung menahan tawa gelinya.
“Jadi? Boxer apa lagi yang Tuan Muda kita pakai?” bisik salah satu pelayan wanita disana pada pelayan wanita di sampingnya. Lalu mereka menahan tawanya kembali.

***

[Ruang Makan Keluarga Cho]

Semua keluarga Cho sarapan dengan tenang, wajah mereka tenang dan berwibawa kecuali si Tuan Muda. Dengan dongkol dan jengkel ia memakan daging di depannya, pasalnya yang duduk di depannya adalah noonna-nya yang sangat menyebalkan menurutnya.
“Jangan pandangi noonna-mu seperti itu Kyu.” Ujar eomma-nya menasehati.
Mendengar itu, Ahra langsung tersenyum menang. Sedangkan Kyuhyun semakin dongkol, tapi ia tak berani membantah.
“Kyu, kapan kau akan mengambil alih perusahaan?” tanya Appa-nya serius.
Kyu menghentikan kegiatan makannya, lalu menghembuskan nafas kesalnya. “Entahlah.” Ujar Kyuhyun cuek.
Semua yang ada di meja makan langsung men-death-glare Kyuhyun. “Hahahha, aku bercanda. Secepatnya Appa, aku akan mengambil alihnya. Tenanglah.” Ujar Kyuhyun.
“Hoh, kau hampir membuat Eomma jantungan, kau tahu?” ujar eomma-nya sambil memegangi dadanya.
“Bagus kalau begitu. Secepatnya, Appa akan menyiapkan kedatanganmu. Persiapkan dirimu baik – baik.” Ujar appa-nya senang.
Kyuhyun mengangguk dengan tersenyum paksa, lalu menundukkan kepalanya untuk memakan makanannya lagi.

.
.
.
.

Siwon meletakkan cangkir kopinya ke meja dengan tenang, lalu ia berdiri dari duduknya dan mengeluarkan uang kertas dan meletakkannya ke meja. Setelah itu, ia segera pergi dari cafe.
Kibum menghembuskan nafas lega saat tiba di meja yang tadi di duduki Siwon. Ia mengambil uang kertas yang tergeletak di meja.
Melihat uang itu, Kibum membelalakkan matanya lebar – lebar. “Kembaliannya ..” ujar Kibum gugup dan juga panik.
Siwon keluar dari cafe Moi Moi Bee dengan santai.
“Enggh … ahjussi … ahjussi …” panggil seseorang dari belakangnya. Siwon membalikkan badannya.
“Ne?” tanya Siwon heran.
“Enggh .. ano .. itu .. kembalianmu.” Ujar yeoja mungil dengan gugup dan juga malu – malu sambil menyodorkan 1 uang koin. Siwon mengambil uang koin itu dengan mengembangkan senyumnya. Dengan secepat kilat, setelah Siwon menerima uang koin itu yeoja mungil itu yang kita kenal sebagai Kim Kibum berlari ke dalam cafe lagi.
Siwon semakin mengembangkan senyumnya, dan tertawa geli. Lalu, Siwon kembali melanjutkan jalannya menuju kantornya.

.
.
.
.

Sungmin keluar dari boutiqe-nya dengan langkah yang anggun. Setelah itu ia mengeluarkan kunci mobil dari tasnya.
“Minnie chagi …” panggil Yesung dengan suara yang dibuat manja di belakang Sungmin tepat.
Sungmin memutar matanya kesal, lalu ia membuka pintu mobil dan masuk ke mobilnya dengan raut wajah yang dongkol.
“Minnie ..” panggil Yesung lagi mencari perhatian Sungmin.
Tanpa ba-bi-bu, Sungmin menutup pintu mobil, namun sebelum pintu mobil tertutup Yesung menahan pintu mobil dengan tangannya agar tak tertutup.
“Mwo?” tanya Sungmin ketus dan juga kesal serta dongkol.
Dengan seenak jidatnya, Yesung malah masuk ke mobil sehingga membuat Sungmin harus menggeser duduknya dari tempat duduk kemudi.
Sungmin mendecih kesal. “Cih! Aigooo .. adik dan kakak sama saja.” Sindir Sungmin.
Mendengar itu Yesung hanya senyum pepsodent.
“Jadi, kita mau kemana Tuan Putri?” tanya Yesung antusias.
Sungmin memutar matanya kesal. “Menurutmu?” ujar Sungmin ketus.
“Menurutku, ayo kita pergi ke gereja. Kita akan menikah secepatnya.” Ujar Yesung sambil menghidupkan mesin mobil. Mendengar pernyataan Yesung, Sungmin memjitak kepala besar Yesung.
“Dasar, namja paboo!” ujar Sungmin kesal.
Yesung tersenyum melihat Sungmin. “Aku paboo karena dirimu! Hanya Lee Sungmin yang memenuhi ruangan otakku. Jadi bagaimana? Apa kau mau menikah denganku?” tanya Yesung lagi tanpa rasa berdosa.
“Cih! Apa kau sudah tak waras lagi? Minggir, aku mau menyetir sendiri!” hardik Sungmin sambil mendorong Yesung.
“Anio .. aku akan mengantarkanmu, kau tinggal menyebutkan tujuanmu saja. Hari ini aku menjadi supirmu.” Ujar Yesung tetep keukeuh.
“Yang benar saja! Cepatlah minggir dan keluarlah! Hardik Sungmin lagi dengan mendorong tubuh Yesung.
“Anio .. aku tak mau!” ujar Yesung keukeuh.
“Ku bilang keluar!” pekik Sungmin.
“Anio!”
“Keluar!”
“Anio.”
“Cepat. Keluar sekarang!
“Anio …”
Sungmin menghela nafas kesal. Lalu, ia merubah wajah kesalnya menjadi wajah sok imut. “Yesunggie .. Minnie mohon kau keluar ne? Minnie akan ada rapat penting, jadi Yesunggie tak boleh ikut ne. Jadi, apa Yesunggie mau keluar sekarang? Nanti Minnie-mu ini akan terlambat jika kau tetap disini. Kelaur ne ..” ujar Sungmin dengan manis dan mengedipkan matanya lucu.
Yesung yang melihatnya langsung membelalakkan matanya tak percaya dengan senyuman mengembang, bagai di hipnotis Yesung mematuhi perintah Sungmin.
Setelah Yesung keluar, Sungmin pindah ke tempat duduk kemudi. Saat Sungmin akan menutup pintu mobil, Yesung menahannya lagi.
“Ada apa lagi?” tanya Sungmin lembut.
“Bisakah kau memberikan aku ini.” Ujar Yesung sambil memonyongkan bibirnya.
Sungmin langsung menampar wajah Yesung dan segera menutup pintu lalu melajukan mobilnya.
Yesung dengan bahagia dan senyum mengembang menyentuh bekas tamparan Sungmin di pipinya.
“Itu ku anggap sebagai jawaban tidak. Tapi, lain kali aku akan mendapatkannya.” Ujar Yesung dengan bahagia.

.

.

.

.

 

TBC

 

Kekekekke , gimana ceritanya chingu – deul?

Masih bingung enggak sama jalan creitanya?

Mohon review-nya ne chingu – deul.

Typo bersebaran enggak? Soalnya aku gak langsung nge-edit. Kekekekk, biasanya juga gitu xD plak

Mian buat update-nya yang sekarang udah enggak rajin T^^T

Neomu mian ne 😥

Gomawo.

Pai – pai chingu – deul.

With LOVE! ~Frisca Freshtie

There Is Story

Gambar

Pairing : KyuWook
Rate : T
Genre : Oneshot, Romance, Hurts/Comfort, Genderswitch, Friendship, Abal, Gaje, Failed
Author : Frisca Freshtie
Cast :
• Cho Kyuhyun (Namja)
• Kim Ryeowook (Yeoja)
• Lee Sungmin (Yeoja)

H A P P Y R E A D I N G
.
.
.
.
There Is A Story
.
.
.
.

Ingin aku ungkapkan, tapi aku tak bisa!
Ingin aku nyatakan, tapi aku tak sanggup!
Ingin aku jujur, namun terlalu sulit untukku!
Ingin aku berhenti, tapi ada sesuatu yang menahanku!
Bohong? Itu hanya membuat diriku tersiksa!
Apa yang harus aku lakukan?
Hanya memandanginya dari kejauhan seperti ini terus?
Tapi sampai kapan?
Aku juga terlalu takut jika suatu saat nanti ia mengetahui yang sebenarnya tentang aku yang selalu memperhatikannya.
Bahkan, aku tak berani menyapanya, apalagi mendekatinya.
Itu sungguh tak mungkin, apalagi aku berharap ia melihatku.
Sungguh angan – angan yang terlewat tingginya.
Dia seperti bintang.
Kita tak bisa meraihnya. Namun kita terus berusaha dan berusaha untuk mencobanya.
Tapi bukankah bintang bisa jatuh ?
Perasaan ini menyiksaku.
Ini sungguh melelahkan.
Aku tak ingin mengaguminya dengan cara seperti ini. Sungguh pengecut!
.
.
.
.

“Berhentilah memandanginya Ryeowook. Kenapa kau tak menghampirinya, lalu kau bilang padanya jika kau menyukainya? Mudah kan?” tanya Sungmin yang duduk disampingku sambil menatapku dengan heran yang tak bergerak sama sekali. Aku terus memandang ke luar jendela. Melihat reaksiku, dia mendengus kesal. Segera dia merapikan buku – buku yang berserakan di meja kami. Aku mendesah putus asa. “Memangnya semudah kau buang air kecil? Huh! Tidak! Tidak semudah itu Minnie! Aku juga ingin seperti itu, tapi aku tak bisa. Jika sudah berada di dekatnya, rasanya jantungku berhenti berdegup. Dan aku sulit sekali untuk memalingkan wajahku dari wajahnya. Tak ada namja yang seperti dia.” Keluhku sambil menopang dagu dan menatap keluar kejendela, maksudku lebih tepatnya memandanginya.Aku terus memandanginya yang sedang membaca buku di koridor dekat kelasku. Dia memang selalu melakukannya setiap pulang sekolah dan saat istirahat sekolah.
Dia. Cho Kyuhyun, anak kelas XI IPA A yang begitu pendiam dan misterius. Dan aku tak tahu apa yang membuatku selalu memperhatikannya. Sungmin selalu mengatai diriku gila karena katanya semenjak aku menyukai Kyuhyun. Aku selalu memandanginya dan aku bisa bertahan sampai berjam – jam saat istirahat hanya untuk melihatnya tak melakukan apapun, maksudku hanya melihatnya membolak – balikkan lembar – lembar buku yang ia baca. Sepertinya aku memang sudah sinting atau mungkin tak waras! Kyuhyun tidak seperti remaja laki – laki lainnya yang sangat senang bermain basket atau permainan lainnya untuk dipamerkan pada seluruh anak perempuan di sekolah. Kyuhyun lebih tenang dan berwibawa, menurutku. Dan tentunya tampan dan juga keren.
“Kim Ryeowook? Kau mau pulang bersamaku atau tinggal menetap di sekolah untuk terus menatap Kyuhyun dari sini?” teriakan Sungmin menyadarkan aku. Ah! Sial. Sungmin terlalu kencang bicara, sampai – sampai Kyuhyun menoleh ke arah kelasku dari tempatnya membaca. Dengan secepat kilat aku segera menggeser tubuhku, agar tidak terlihat Kyuhyun. Lalu, kubekap mulut Sungmin sambil bersembunyi di balik tembok dekat pintu.
“Aaaah, kau ini! Jangan keras – keras, nanti Kyuhyun tahu, Minnie!” bisikku geram. Aku bisa mendengar Sungmin menggumamkan sesuatu. Dari pancaran matanya, aku bisa melihat ia meminta untuk dilepaskan bekapannya. “Asal kau tak mengulanginya lagi Minnie!” ancamku padanya. Ia mengangguk – anggukkan kepalanya pertanda setuju. Ku lepas bekapanku. “Kena kau! Akan ku beritahu si namja aneh itu tentang semuanya! Semuanya! Bleeeee …..” Ujar Sungmin sambil berlari meninggalkan aku sambil tertawa dan tak lupa menjulurkan lidahnya padaku. “Miiiinnniiieeeee …..” umpatku geram. Aku segera merapikan buku – buku yang masih berserakan di meja dan memasukkannya ke tasku secepat mungkin. Lalu, segera kususul Sungmin keluar kelas. Aku takut ia benar – benar memberitahukannya pada Kyuhyun.
Saat aku keluar kelas, aku melihat Kyuhyun masih dalam posisi yang sama seperti tadi. Syukurlah, Sungmin tak jadi memberitahunya tentang perasaanku yang sebenarnya pada Kyuhyun. Aku segera melewati Kyuhyun seperti tak terjadi apa – apa, aku melewatinya begitu saja.
Akhirnya aku tiba di tempat parkir siswa. Ku tolehkan kepalaku ke kanan ke kiri untuk mencari keberadaan Sungmin, sahabatku dari kecil. Aku masih mencarinya, hingga akhirnya aku mendengar suara tawa yang sangat ku kenal, siapa lagi kalau bukan Sungmin. Ia meninggalkan aku begitu saja sambil melajukan motornya. Aku memanyunkan bibirku saking kesalnya karena telah ditinggalkan Sungmin, dan dengan seenak jidatnya yang seperti lapangan penerbangan di bandara Seoul itu malah tertawa senang melihat sahabatnya ini kesal.

.
.
.
.
Ketika takdir mulai bermain dengan kehidupanmu, kamu tak akan tahu apa saja yang akan mengejutkanmu.
Sekarang, takdir tengah memainkanmu.
Dan ia akan memberikanmu kejutan – kejutan yang akan menuntunmu menemukan sesuatu yang hilang dari dirimu.
.
.
.
.

Kerikil, batu, bahkan daun keringpun aku tendang saat berjalan pulang kerumah. Perjalanan yang begitu panas dan melelahkan. Dalam hatiku aku terus merutuki dan berkata sumpah serapah pada Sungmin. Aku sungguh kesal dengan sikapnya tadi yang sungguh kekanak – kanakan.
“Sial! Ini untuk kau Sungmin, yeoja yang menyebalkan!” ku tendang sebuah kerikil dengan penuh tenaga. Lalu kutendang lagi kerikil yang lain. “Ini untuk diriku yang begitu pengecut!” pekikku. Lalu kuambil 1 kaleng minuman yang tergeletak di jalan dan ku taruh di depanku. Lalu kutendang kaleng itu dengan sekuat tenaga. “Ini untuk …. eeeeeeh .. sepatuku …..!!!!” Sepatuku terbang melayang ke udara. Ya ampun, memalukan sekali. Aku memukul – mukul kepalaku sendiri karena saking kesalnya dengan kecerobohanku.
Pluk ….
“Awwww.” Ku dengar sepatuku mendarat dan aku juga mendengar suara ringisan seseorang di belakangku. Aku langsung menutup mulutku dengan tanganku. Aku langsung panik, aku takut jika orang yang terkena sepatuku marah. Tanpa pikir panjang, aku segera berlari kencang. “Aaaaah … kabuuuur ..!”

.
.
.
.
Kami tersenyum, kami menangis, kami tertawa.
Dan kami selalu bersama.
Sebuah hubungan tanpa ikatan yang membelenggu di hati kami.
TEMAN
.
.
.
.

Keesokan harinya, aku menceritakan semuanya pada Sungmin dengan serinci – rincinya tentang kejadian kemarin. “Waahahhaahhahaha, kau sangat konyol dan ceroboh! Kekekekkek .. kau sunggun bodoh Ryeowook!” tawa Sungmin menggelegar tak karuan setelah mendengar tentang kejadian kemarin di kelas. Tapi ini bukan saatnya tertawa terbahak – bahak seperti itu. Sungmin benar – benar tidak sadar jika sekarang masih dalam pelajaran guru Park yang terkenal akan killernya. Aduh bodohnya kau Sungmin! Aku lebih bangga menjadi gadis yang ceroboh daripada gadis yang bodoh sepertimu. Aku biarkan Sungmin tertawa dan ku sembunyikan wajahku pada lenganku yang terlipat.
“Lee Sungmin !!!!” panggil guru Park dengan aura mistis yang menyelimuti suaranya. Sungmin langsung berhenti tertawa. “Aduh … ampun guru Park!” Sungmin meringis saat telinganya ditarik seperti karet keluar kelas.
“Pelajaranku bukan pelajaran tertawa. Jadi jika kau ingin belajar tertawa, kau boleh tertawa di kamar mandi sekolah sambil menyikati kerak – kerak yang ada disana!” ujar guru Park datar. Semua temanku dan termasuk aku langsung seperti robot, tak berani menentang apalagi menatap guru Park, kami menyibukkan diri sendiri dengan membaca buku pelajaran.

.
.
.
.
Aku terus berjalan mengarungi kehidupanku.
Banyak wajah yang ku temui di setiap langkahku.
Tapi hanya 1 yang spesial untuk diriku.
KAMU
.
.
.
.

Akhirnya bell pulang sekolah terdengar. Namun, Sungmin masih belum kelihatan batang hidungnya. Aku merutuki diriku sendiri karena kesalahanku menceritakan kejadian kemarin saat pelajaran guru Park berlangsung sehingga Sungmin dihukum gurur Park. Ku bawa tas Sungmin sambil mencari – cari keberadaan sahabat karibku itu.
“Hei! Hei! Hey, yeoja berjaket biru! Berhenti!” panggil seseorang dari belakang. Aku mengedarkan pandanganku ke sekelilingku, disini yang berjaket biru hanya aku seorang. Aku segera membalikkan badanku untuk melihat siapa yang memanggilku tadi.
Aku membulatkan mataku saat melihat Kyuhyun yang memanggilku. Aku langsung menelan ludahku. Aku sangat gugup. Aku belum siap berada di dekatnya. Tanpa pikir panjang aku segera berlari dan menghiraukan panggilannya.

.
.
.
.
Terlalu rumit jika kau mempertanyakan ‘Mengapa’
Karena banyak sekali alasan yang akan datang.
Dan aku tak akan mempertanyakan garis kehidupan dan takdir yang telah ditulis apik oleh Yang Maha Kuasa.
.
.
.
.

Akhirnya aku tiba dirumah. “Eomma, aku pulang!” ucapku senang sambil menghempaskan tubuhku ke sofa. Aku melihat kardus sepatu di meja, aku langsung mengulum senyum lebar. “Eomma, apa kau membelikan aku sepatu?” tanyaku senang. “Aah .. tidak! Itu sepatu dari temanmu tadi, katanya itu milikmu!” teriak mama dari dapur. Aku mengerutkan dahiku. Siapa yang mau dengan cuma – cuma membelikan aku sepatu. Tanpa pikir panjang aku langsung membuka kardus sepatu itu dengan tergesa – gesa. Aku membelalakkan mataku tak percaya. “Bukankah ini sepatuku yang kemarin hilang?” gumamku masih tak percaya.

.
.
.
.
Suatu hari nanti.
Aku yakin. Pangeran berkuda putihku akan datang menjemput diriku.
Suatu hari nanti.
Aku akan mendapatkan sebuah bintang jatuh dari hamparan langit malam yang indah.
Suatu hari nanti.
Aku akan menjadi seorang putri yang pemberani.
Dan suatu hari nanti.
Takdir akan mempertemukanku pada pemilik hatiku.
.
.
.
.

Hari ini aku berangkat sekolah seperti biasa, aku berangkat bersama Sungmin. Selama perjalanan aku menceritakan tentang kembalinya sepatuku yang hilang kemarin padanya. Akhirnya, kami tiba di kelas. Tak seperti biasa, pagi ini Kyuhyun tak kelihatan batang hidungnya di koridor kelasku. Bahkan sampai jam istirahat-pun, aku masih belum melihatnya. Akhirnya aku memberanikan diri untuk bertanya pada Donghae, teman sekelas Kyuhyun. Donghae bilang, Kyuhyun tidak masuk hari ini tanpa keterangan. Teman sekelasnya tak ada yang tahu. Aku tak bisa tersenyum, aku sungguh khawatir. Aku tak bisa memungkiri jika aku menyukainya dan aku sangat memperhatikannya.
Siangnya, selepas pulang sekolah aku dan eommaku pergi menjenguk halmeoniku di rumah sakit. Setelah menjenguk halmonie, eomma menyuruhku untuk pulang dulu karena eomma ingin menginap. Akhirnya, aku keluar dari rumah sakit. Saat aku keluar dari ruangan tempat halmeoniku di rawat, aku melihat seseorang yang sangat aku rindukan. Iya, dia! Dia! Dia Kyuhyun. Ia tengah duduk di kursi roda dan memandang taman rumah sakit. Entah mengapa, aku meneteskan air mataku dengan mengulum senyum senang. Entahlah, aku tak tahu apa yang terjadi dengan diriku.
“Kyuhyun ..” panggilku.

.
.
.
.
Ketika takdir mulai menampakkan bentuknya.
Semua jawaban – jawaban yang kau pertanyakan mulai bermunculan.
Dan disaat itulah, kau akan mendapatkan sesuatu yang hilang dari dirimu.
.
.
.
.

Sekarang, kami berdua tengah duduk di bangku taman rumah sakit.
“Kamu sakit apa, Kyu?” tanyaku memberanikan diri memulai percakapan kami, karena sedari tadi kami hanya diam menatap taman. Ia menatap lurus taman dengan mata yang tak bisa aku artikan.
“Saat aku memanggilmu, kenapa kamu berlari?” tanyanya dengan kecewa. Aku menggigit bibir bawahku, aku harus jujur atau bohong padanya. Akhirnya, aku putuskan untuk jujur. Sekarang adalah waktunya untuk jujur tentang semuanya, termasuk perasaanku padanya.
“Euung .. aku sangat gugup berada di dekatmu dan aku belum siap.” Ucapku jujur.
“Kenapa seorang Kim Ryeowook yang ceria dan ceroboh bisa gugup berada di dekatku?” tanyanya sambil mengulum senyumnya.
“Kau mengenalku? Ku kira kau hanya tahu tentang bukumu itu.” Tanyaku tak percaya. Aku segera membekap mulutku karena kebodohanku, kenapa aku bisa mengeluarkan kalimat itu. Pasti dia marah.
“Oh, buku itu. Aku hanya senang membaca buku, tapi aku tetap memperhatikan orang – orang di sekitarku.” Ucapnya tenang. Apa dia juga tahu kalau selama ini aku memperhatikannya ? Sungguh menyedihkan, jika ia mengetahuinya. Rasanya aku tak sanggup lagi untuk bertemu dnegannya.
“Jadi kenapa kau gugup berada di dekatku? Apa yeoja sepertimu menyukai namja aneh sepertiku yang hobinya hanya membaca buku?” tanyanya sambil memandangku lekat – lekat. Aku menelah ludah keringku. “Euung … euuung .. aku .. aku .. bagaimana menjelaskannya?” ucapku kikuk sambil menggaruk – garuk tengkukku yang sama sekali tidak terasa gatal.
“Haha, tidak usah kau jelaskan juga tidak apa – apa. Aku hanya bercanda.” Kyuhyun kembali menunjukkan senyum manisnya padaku, bahkan ia lebih ceria dari yang tadi. Sungguh luar biasa, aku tak pernah melihatnya tersenyum senang seperti ini sebelumnya.
“Lalu, apa yang kau lakukan disini? Maksudku kau sakit apa?” tanyaku ingin tahu.
“Ehm .., bagaimana ya menceritakannya?” ujarnya sambil memandang langit yang biru.
“Tak apa jika kau tak ingin mengatakannya. Itu bukan suatu masalah yang besar bagiku.” Ucapku berbohong, sebenarnya aku ingin sekali mengetahuinya.
“Ehm .., 2 tahun yang lalu aku kecelakaan. Saat mataku terbuka, aku tak sendiri. Sunny sahabatku juga terluka saat kejadian itu. Tapi Sunny terluka lebih parah dariku dan pada akhirnya ia tak bisa diselamatkan. Ia meninggal .” ujarnya sambil menunduk. Aku tahu itu pasti berat, entah mengapa aku mengelus – elus pundak Kyuhyun mencoba menegarkannya. “Kyuhyun.” Lirihku menyesal karena bertanya seperti itu tadi.
“Setelah kecelakaan itu, aku terkena penyakit jantung. Bahkan untuk berlari saja aku tak bisa, apalagi bermain basket? Aku juga tidak bisa makan di kantin karena aku hanya makan makanan khusus, bubur yang tidak ada rasanya. Haha, menyedihkan bukan? Tapi itulah kenyataannya. Aku mencoba menikmati keadaanku yang seperti ini, walaupun sangat sulit.” Lanjut Kyuhyun sangat tegar.
“Lalu, bagaimana dengan Kim Ryeowook? Apakah ia masih suka dengan hmmmmm .. Cho Kyuhyun anak kelas XI IPA A yang pendiam dan misterius itu?” ujar Kyuhyun sambil menahan tawanya. Aku langsung panik. Bagaimana bisa ia tahu tentang itu!
“Ba ba ba ba bagaimana kau bisa tahu?” tanyaku tergagap – gagap.
“Sungmin yang memberitahuku.” Ucapnya dengan santai. Aku langsung bergumam sendiri menggerutu dan juga menyumpah serapah untuk Sungmin karena sudah ember.
“Berhentilah menyukaiku.” Ujarnya datar.
Aku yang sibuk bergumam sendiri langsung membelalakkan mataku. “Kenapa?” tanyaku kecewa dan sedih.
“Lebih baik kau berhentik menyukaiku, karena aku tak pantas untuk disukai oleh Ryeowook yang selalu ceria. Keceriaanmu akan hilang hanya karena menyukai namja sepertiku.” Jelasnya.
“Aku tak bisa.” Lirihku sambil meneteskan air mata.
“Mungkin ini terdengar terlalu aneh. Tapi jujur, aku tidak bisa berhenti menyukainya. Tidak perduli ia tak sekalipun menyukaiku. Tapi aku Kim Ryeowook dari kelas XI IPA B yang ceroboh dan bodoh akan tetap menyukai Cho Kyuhyun anak kelas XI IPA A yang tidak melakukan apapun saat istirahat. Cho Kyuhyun yang selalu membaca buku di koridor dekat kelasku. Cho Kyuhyun yang tak seperti namja lainnya yang lebih suka membaca buku daripada bermain basket. Cho Kyuhyun yang membuat seorang Kim Ryeowook merasa hari – harinya hampa karena tak melihat seorang Cho Kyuhyun duduk di dekat kelasnya. Kim Ryeowook akan tetap menyukai Cho Kyuhyun yang seperti itu.” Ucapku jujur, entah mengapa setelah aku mengatakan itu, aku meneteskan banyak butiran air mata. Aku menangis tanpa suara.
“Kenapa harus menyukai seseorang seperti itu?” lirih Kyuhyun.
“Sungguh Kyuhyun, aku tak memintamu untuk membalas perasaanku. Aku hanya ingin kau tahu.” Ujarku masih dengan bercucuran air mata sambil mengulum senyumku walau terlihat aneh.

.
.
.
.
Dalam diam ini, aku sangat menikmatinya.
Walau itu hanya 1 jam, 1 menit dan bahkan itu hanya 1 detik-pun.
Aku akan tetap menikmatinya.
Karena bersamamu adalah bagian dari kehidupanku.
.
.
.
.

Sejak saat itu, setiap pulang sekolah selalu menyempatkan diri untuk menjenguk Kyuhyun. Sebenarnya aku tak ingin terlalu sering menjenguknya. Bukan karena aku tak ingin, justru aku sangat senang berada di dekatnya. Aku hanya tak ingin Kyuhyun berpikir jika aku begitu memintanya untuk membalas perasaanku. Tapi, karena Kyuhyun yang memintaku untuk menemaninya, dan inilah alasan kenapa aku selalu menjenguknya setiap hari.
Belakangan, aku tahu. Bahwa orang yang terkena sepatuku adalah Kyuhyun dan Kyuhyun juga yang mengembalikan sepatuku. Sebenarnya Kyuhyun ingin mengembalikan sendiri padaku, tapi saat dia memanggilku aku malah berlari. Kekekkeke :p
Sudah aku putuskan! Aku tak bisa berhenti menyukainya. Aku akan menyukai Kyuhyun sampai kapanpun. Meskipun aku tak tahu sampai kapan. Aku juga tak akan memaksanya untuk menyukaiku. Aku hanya ingin mengikuti kata hatiku.

.
.
.
.
Sungguh menyakitkan mencintai seseorang yang tak mencintaimu.
Tapi, lebih menyakitkan jika mencintai seseorang dan kamu tidak pernah memiliki keberanian untuk menyatakan padanya.
Cintailah seseorang itu atas dasar siapa dia sekarang, bukan dia sebelumnya.
Kisah silam tak perlu diungkit. Kiranya kamu benar – benar mencintainya, cintailah dirinya dengan sepenuh hati.
Tak perlu menjadi sempurna hanya karena ingin dicinta. Yang kamu butuh hanya seseorang yang tahu kekuranganmu, tapi tetap ingin bersamamu.
.
.
.
.

E N D
.
.
.
.

Hehehehhe .. gimana chingu-deul ????
Kalian suka enggak sama Oneshot aku yang abal ini? Mian, kalau ada yang kecewa dengan endingnya. Dan aku gak mau buat sequel-nya ah. –“
FF yang sonoh belon kelar xD
Tiba – tiba ajah aku pengen buat oneshot kayak gini malem ini. Kekekkekke :p

Oneshot ini terinspirasi sama FF Justin Bieber di wattpad. Aku kan belieber xD keekkek, kalo disini maennya sama FF korea, disana maennya sama FF Justin 😀

Oh iya, FF yang ‘I’m Sorry, I Can’t Be Perfect’ udah mau tamat. Mungkin tinggal 2 chapter lagi bakalan selesai. :’)

Last!
Review ne 😉
With Love! ~ Frisca
Pai – pai