Freaky Love 1

Frisca Freshtie Present …

cats

~ Freaky Love ~

.

.

.

.

KyuWook

Cho Kyuhyun – Kim Ryeowook

GS

Inspired by Kana Nishino songs

(Sequel ‘Instruction Manual’)

DLDR

Happy Reading!!!

.

.

.

.

Chapter 1 : If My Fated Really Exist

Inspired by Kana Nishino Songs ‘Moshimo Unmei no Hito ga Iru no Nara

Note : Tanda (~) miring, berarti suara hati Ryeowook

.

.

.

.

~ Freaky Love ~

.

.

.

.

~Setiap menit, setiap detik, bahkan sekarang pun. Aku yakin ada seseorang, entah di mana, sedang jatuh cinta, dan menjalin kasih hanya dengan satu orang yang ditakdirkan untuknya.~

***

Ryeowook sedari tadi memandang ke luar jendela, mengandai – andai apa yang tengah dilakukan orang – orang di luar sana. Ia mengulum senyum aneh ketika berandai kalau dirinya sekarang berada di luar sana, tengah bersama seseorang yang dipilihkan Tuhan untuknya, ia penasaran apa yang sedang ia lakukan jika itu benar terjadi. Mungkinkah ia sedang melakukan kencan yang indah atau mungkin sedang bermanja ria dengan pasangannya?

Sekarang ia sudah naik kelas ke tingkat dua di SM High School. Tahun ini ajaran baru tapi ia tidak merasa ada yang baru sama sekali. Ya walaupun banyak teman baru yang ia kenal karena setiap kenaikan kelas, sekolahnya selalu mengacak siswanya, tapi dia tetap saja merasa berada di kelas lama. Tidak ada yang berubah. Semua temannya tetap menatapnya dengan pandangan yang err~ sudah biasa bagi dirinya, mereka semua menganggap dirinya itu aneh. Tapi tak mengapa, ia tak begitu memasukkan kata – kata dan sikap mereka, selagi mereka tidak melakukan pembullyan yang ekstrim mungkin seperti melemparinya batu atau berniat membunuhnya. Untuk informasi saja, dia-Kim Ryeowook-suka jika dibilang aneh. Ya karena menurutnya dirinya memang aneh. Untuk apa menyangkal sebuah kenyataan? Ia selalu berkata seperti itu jika teman – temannya bertanya kenapa dirinya tak pernah marah sama sekali dibilang aneh. Bersyukur sekali, karena kesadarannya ini membuatnya menjadi tidak begitu diasingkan oleh teman – temannya, maksudnya seperti di drama – drama yang ia tonton, gadis aneh yang sering sekali dibully sangat ekstrim dan diasingkan tanpa teman. Untung saja ia tak pernah dijambak, dibegal, atau disiram air, ataupun yang lain – lain. Teman – temannya hanya suka mengatainya aneh dan menatapnya dengan pandangan tak habis pikir, bingung, dan terkesima (?) mungkin.

Untuk sekarang, lupakan fakta bahwa dirinya aneh. Ada yang lebih penting dari ini.

JODOH.

Iya, jodoh! Jodohnya!

Seingatnya ia sudah menapaki planet bumi ini selama 17 tahun dan ia sama sekali belum pernah menemukan jodohnya. Apa dia terlahir tanpa jodoh di dunia ini? Tapi itu tidak mungkin, menurut kebanyakan novel romansa yang ia baca, setiap manusia diberikan Tuhan satu orang yang akan menjaganya dan menemaninya sampai mereka kembali pada pemilik hidup ini. Kecuali kalau jodohnya sudah mati sebelum bertemu dengannya. Ah tidak, tidak. Kalaupun memang iya, Tuhan pasti memberikan penggantinya bukan? Jadi itu tidak mungkin jika ia tak mempunyai jodoh. Positif thinking saja.

Mengalihkan pandangannya dari luar jendela, ia mengarahkan mata hitam pandanya menatap anak – anak sekelasnya. Mengingat ini jam kosong, semua temannya mulai membuat kelompok – kelompok sendiri, saling bicara, bergossip, bercanda, bermain, atau berdiskusi dan berdebat tentang hal remeh temeh sampai yang berbobot. Hanya dirinya saja yang tidak ikut bergabung, bukan karena dia tidak punya teman. Kalau ia mau mereka juga akan menerima dirinya bergabung walaupun pada akhirnya dia akan menjadi bahan bullyan mereka. Dia bukannya membenci mereka, ia sudah terlalu kebal dengan yang namanya pembullyan. Ia sudah terbiasa dengan pembullyan dari kecil.Ia tahu mereka hanya bercanda mengatakannya. Ia hanya saja tidak terlalu senang dengan banyak orang, ia tidak suka berbicara dengan seseorang yang tidak begitu dekat dengannya.

Ngomong – ngomong tentang jodoh dan teman, Ryeowook ingat bahwa di dalam kelasnya, walaupun baru masuk ajaran baru. Tapi dikelasnya sudah ada dua pasangan yang terjebak cinta lokasi, dan juga banyak yang sudah mempunyai pasangan, entah berbeda kelas atau berbeda sekolah.

Ia tampak membuat ekpressi berpikir lucu, bergumam tak jelas kemudian mulai berandai – andai lagi sambil meletakkan kedua tangannya dimeja dengan rapi dan duduk dengan tegak seperti sedang memperhatikan guru yang tengah mengajar. Senyum anehnya muncul kembali.

.

.

.

~Aku ingin laki – laki yang keren dan menyenangkan. Dia juga harus lebih tinggi dariku dan punya senyum yang manis. Ah… Banyak maunya, tapi akhirnya perempuan itu hanya jatuh cinta pada laki – laki yang disukainya. Seperti itu ‘kan yang namanya cinta?~

***

“Ryeowook.”

Ia menatap laki – laki yang ada didepannya dengan tersenyum aneh, pemuda itu hanya diam sambil memberikan ekpressi datar. “Formulir?”

Tatapan tak mengerti ia lontarkan pada pemuda itu membuat pemuda itu menarik nafas dalam. “Formulir biodata yang dibagi kemarin Ryeowook.” Pemuda itu memjiat pelipisnya.

Mulai mengerti dengan apa yang dimaksud pemuda itu, Ryeowook segera mengambil kertas formulir yang ada ditasnya dengan gerakan cepat kemudian menyerahkan pada pemuda itu.

Pemuda itu menaikkan satu alisnya dengan mata datar.

“Kau bercanda?” dengusnya tak habis pikir. “Isi cepat. Hwang seongsangnim sudah menunggu.” Jelas pemuda itu sambil mengembalikan formulirnya yang ternyata masih kosong membuat Ryeowook dalam hati tertawa walaupun ia tak memperlihatkannya.

Gadis itu mengangguk – anggukan kepalanya mengerti, tanpa pikir panjang ia segera mengisi formulir itu.

“Sudah.”

Ia menyerahkan formulirnya pada pemuda itu dengan tersenyum aneh seperti biasa. Melihat punggung pemuda itu yang semakin menjauh dan hilang di balik pintu kelas, gadis itu meringis kecil.

.

.

.

~Namun, sudah sejak lama. Laki – laki yang aku sukai, tidak menyukaiku balik. Orang yang aku pikir baik, ternyata sudah mempunyai pacar.~

***

Pemuda tadi namanya Wu Yifan. Ryeowook pernah menyukainya. Dan ia juga pernah menyatakan perasaannya pada pemuda tinggi itu. Hanya saja terkadang cinta tidak bisa harus berakhir happy ending seperti dikebanyakan novel – novel romansa yang ia baca. Semenjak mengenalnya pertama kali, Ryeowook memang langsung menyukainya. Pemuda tinggi itu pendiam dan juga pintar, bahkan terkadang begitu terkesan misterius. Ia menyukai laki – laki misterius seperti tokoh utama yang sering dibacanya di novel – novel romansa yang mengisahkan tentang percintaan gadis bodoh yang ceroboh dengan pemuda misterius yang dingin. Ia benar – benar menyukainya. Dulu, ketika ia memikirkan kalau dirinya bersanding dengan Yifan, mungkin mereka bisa menjadi pasangan yang sempurna. Tapi itu dulu. Lain dengan sekarang. Ryeowook memang menyukainya, tapi setelah penolakan pemuda itu ia sadar bahwa Yifan mungkin bukan jodohnya. Karena menurut pandangannya dari cerita – cerita yang ia baca, seseorang yang benar – benar jodohmu akan selalu berusaha untuk bersamamu dan akan memperlakukannmu dengan istimewa. Dan gadis bermata caramel cerah itu tidak menemukannya sama sekali di diri pemuda tiang listrik itu. Bahkan pemuda itu sebelum atau sesudah penyataannya tak pernah meliriknya sama sekali, berbincang remeh temehpun tak pernah, hanya berbicara yang penting – penting saja seperti tadi. Sebenarnya sikapnya itu bukan untuknya saja, bahkan semua orang di kelas diperlakukannya seperti itu. Jadi dia tentu saja tak bisa menyebutnya dengan istimewa bukan? Kecuali kalau Yifan memperlakukan seperti itu hanya untuknya itu berarti dia istimewa, tapi berhubung memang seperti itu sifatnya jadi ia membuang jauh – jauh kata jodoh untuk pemuda itu.

“Hei! Anak jerapah!”

Ryeowook mengulum senyum anehnya menatap pemuda riang yang ada didepannya sekarang. Pemuda itu tersenyum lebar padanya.

“Sudah mengerjakan tugas dari Lee seongsangnim, wookie?” pemuda itu jongkok, menyamakan dirinya dengan posisi duduk gadis itu.

Ryeowook mengangguk antusias layaknya anak anjing yang akan diberi makan.

Pemuda itu memasang ekpressi kecewa. “Kenapa? Kenapa sudah?”

“Ck! Sayang sekali kalau begitu. Padahal aku ingin mengajakmu untuk mencontek bersama ke kelas sebelah. Aku benar – benar kecewa kau tahu.” Imbuhnya sedikit kesal.

Gadis itu memasang raut wajah prihatin sambil berdecak ria menggemaskan. “Ck ck ck ck.”

“Kau itu lucu ya?” komentar pemuda itu sambil menunjukkan senyum lebarnya kemudian berdiri. “Baiklah kalau begitu, aku pergi mencontek dulu ya panda.” Gadis itu membalas senyuman pemuda itu, kemudian pemuda itu pergi meninggalkannya.

Ryeowook menghembuskan nafasnya melihat pemuda itu dengan setengah berlari meninggalkan kelas mereka. Bukannya dirinya kecewa atau bagaimana, tapi dia hanya merasa kenapa dunia begitu tidak adil? Orang yang ia pikir baik dan mungkin bisa menjadi jodohnya ternyata sudah memiliki jodohnya sendiri. Ia memang baru mengetahuinya seminggu yang lalu kalau pemuda itu-Lee Donghae namanya-tengah menjalin hubungan dengan Lee Hyukjae, gadis tomboy dan jago dance yang ada di kelas sebelah. Ia pikir perlakuan Donghae yang terlihat begitu istimewa dimatanya ternyata hanya sebatas perlakukan antarsahabat menurut pemuda itu. Pemuda itu bilang dia begitu berbeda dan lucu dari yang lain oleh karena itu pemuda itu senang sekali bergaul dengannya. Membuat kesal saja sebenarnya, tapi mau bagaimana lagi? Donghae juga bukan jodohnya sepertinya.

.

.

.

~Kalau yang namanya jodoh itu memang benar ada. Kalau yang namanya takdir dipertemukan itu memang benar nyata. Sedang singgah dimana jodohku ini sebenarnya? Mungkinkah, dia selalu berada di dekatku? Atau mungkin juga dia berada jauh di seberang samudera sana? Baiklah. Aku akan terus menunggu, hingga tiba harinya dia akan menjemputku.~

***

Bunyi bel istirahat terdengar menggema di kelas – kelas dan juga lorong sekolah yang sekarang mulai ramai karena berhamburnya siswa – siswa dari dalam kelas. Ryeowook ikut keluar kelas, membawa bekalnya dan berjalan menuju taman dekat lapangan basket sekolah yang mulai ramai karena banyak siswa laki – laki mulai bermain basket disana walaupun masih mengenakan seragam sekolah bukan seragam olahraga.

Ia duduk di salah satu bangku di bawah pohon cherry blossom yang kebetulan mulai berbunga. Ia duduk sendiri. Siswa – siswi yang lain sepertinya tidak berniat untuk duduk dengannya, lagipula ia juga tak ingin membagi bangku ini kalau boleh jujur. Ia lebih suka menghabiskan bekalnya dengan ketenangan sambil memandangi sekeliling.

Sambil mengunyah kimchinya, pandangan matanya selalu berkeliling memandangi orang – orang. Mereka terlihat begitu bahagia, apalagi untuk pasangan – pasangan yang berkeliaran disana sambil mengumbar romantisme mereka mengabaikan makhluk mengenaskan seperti dirinya ini. Jujur saja, ia iri. Ia cemburu. Ia juga ingin menghabiskan bekalnya dengan orang lain, laki – laki istimewa lebih tepatnya yang sering ia sebut dengan nama jodoh.

Semakin cepat mengunyah kimchinya, matanya berhenti pada seorang laki – laki yang tengah berada di balik jendela kelas di tingkat dua. Sepertinya itu kelas disebelahnya. Laki – laki itu terlihat tengah tidur. Bukan pemandangan aneh sebenarnya, memangnya jam istirahat tidak boleh tidur di kelas apa? Ia hanya berpikir saja, bagaimana laki – laki itu bisa tidur dalam suasana berisik seperti itu. Bukan mitos lagi kalau suasana jam istirahat itu sudah seperti pasar. Benar – benar orang yang luar biasa menurutnya mengingat kalau setiap ia makan di bangku ini selalu menemukan laki – laki itu tertidur dikelasnya.

Mengedarkan pandangannya kembali, bola matanya berhenti di lapangan basket. Kaum hawa yang mengerumuni lapangan terlihat bersorak – sorak mendukung laki – laki kesukaan mereka. Suara nyaris melengking itu begitu terdengar ketika salah satu dari yang bermain basket dapat mencetak poin.

Pikirannya mulai melayang, kira – kira sekarang dimana keberadaan jodohnya? Apa ada di kerumunan itu? Apa salah satu laki – laki yang tengah bermain basket disana? Atau salah satu teman sekelasnya? Ataukah jodohnya bukan berasal dari daerah ini? Dari kota lain misalnya? Atau malah dari luar negeri sana? Dia berharap itu Jepang. Sebenarnya ia mengidolakan Furukawa Yuki, aktor tampan dari negeri Sakura sana semenjak menonton dorama Itazura Na Kiss Love In Tokyo kira – kira dua tahun yang lalu.

Ia menatap langit cerah berwarna biru dengan dihiasi gumpalan – gumpalan putih berbagai bentuk dengan tersenyum seperti biasa. Baiklah, ia sudah memutuskan untuk menunggu saja. Tidak menutup kemungkinan kalau jodohnya mungkin saja dari luar negeri. Jadi dia harus bersabar sampai jodohnya menemukannya disini.

.

.

.

~Memang sih, aku ingin laki – laki yang baik. Itu sudah pasti. Tapi kalau hanya baik saja… Ah. Meskipun dia berkata “Kau ikut denganku ya.” Tapi kalau aku diam, tandanya aku tidak ingin ikut. Aku ini sebegini keras kepalanya, yah?~

***

Ia menutup bekal makanannya, kemudian pergi menuju kelasnya yang berada di lantai dua. Jarak dari taman sampai lantai dua memang agak jauh tapi setidaknya itu lebih baik daripada harus menghabiskan makanannya di kelas atau di kantin. Disana terlalu berisik, lagipula dirinya menyukai alam jadi tentu saja taman menjadi opsi pilihan pertama. Sepanjang perjalanan tentu saja ia disuguhi banyak pemandangan, dari beberapa murid yang bergerombol bergosip atau bercanda ria. Lalu kemudian aksi pembullyan yang setiap hari hampir tidak absen dari penglihatannya. Dan juga pemandangan dari banyak pasangan yang memadu kasih seenak jidat mereka. Pemandangan itu setiap hari selalu disuguhkan, membuat dirinya terkadang jengkel juga apalagi ketika moodnya sedang tidak baik atau saat ia datang bulan.

Melewati lorong panjang menuju kelasnya, ia melambatkan langkah kakinya. Mengintip isi semua kelas dari kelas 2A yang paling ujung sampai ke kelasnya, itu sudah menjadi kebiasannya semenjak kelas satu. Ada kesenangan tersendiri jika melihat isi kelas seangkatannya, ia jadi bisa melihat berbagai orang dengan sifat yang berbeda – beda. Terkadang saat ia akan tidur, ia memikirkan kesamaan seseorang dari teman sekelasnya dengan temannya yang ada di kelas yang lain, kemudian ia mulai membandingkannya dan kemudian tertidur dengan sendirinya.

Kelasnya tinggal melewati satu kelas lagi, kelas disebelahnya ini terkenal dengan kehebohannya. Dari lima kelas yang berjejer ini semuanya setuju kalau kelas 2D yang paling berisik. Bahkan seringkali guru menegur mereka. Ia melirik sebentar ke dalam kelas itu, seperti biasa kelas itu benar – benar gaduh. Ada yang saling kejar – kejaran tidak jelas, bercanda dengan nada yang ia yakin menggunakan oktaf yang tinggi, saling menjahili satu dengan yang lain, ah benar – benar kelas yang tidak bisa diajak untuk kompromi saat bad mood. Ia jadi merasa beruntung berada dikelasnya sekarang, kalau ia menjadi salah satu dari murid di kelas itu. Mungkin saja sekarang ia sudah uring – uringan dengan teman sekelasnya. Ngomong – ngomong tentang kelas itu, ia jadi teringat laki – laki yang sering tidur di jam istirahat. Ia masih berpikir keras kenapa laki – laki itu bisa tenang – tenang saja tidur dimana suasana sungguh tidak mendukung sama sekali. Apa laki – laki itu termasuk dalam tipe orang yang bisa tidur di sembarang tempat dan di sembarang suasana? Itu benar – benar mengagumkan walaupun menurutnya sedikit aneh. Ia melirik ke dalam kelas lagi lewat jendela kaca yang bersyukurnya tidak ditutup oleh gorden sehingga ia bisa leluasa melihat ke dalam kelas.

“Oh dia sudah bangun.” Gumamnya tanpa sadar sambil terus berjalan dengan melihat bangku yang kosong.

Memasuki kelasnya pertama kali, ia langsung disambut dua temannya. Mereka tersenyum lebar dengan kilatan mata cerah.

“Hei Wookie, kau ada acara untuk minggu ini?” tanya Sungmin.

Ia menggelengkan kepalaku sambil memasang senyum kasual seperti biasa.

“Ah bagus sekali! Ayo ikut kami untuk pergi ke festival.” Seru Heechul dengan semangat.

“Ya, benar. Ikutlah dengan kami. Semakin banyak orang semakin baik bukan?” lanjut Sungmin ceria.

Ryeowook kembali menggelengkan kepalanya pertanda menolak.

“Kenapa? Kenapa tidak mau?” tanya mereka hampir bersamaan.

Gadis mungil itu hanya mengedikkan bahunya menjawab pertanyaan mereka.

“Kau tidak tahu?” tanya Heechul bingung.

“Aku malas.” Jawab gadis itu singkat.

“Tidak, tidak. Ikut saja Wookie. Nanti Henry bisa menjemputmu, dirumahmu. Iya kan Henry?” ujar Sungmin sambil melirik Henry. Pemuda itu tersenyum manis sambil menganggukan kepalanya pada Ryeowook.

“Kau tinggal sebutkan dimana rumahmu, nanti aku akan menjemputmu. Kau ikut ya?” tambah pemuda itu dengan ramah.

Dan gadis itu hanya diam. Ia benar – benar tidak ingin ikut walaupun mendapatkan tumpangan gratis kesana.

.

.

.

~Yang penting itu hatinya. Baru sekali bertemu, bagaimana bisa tahu. Semangatnya juga penting. Yah, kalau itu sih, aku tak bisa mengelaknya.~

***

Haripun berlanjut seperti biasa. Kali ini ia tidak ingin memakan bekalnya di taman. Tiba – tiba saja ia ingin memakan bekalnya di atap. Mungkin ia akan mendapatkan sesuatu yang menyenangkan disana. Ia berharap atap tidak begitu ramai, malah kalau bisa sepi itu semakin menyenangkan lagi.

Menapakkan kaki kanannya terlebih dahulu di atap, langkahnya terhenti. Di ujung sana, ia melihat seorang pemuda tengah berhadapan dengan seorang gadis berambut sebahu. Ia tidak dapat melihat wajahnya begitu jelas karena jarak yang terlalu jauh dan posisi mereka yang setengah memunggungi dirinya, tapi ia yakin pemuda itu satu angkatan dengannya sedangkan si gadis adalah adik kelasnya.

Entah kenapa kedua kakinya menggiring tubuhnya untuk mendekat dengan langkah pelan, ia yakin mereka tak melihatnya saking seriusnya dengan pembicaraan mereka mengindahkan rasa ketidaksopanan yang ada, lagipula ia benar – benar penasaran. Walaupun jarak mereka agak jauh, tapi ia dapat mendengar pembicaraan mereka mengingat di atap hanya ada mereka berdua dan tentu saja dengan dirinya saja.

“Aku pikir aku menyukaimu Kibum, sejak pertama kali kita bertemu kemarin.” Ungkap pemuda itu, raut wajah lega terukir disana. Adik kelas itu terlihat tegang kemudian menundukkan kepalanya, mungkin terlalu shock dengan pernyataan pemuda itu.

“Aku pikir..” kata – katanya menggantung sebentar, mungkin ia sedang memikirkan sesuatu. “aku juga sunbae.” Lanjutnya lagi sambil memberanikan diri menatap pemuda dihadapannya.

“Cih .. itu tidak mungkin kan?” gumamnya dengan suara benar – benar pelan, kemudian membalikkan tubuhnya untuk menjauh.

“Kalau aku, aku akan menolaknya. Lagipula aku tidak tahu dia bersungguh – sungguh padaku atau tidak.” Gumamnya lagi. Ini benar – benar membuatnya mual, bagaimana bisa seseorang dapat mengetahui kalau ia suka dengan seseorang pada satu kali pertemuan. Apa ada yang bisa menjelaskan? Sepengetahuannya rasa suka tidak bisa muncul tiba – tiba, itu butuh proses. Bahkan di cerita – cerita yang ia baca juga kebanyakan mengungkapkan seperti itu.

“Heh! Berhenti!”

Suara bass itu seketika membuatnya mau tak mau berhenti.

“Kau mendengarnya?” tanya pemuda itu dengan nada kesal.

Ryeowook hanya diam, kemudian membalikkan tubuhnya menatap pemuda itu yang sekarang sudah menggenggam tangan si gadis yang menundukkan kepalanya malu.

“Aku bawa bekal. Kalian mau?” tawarnya dengan senyuman aneh miliknya.

Pemuda itu dengan kesal menarik si gadis untuk pergi darisana, “aku harap kau tidak ember.” Ujar pemuda itu sambil melemparkan tatapan menusuk padanya yang hanya ia tanggapi dengan cuek.

Si gadis membungkuk padanya, mungkin memberikan hormat padanya atau mungkin meminta maaf. Entahlah, ia tak begitu paham.

Sekarang, tinggal dirinya saja yang berada di atap. Ah memikirkannya membuatnya senang, ia melangkahkan kakinya menuju pembatas. Memakan makanannya disana sambil melihat – lihat keadaan di bawah. Baiklah, ia tak menyangka pemandangannya akan lebih bagus kalau dari atas. Ia bisa melihat semua murid yang tengah berkeliaran di bawah.

“Oh, dia tidak tidur hari ini.” Ujarnya spontan melihat laki – laki sebelah kelasnya yang selalu tidur di jam istirahat sedang duduk di bangku taman sambil membaca buku.

***

~Kalau yang namanya jodoh itu memang benar ada. Kalau yang namanya takdir dipertemukan itu memang benar nyata. Kapan gerangan jodohku ini tiba? Menurut ramalan, seharusnya kemarin, atau mungkinkah besok? Mungkin lusa? Atau mungkin juga tahun depan? Aku akan terus menunggu, hingga tiba harinya dia akan menjemputku.~

***

Hari berikutnya, ia kembali memakan bekalnya di atap sambil memandang langit yang cerah. Nanti setelah makan ia baru memandangi anak – anak di bawah. Sekarang, perhatikan saja langit dengan awan yang berjalan pelan disana. Sinar matahari tidak begitu panas, tapi tetap saja dapat membakar kulit jika tidak memakai lotion atau sun block.

Gadis itu menghembuskan nafas beratnya sambil menatap langit.

“Kira – kira kapan pangeran putihku tiba?”

“Aku ingat – ingat di dalam majalah kemarin mengatakan kemarin. Tapi tidak muncul juga?” ia mendengus sebentar tanpa mengalihkan pandangannya dari langit yang cerah.

“Jadi kapan?” tanyanya gemas sendiri.

Seulas senyum mengembang diwajahnya. “Bersabar sepertinya penting. Aku menunggumu.”

***

~Setiap menit, setiap detik, bahkan sekarang pun. Waktuku untuk dipertemukan dengannya mungkin semakin dekat. Aku bermimpi, kelak suatu hari bisa bersama dengan orang yang ditakdirkan untukku.~

***

Ryeowook memandang keluar jendela, hari ini cuaca berangin. Daun – daun bergemerisik saling bergesekan satu sama lain karena ulah angin yang berhembus, walaupun tidak terlalu kencang tapi cukup membuat daun – daun yang menua di pohon jatuh berguguran ke tanah.

Ah kalau suasana seperti ini cocok sekali untuk berawang – awang. Benar – benar mendukung.

Ia ingin tahu kapan ia akan bertemu dengan jodohnya, tapi perasaannya mengatakan kalau dalam waktu dekat ini ia akan bertemu dengan jodohnya. Dan jika itu memang terjadi, mungkin daftar percintaan yang ia buat bisa segera dilaksanakan. Baru memikirkannya saja sudah membuatnya senang, tersenyum tidak jelas lebih tepatnya menurut teman – teman yang sekarang tengah memperhatikannya.

“Kim Ryeowook?” oh itu terdengar seperti suara laki – laki dewasa.

“Ya?” seulas senyum bertengger diwajahnya.

“Bisa bersihkan toilet sekarang juga?” oh itu suara Park seongsangnim, guru matematikanya.

“Nde.” Jawabnya dengan mengangguk polos dan segera pergi keluar dengan tersenyum aneh. Melenggang pergi seperti tanpa beban sama sekali, malah terliat bahagia. Baiklah, keanehanmu sekarang tidak berlaku untuk kalangan murid saja Kim Ryeowook. Gurupun sekarang sudah mengecapmu sebagai murid yang aneh.

.

.

.

~Kalau yang namanya jodoh itu memang benar ada. Kalau yang namanya takdir dipertemukan itu memang benar nyata. Sedang singgah dimana jodohku ini sebenarnya? Aku selalu ada di sini, sudah mulai lelah menunggumu.~

***

Sehabis membersihkan toilet, Ryeowook tidak langsung masuk ke kelas. Ia malah melangkahkan kakinya menuju taman. Duduk di bangku kesayangan sambil menatap sekeliling, menunggu jam mengajar Park seongsangnim selesai. Sebenarnya, bisa saja setelah ia membersihkan toilet langsung bergegas menuju kelas dan meminta izin agar bisa ikut pelajaran. Tapi ia sedang tidak ingin. Lagipula matematika adalah pelajaran yang tidak ia sukai.

Ia heran kenapa ia belum juga bertemu dengan jodohnya. Seharusnya diumurnya sekarang, ia sudah mulai berkencan dengan seseorang. Menghabiskan waktu luang bersama dan saling memberi perhatian satu sama lain. Tapi kenapa sampai sekarang ia belum juga menemukannya?

Ia selalu disini, ia bahkan tidak pindah ke luar kota atau ke luar daerah. Tapi kenapa belum juga ia ditemukan oleh pangeran kuda putihnya?

Menurut beberapa cerita yang ia baca, jodohmu akan menemukanmu ditempatmu walaupun matanya terpejam. Dan ia meyakininya. Ia yakin jika sudah ditakdirkan bersama pasti mereka mempunyai intuisi yang tersambung. Ia yakin sekali tentang ini.

Tapi melihat banyaknya pasangan disekitarnya, Ryeowook tak yakin dengan penantiannya. Ia sudah benar – benar lelah. Bahkan saat ia akan membersihkan toilet ia memergoki pasangan yang sedang berciuman tanpa sopan di dekat toilet. Mentang – mentang lorong toilet sepi dan mereka seenaknya saja berciuman seperti itu. Membuatnya panas saja. Lebih tepatnya iri.

.

.

.

~Kudengar dari kabar angin, katanya ada gadis yang telah dipertemukan dengan jodohnya lagi. Terus menunggumu, tanpa kepastian hingga tiba harinya, kau akan menjemputku.~

***

Ryeowook memandang gadis – gadis yang tengah bergosip di depannya, dari yang ia tangkap mereka tengah membicarakan salah satu kakak kelas yang mendapatkan teman seangkatannya, kalau tidak salah teman seangkatannya itu bernama Leeteuk.

Kata mereka, Leeteuk sangat beruntung karena mendapatkan kakak kelas itu karena kakak kelas itu adalah mantan ketua osis yang dulu. Ia terkenal dengan keramahannya dan juga kebaikan hatinya. Siapa yang tidak tergila – gila dengan laki – laki seperti itu?

Ah kabar angin ini benar – benar semakin membuat luka di dalam hatinya semakin lebar. Rasanya ingin pergi ke pulau terpencil saja yang tidak ada penghuninya, jadi ia tak perlu melihata atau mendengar tentang ini semua.

“Oh hobinya memang tidur.” Ujarnya ketika menangkap laki – laki itu lagi – lagi tidur dengan kepala yang menghadap ke luar jendela.

“Kau minus berapa?” tanya seorang perempuan yang tiba – tiba saja sudah duduk disampingnya sambil menatapnya heran.

Aku mengangkat keempat jari tangan mungilnya pada perempuan itu. Kemudian membenahkan kacamatanya yang sedikit melorot.

“Pantas saja.”

Mendengar komentar perempuan itu membuat Ryeowook menyipitkan matanya, dan kemudian membelalakkan matanya kaget. “Mungkinkah?”

.

.

.

~Sepertinya… aku tidak bisa menunggu selama itu.~

***

Kelas sudah berakhir, tapi ia masih betah untuk berlama – lama dikursinya memikirkan banyak hal yang membuatnya senang hari ini. Ia menatap papan tulis yang kini sudah bersih dengan senyuman simpul yang terlihat aneh.

Pemuda itu selalu melihatnya kan?

Dia juga sering melihatnya walaupun tanpa sengaja atau disengaja.

Saat ia melihat pemuda itu duduk di bangku taman kala itu, mungkinkah pemuda itu mencarinya?

Ah oleh karena itu, ia sering merasa diperhatikan. Mungkinkah pemuda itu?

Oh iya, ia baru teringat kalau nama pemuda itu Kyuhyun, Cho Kyuhyun. Ia sering mendengar nama itu dari teman – teman perempuannya yang menceritakan bagaimana tampan dan kerennya pemuda itu, terlebih lagi pemuda itu mengikuti klub matematika di sekolah dan sudah banyak memenangkan lomba.

Membayangkannya saja kenapa pipinya sudah terasa memanas? Ini benar – benar buruk. Bisakah ini dinamakan takdir?

Berlama – lama di kelas yang kosong seperti ini hanya akan membuatnya semakin memanas dan akan semakin banyak memikirkan sesuatu yang mungkin saja faktanya tidak seperti itu. Bagaimana kalau langsung saja menanyakannya? Mungkin saja laki – laki itu belum pulang. Bergegas merapikan peralatan sekolahnya, ia segera keluar berniat menemui pemuda itu bermodal keyakinan.

Jantungnya terasa terpompa dua kali lebih cepat. Kakinya seperti terpatri dengan lantai sekolah. Ia memang terkejut, tapi dirinya lebih dominan ke bingung. Dia benar – benar bingung akan ini semua. Ia baru saja memikirkannya dan berniat untuk menemuinya dan sekarang pemuda ini sudah berada dihdapannya, tepat didepannya bahkan beberapa centi dari tubuhnya.

“Oh ya Ampun, kau membuatku terkejut sekali.” Ucap Kyuhyun dengan memegangi dadanya.

Ia diam, masih berpikir bagaimana bisa ini terjadi.

Takdir, ini mungkin saja takdir pikirnya hingga membuat seulas senyum berkembang diwajahnya. Namun pikirannya itu harus dipatahkan dengan sikap diam pemuda itu, pemuda didepannya ini terlalu lama diam, ia jadi ragu apakah ini benar takdir.

Melawan segala keyakinannya, akhirnya ia memilih untuk pergi saja. Mungkin saja ini hanya kebetulan semata.

“Tunggu!”

Ia menyipitkan matanya dengan ekpressi bingung, apa yang ingin pemuda ini katakan padanya?

“Ada yang ingin aku katakan padamu.”

Dia mengangguk – anggukan kepalanya antusias menunggu apa yang akan terlontar dari Kyuhyun.

Kyuhyun menghirup udara sebentar, kemudian menatap matanya dengan tatapan yang entah kenapa membuatnya mati rasa. Hanya bisa menatap matanya yang menatap matanya dalam.

“Aku sudah beberapa lama melihatmu, mungkin kau akan menganggapku gila. Tapi entah sejak kapan aku mulai tertarik dengan kehidupanmu. Bagaimana sifatmu, apa yang kau sukai, atau apapun yang menyangkut dirimu. Aku rasa~” Kyuhyun memberikan jeda sebentar tanpa mematahkan tatapan dalam miliknya pada Ryeowook. “Aku menyukaimu Kim Ryeowook.”

Ia diam tanpa kata, ekpressinya masih sama seperti tadi, rasanya benar – benar mati rasa. Bahkan otaknya juga terasa mati, ia tak bisa berpikir atau mengatakan apapun. Akhirnya ia menundukkan kepalanya dan diam tak memberikan tanggapan sama sekali. Ia benar – benar senang karena pikirannya benar dan sepertinya pemuda ini benar – benar jodohnya!!!

Ini takdir. Benar. Ini takdir yang ia tunggu – tunggu selama ini!

“A-apa kau juga mempunyai rasa yang sama?”

Pertanyaan pemuda itu membuatnya memain – mainkan kaki kecilnya di bawah sana. Ia benar – benar senang, bahkan senyumannya-pun harus ia sembunyikan dengan menundukkan kepalanya karena takut jika terlihat aneh di depan Kyuhyun.

“Apa kau tidak bisa memberikan jawaban padaku walaupun hanya mengangguk atau menggelengkan kepalamu?!” tanyanya dengan sedikit penekanan.

Baiklah, jantungnya semakin cepat saja memompa darahnya. Rasanya ia sudah tidak kuat lagi berada di depan pemuda ini. Mata caramelnya bergerak menelusuri lorong kelas yang sepi mencoba menetralisir detak jantungnya yang hampir menggila.

“Ya atau tidak?” ulang Kyuhyun.

Ia menarik telapak tangan kanan pemuda itu dan memberikannya pensil yang ia buat sebagai penggulung rambut cepolnya dan kemudian berlari meninggalkannya.

Ya, dia menyukaimu juga. Rasanya dia ingin berteriak mengatakannya. Tapi tidak! Ia ingin kau bersabar sebentar. Karena ia ingin membuat ‘Instruction Manual’ untuk Cho Kyuhyun.

~ The End ~

.

.

.

.

Hai semuanya *0*)9 Alhamdulillah bisa balik lagi ke blog aku dengan bawa oleh – oleh ep-ep gaje lagi xD plak

Gimana kabar kalian? Maaf malah buat ff chapter lagi :3

Ini sequel ‘Instruction Manual’, udah bisa kejawab kan pertanyaannya? atau masih belum? masih ada chapter yang lain kok dengan lagu yang berbeda – beda tapi tetep berkesinambunga. ^^

Saranghae

Advertisements

8 comments

  1. Frisca ini ff nya kurang panjang ..
    Ini epilog dri ff instruction manual kan?
    Lucu ya liat tingkah wook yang nungguin ucapan majalah tentang jodoh dia😂
    Lanjutkan friscaa kenapa end😁

  2. Wookie jones dan akhirnya dapatin kyu tapi masih malu2 jg. Hihihi ciyee.. frisca balik ke blog. Kngen frisca,, udah lama lu gak kunjungi blog lu. Oh ya, tiponya masih ada. Ada nama cast lain disini..😆 tpi ceritanya tetap sweet sprti biasa. Kirain tdi Kyu memang cuma tidur kerjaannya trnyata diam2 mengamati wookie. Wookie sih matanya minus jadi gak peka kan.. hahaha oke fris ditunggu ff lainnya

    1. Iye balik setelah dekem gak jelas xD plak. Eh iya?? Ini soalnya aku buat buka main cast.nya kyuwook. Tapi huntao #pundung ngilang soalnya melalang buana ke tanah couple orang :’v #ketahuan makasih banyak yak ^^

  3. kekeke eonn bingung awal baca nya ini sequel ff apa dan rada lupa sama serita awal nya.keke mungkin karena kelamaan ngga baca.jd nanti eonn mau baca lagi cerita awalnya.
    tp sequel nya menarik dengan kyu yang tiba2 menyatakan cintanya,eonn kira wook yang akan nembak kyu duluan kekekeke eh ternyata.
    lanjut frisca faightingggg….

  4. akhir’y nongol jg…
    aihh wookie yg jones.. akhir’y dptin kyu jg…
    ayo lnjutt. jnga lama” atuh..
    fighting 💪💪

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s